showpoiler-logo

Sinopsis dan Review Film The Kissing Booth 3 (2021)

Ditulis oleh Dhany Wahyudi
The Kissing Booth 3
2.1
/5
showpoiler-logo
PERHATIAN!
Artikel ini mengandung spoiler mengenai jalan cerita dari film/drama ini.

Elle dan Lee berusaha menikmati liburan musim panas terakhir mereka sebelum menempuh jenjang pendidikan berikutnya di universitas. Tapi tidak mudah menciptakan “the best summer holiday ever” dengan banyaknya polemik yang melingkupi hari dan hati Elle, termasuk asmaranya dengan Noah, persahabatannya dengan Lee, hubungan dengan keluarganya, dan juga kembalinya Marco.

The Kissing Booth 3 menjadi penutup dari rangkaian film berseri andalan Netflix yang dirilis pada 11 Agustus 2021. Syuting film yang dilakukan secara back-to-back dengan film keduanya di Afrika Selatan membuat tidak banyak perubahan sehingga kita masih merasakan kontinuitas yang lekat.

Jadi penasaran bagaimana Elle mencari solusi dari masalahnya yang menumpuk? Simak review kami berikut ini.

Baca juga: The Kissing Booth 2

Sinopsis

Sinopsis

Elle, Noah, Lee dan Rachel menikmati road trip selepas kelulusan. Setelahnya, Elle masih belum memutuskan hendak kuliah dimana, di Harvard bersama Noah, atau di Berkeley bersama Lee.

Mereka kemudian memutuskan untuk menghabiskan sisa liburan musim panas mereka di rumah pantai milik orang tua Lee yang sebenarnya hendak dijual. Mereka menawarkan diri untuk membantu penjualannya.

Padahal sebenarnya mereka benar-benar menikmati liburan di rumah pantai dengan berpesta-ria. Ketika tenggat waktu penerimaan mahasiswa baru di Berkeley sudah tiba, Elle akhirnya memilih Harvard agar bisa selalu bersama Noah.

Lee sakit hati karenanya, tapi Elle berjanji akan menjadikan liburan ini sebagai yang terbaik dalam hidup mereka dengan melakukan semua yang ada di bucket list.

Elle yang sibuk bekerja di café demi mengumpulkan uang untuk kuliah, bertemu Marco yang bekerja di wahana air selama liburan. Sementara Chloe dan keluarganya datang ke Los Angeles dan diizinkan menginap di rumah pantai oleh Noah. Sedikit banyak, kehadiran kembali Marco dan Chloe cukup memanaskan tensi hubungan mereka.

Bahkan ketika Noah tidak mau membantu Lee dan Elle mewujudkan bucket list mereka, Marco hadir menggantikan posisi Noah yang membuatnya marah. Dalam balapan go-kart, mereka saling beradu otot, tapi balapan dimenangkan oleh Marco.

Ketika Marco datang ke pesta hari kemerdekaan, Noah membalasnya saat pertandingan voli dan memicu keributan dimana Marco memukul Noah.

Masalah dalam hidup Elle tidak hanya karena Noah dan Lee saja, ada orang baru yang hendak masuk ke keluarganya, yaitu Linda, kekasih ayahnya. Semua masalah memuncak dan membuat emosi Elle tidak tertahankan lagi dengan menghardik Linda di depan semua orang.

Noah menyadari jika sebenarnya Elle sudah diterima di Berkeley tapi tetap memilih Harvard deminya. Noah kemudian memutuskan untuk memgakhiri hubungannya dengan Elle karena tidak mau menjadi alasan kesalahan dalam hidup Elle di masa depan.

Elle pun tidak bisa memenuhi semua bucket list-nya dengan Lee yang membuat Lee kecewa, tapi kemudain Elle marah kepada Lee yang dianggapnya masih bersifat kekanak-kanakan dalam memandang hidup dan hubungannya dengan orang lain.

Ibu Noah datang menemui Elle untuk memberikan wejangan bahwa Elle selama ini memilih sesuatu hanya karena ingin membuat hati orang lain senang, bukan karena pilihannya sendiri. Oleh karena itu, inilah saatnya Elle memilih jalan hidupnya sendiri.

Elle meminta maaf kepada Linda dan menerimanya dalam hidup keluarga. Lee dan Rachel memutuskan berpisah karena tidak bisa melakukan LDR.

Sebelum berpisah, Elle, Noah dan Lee membuat foto bertiga yang sama dengan foto mereka saat masih kecil dan menghadiahkannya kepada ibu Noah dan Lee yang menjadikannya membatalkan untuk menjual rumah pantai yang penuh kenangan masa kecil Elle dan Lee.

Elle kemudian memilih untuk kuliah di University of Southern California jurusan desain gim, sesuai minatnya. Enam tahun kemudian, Elle sudah mengembangkan gim sendiri, Lee dan Rachel jadian kembali dan memutuskan untuk menikah setelah lulus kuliah.

Sedangkan Noah belum memutuskan tawaran dari dua firma hukum. Akhirnya, Elle dan Noah menyusuri jalanan dengan membawa motor masing-masing.

Jawaban dari Semua Pertanyaan

Jawaban dari Semua Pertanyaan

Langsung menyambung kisah dari akhir film sebelumnya, tentunya The Kissing Booth 3 akan menjawab semua pertanyaan yang ada di benak kita, salah satunya adalah akan kemana Elle melanjutkan pendidikannya.

Tapi untuk menjawabnya tidak mudah dan akan menimbulkan konsekuensi yang besar karenanya. Di awal film, Elle memilih ke Harvard agar bisa bersama Noah.

Tapi setelah melewati berbagai pertarungan hati, dan juga fisik, yang mengorbankan banyak hal dalam hidupnya sekaligus mengajarinya untuk menjadi dewasa untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.

Elle akhirnya tidak memilih ke Harvard juga ke Berkeley, tetapi dia mendaftar ke University of South California yang akan memulai kuliah di semester berikutnya. Bagi kalian yang bucin dengan kisah cinta Elle dan Noah bersiap kecewa, karena cinta mereka harus berakhir, meski di adegan paling terakhir mereka terlihat melakukan road trip dengan motor bersama.

Kehadiran Marco dan Chloe tidak lain hanyalah untuk semakin memperumit cerita yang sepertinya sengaja ditumpuk-tumpuk untuk memicu tensi emosi supaya tinggi.

Penuh Referensi Jadul untuk Generasi Milenial

Penuh Referensi Jadul untuk Generasi Milenial

Elle dan Lee adalah sahabat yang memiliki keunikan tersendiri. Bagi remaja yang berada di tahun 2021, mereka tampak kurang kekinian, justru masih terkurung di dalam nostalgia masa kecilnya.

Buktinya, mereka lebih memilih mewujudkan bucket list dengan referensi jadul daripada terus menjalani hidup ala generasi milenial.

Mereka berdua melakukan lomba meminum minuman dingin hingga otak mereka membeku, menyanyi di karaoke dengan menghirup helium dari balon, melakukan aksi flash mob, bahkan hingga balapan go-kart dengan menggunakan kostum Mario Bros.

Rasanya semua itu memang terlalu jadul bagi generasi sekarang, tapi bisa dimaklumi jika masa kecil mereka diperkirakan di akhir 2000an.

Akhir dari Sebuah Era, Awal untuk Segalanya

Akhir dari Sebuah Era, Awal untuk Segalanya

Inti cerita The Kissing Booth 3 ini memang bukanlah tentang cinta, tetapi lebih kepada pendewasaan diri untuk menghadapi masa depan dengan pilihan sendiri. Naskah yang ditulis oleh sutradara Vince Marcello dan Jay Arnold ini lebih mengedepankan hal itu dan justru mengorbankan cinta Elle dan Noah yang sudah dibina sejak dari film pertamanya.

Jalan cerita yang terlalu menumpuk masalah membuat kisah film dengan durasi 1 jam 52 menit ini seakan-akan rumit, padahal sebenarnya tidak begitu. Sebenarnya semua bisa selesai dengan baik tanpa masalah apabila Elle berkata jujur dari awal dan tidak menyembunyikannya demi bisa membuat semua orang senang, sedangkan dirinya kesusahan.

Tapi jika jujur dari awal, cerita apa nanti yang ingin ditampilkan? Sayangnya, eksekusi film ini sama seperti dua film sebelumnya, tidak ada yang spesial dan semua tampil dalam skala hampir mendekati standar.

Mungkin fans setia film ini tidak akan setuju, tapi memang trilogi ini tidak meninggalkan kesan apa-apa setelah kita selesai menontonnya. Apalagi ditambah dengan penurunan performa dari Joey King dan Jacob Elordi.

King tampak kelelahan dan tidak seoptimis sebelumnya, sedangkan Elordi tidak menampilkan ekspresi yang lebih baik seperti sebelumnya. Hanya Joel Courtney yang stabil dengan sikap kekanak-kanakannya dan sepertianya dia sangat menikmati perannya di ketiga film ini.

The Kissing Booth 3 tampil layaknya film liburan musim panas yang sedikit terlambat dan kurang bersemangat. Semua terlihat lesu, mungkin karena nuansa itu yang ingin diciptakan oleh sutradaranya.

Tidak ada perbaikan berarti sebagai film penutup trilogi, termasuk sinematografinya, apalagi semua yang ditampilkan terkesan klise. Film ini hanya wajib ditonton oleh fans sejatinya saja.

cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram