logo web

Sinopsis dan Review Bullet to the Head, Duet Hitman dan Detektif

Ditulis oleh Dhany Wahyudi
Bullet to the Head
2.5
/5
showpoiler-logo
PERHATIAN!
Artikel ini mengandung spoiler mengenai jalan cerita dari film/drama ini.

Seorang pembunuh bayaran dan detektif dari luar kota harus berjibaku untuk mengalahkan musuh yang sama. Dengan niat balas dendam, keduanya menelusuri informasi sembari menghindari pengejaran dari pembunuh bayaran tangguh yang juga memiliki dendam kepada mereka.

Bullet to the Head adalah film action karya Walter Hill yang dirilis oleh Warner Bros Pictures pada 1 Februari 2013. Memadukan Sylvester Stallone yang sudah menua dengan Sung Kang yang sedang naik daun berkat tampil di franchise Fast & Furious, sepertinya film ini akan menghadirkan adegan aksi yang seru.

Apalagi ditambah Jason Momoa sebagai lawan tangguh mereka. Membawa nuansa 1980an, apakah ini film yang tepat bagi Sylvester Stallone untuk kembali beraksi? Simak review berikut untuk mengetahui apa saja yang menjadi kelebihan dan kekurangan film yang hanya meraih penghasilan sebesar $9 juta ini.

Sinopsis

sinopsis Bullet to the head_

Di New Orleans, Jimmy Bobo dan rekannya membunuh mantan polisi korup Hank Greely dan membiarkan Lola hidup. Beberapa waktu kemudian, Louis Blanchard, rekan Jimmy, dibunuh oleh Keegan yang sebenarnya ingin membunuh Jimmy juga.

Detektif Taylor Kwon dari Washington datang ke New Orleans untuk menyelidiki pembunuhan mantan rekannya, Hank Greely. Setelah menggali informasi dari Lola, mengunjungi makam Hank dan mengetahui apa yang dilakukannya, Taylor menyimpulkan bahwa Jimmy dan Louis adalah pembunuhnya.

Sementara itu, Keegan menemui bosnya, Robert Morel. Pengacara Robert yang bernama Marcus Baptiste, mengungkapkan bahwa Hank ingin memeras Robert. Hank memberikan berkas yang berisi operasi ilegal Robert kepada Baby Jack, mafia setempat. Keegan kemudian membunuh Baby Jack dan anak buahnya lalu mengambil berkas tersebut.

Taylor bertemu Jimmy di bar dan menginformasikan bahwa dia tahu apa yang dilakukan oleh Jimmy kepada Hank. Jimmy meninggalkan Taylor yang kemudian coba mengejar namun dihadang oleh para polisi korup anak buah Robert.

Meski bisa mengalahkan satu polisi, Taylor terkena tembakan. Jimmy membantu Taylor dengan mengalahkan satu polisi lagi dan membawanya ke toko tattoo milik putrinya, Lisa.

Setelah diobati oleh Lisa, mereka pergi ke panti pijat untuk menginterogasi Ronnie Earl, kaki tangan Robert yang sering memberikan pekerjaan kepada Jimmy. Ronnie berusaha membunuh Jimmy, namun Jimmy berhasil membunuh Ronnie meski pistolnya macet.

Jimmy marah kepada Taylor yang mengaku bahwa dia sudah merusak pistol Jimmy. Mereka kemudian setuju untuk bekerja sama. Mereka menculik Marcus dari sebuah pesta dan memaksanya untuk memberikan data tentang rencana Robert.

Dari Marcus pula, Jimmy tahu bahwa Keegan adalah pembunuh bayaran suruhan Robert. Kemudian, Jimmy menembak mati Marcus saat menginterogasinya. Keegan dan timnya melacak ponsel Marcus yang ada di rumah Jimmy dan menyerangnya.

Beruntung Jimmy dan Taylor berhasil melarikan diri dengan meledakkan bom yang menewaskan semua anggota tim Keegan. Berhasil selamat, Keegan bersumpah akan membalaskan dendam kepada mereka berdua. Taylor tidak suka dengan cara Jimmy membunuh Marcus. Dia pergi meninggalkan Jimmy.

Taylor mencoba meminta bantuan dari Letnan Lebreton yang ternyata adalah anak buah Robert. Taylor nyaris dibunuh apabila Jimmy tidak datang tepat waktu untuk menyelamatkannya. Keegan mengetahui Lisa adalah putri Jimmy dan menculiknya. Robert menghubungi Jimmy dan meminta pertukaran Lisa dengan flash disk berisi data penting Robert.

Jimmy setuju dan datang ke lokasi pertemuan. Akhirnya, pertukaran pun dilakukan. Sementara Taylor menyelusup untuk menangkap Robert dan membunuh beberapa anak buahnya. Keegan tidak setuju Robert melepaskan Jimmy. Keegan marah dan membunuh Robert lalu menyerang Jimmy.

Berhasilkan Jimmy mengalahkan Keegan yang tangguh dan ahli dalam berkelahi? Apa yang akan dilakukan Taylor? Apakah dia akan membantu Jimmy atau meninggalkannya lagi? Tonton terus film yang seru ini sampai habis untuk menemukan jawabannya.

Kental Nuansa 1980an

Kental Nuansa 1980an_

Sebenarnya jalan cerita yang disuguhkan di film Bullet to the Head ini cukup sederhana, yaitu balas dendam. Konspirasi licik di belakang aksi kejahatan tidak begitu terlihat, semua tampak jelas di depan mata.

Intinya, film dengan durasi 1 jam 32 menit ini hanya berisi rentetan adegan aksi dari satu tempat ke tempat lain. Dan, tentu saja diakhiri dengan pertarungan sengit di sebuah bangunan yang terbengkalai.

Sangat familiar dengan konsep seperti itu? Konsep seperti ini sangat efektif digunakan di film-film era 1980an dimana sutradara Walter Hill pernah berada pada puncak karirnya. Dia sukses lewat film 48 Hrs. (1982) dan sequel-nya, Another 48 Hrs. (1990), yang memadukan Eddie Murphy dengan Nick Nolte.

Nyaris semua elemen dari era tersebut ditampilkan di film yang berlokasi di New Orleans ini. Mulai dari atmosfernya, adegan action dengan editing dinamis, pergerakan para karakternya dari dekat, dan suara tulang patah yang sangat keras saat berkelahi.

Rasanya tidak ada yang terlewatkan. Bahkan iringan musik gubahan Steve Mazzaro semakin menguatkan kesan ini.

Duet yang Kurang Sepadan

Duet yang Kurang Sepadan_

Sylvester Stallone dan Sung Kang memang adalah bintang action dengan karir yang bagus saat film ini diproduksi. Stallone baru bangkit dari keterpurukan karirnya berkat film Rocky Balboa (2006) dan Rambo (2008). Dia pun sukses lewat film seri action barunya, The Expendables (2010) dan sequel-nya yang dirilis pada tahun 2012.

Sedangkan Sung Kang menjadi terkenal berkat perannya sebagai Han Lue di franchise Fast & Furious. Lalu apakah dua aktor ini sepadan jika disandingkan? Sayangnya, Stallone terlalu superior dan tidak bisa diimbangi oleh Sung Kang.

Tidak terpercik chemistry antara mereka yang dilengkapi dialog datar cenderung rasis. Walter Hill gagal mengulangi formula andalannya kali ini. Di usia 66 tahun, Stallone masih terlihat gagah. Bahkan dalam satu adegan dia beraksi dalam kondisi bertelanjang dada.

Dia terlihat lebih tangkas, tangguh dan gesit dalam melumpuhkan lawan-lawannya yang memiliki usia lebih muda separuh dari umurnya. Mungkin karena profesinya memang sebagai pembunuh bayaran profesional, maka dia selalu bisa tampil tangguh.

Tapi hal ini membuat kita tidak pernah khawatir saat menyaksikan aksinya. Karena bagaimanapun juga, Stallone adalah tokoh utama yang tidak mungkin kalah, apalagi tewas di akhir film.

Dan pertarungannya dengan Jason Momoa yang terkesan garang ditampilkan dengan koreografi yang terkesan monoton. Bahkan akhir hidup Keegan tidak sesuai ekspektasi dalam benak kita.

Akting Memikat dari Lini Kedua

Akting Memikat dari Lini Kedua_

Jika kita tidak melihat akting yang apik dari Sylvester Stallone dan Sung Kang sebagai pemeran utama, justru dari lini kedua, yaitu pemeran pendukung, film ini beruntung memiliki aktor dan aktris yang pantas. Jason Momoa tentu adalah aktor yang pantas untuk berperan sebagai sosok antagonis musuh berat sang pemeran utama.

Kesan seorang petarung yang tidak pernah terkalahkan tergambar jelas pada wajah dan fisiknya. Tampaknya karakter Khal Drogo yang diperankannya di serial Game of Thrones masih sangat melekat padanya. Jika melihat kemampuannya, seharusnya Keegan akan mudah mengalahkan Jimmy yang sudah tua. Tapi hal ini tidak mungkin terjadi.

Lalu, ada Sarah Shahi yang cantik sebagai pemeran Lisa, putri Jimmy. Karakternya memang tipikal seperti peran wanita dalam film-film sejenis ini, tapi dia mampu tampil meyakinkan sebagai seniman tattoo. Dia terlihat tenang saat mengobati luka Taylor dan luwes dalam berbicara.

Dan yang paling mencuri perhatian adalah performa akting Christian Slater sebagai Marcus Baptiste. Terutama saat adegan interogasi di hadapan Jimmy dan Taylor yang berakhir dengan kematiannya. Meski singkat, penampilannya menjadi secercah kualitas dari keseluruhan film.

Bullet to the Head tidak menawarkan hal yang baru dalam genre action. Semua yang disuguhkan sudah pernah ada di film-film sebelumnya. Bahkan film ini memiliki kelemahan di sisi akting serta penceritaan.

Meski begitu, film dengan sinematografi yang didominasi nuansa kelamnya malam ini tetaplah menjadi film yang wajib ditonton oleh fans sejati Stallone. Langsung saja ditonton aksinya!

cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram