logo web

Review & Sinopsis Buya Hamka Vol. 1, Kisah Hidup Sastrawan Ternama

Ditulis oleh Suci Maharani R
Buya Hamka Vol. 1
2
/5
showpoiler-logo
PERHATIAN!
Artikel ini mengandung spoiler mengenai jalan cerita dari film/drama ini.

Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah atau Buya Hamka adalah sosok sastrawan, ulama dan pahlawan nasional Indonesia yang namanya begitu termasyur. Kisah hidupnya yang inspiratif, membuat Falcon Pictures begitu berambisi membawanya ke layar lebar.

Diarahkan oleh Fajar Bustomi, film ini terdiri dari tiga bagian dimana Buya Hamka Vol. 1 menjadi pembuka yang cukup menjanjikan. Film ini mengisahkan usaha Buya Hamka dalam menyebarkan dakwah lewat tulisan-tulisannya. Dalam filmnya dilengkapi dengan sinematografi dan skoring yang memukau.

Kalau soal akting, penampilan Vino G. Bastian (Buya Hamka) dan Laudya Cynthia Bella (Siti Raham) tidak ada tandingannya. Keduanya berhasil menyuguhkan kemistri dan romansa yang bikin para penontonnya terharu.

Namun sayangnya, meski ia memiliki cerita yang padat dengan pemain yang kompeten, ternyata alur Buya Hamka Vo. 1 (2023) terasa kurang runtut dan detail. Kok bisa? Buat kamu yang penasaran, bisa membaca sinopsi dan ulasan filmnya hanya di Showpoiler.

Sinopsis

sinopsis buya hamka_

Rumah Tahanan Cimacan, menjadi saksi bisu bagaimana Buya Hamka (Vino G. Bastian) menghabiskan masa tuanya.

Hari itu sang istri dan ketiga putranya datang menjenguk. Buya Hamka menangis saat sang istri, Siti Raham (Laudya Cynthia Bella), menyuguhkan gulai kepala kakap kesukaannya. Keduanya menangis, mengingat perjalanan hidup mereka selama menjalani bahtera rumah tangga.

Saat itu, Buya Hamka dipercaya sebagai pengurus Muhammadiyah di Makassar. Buya merasa geram dan bingung, melihat orang-orang yang tidak mau terbuka dengan perkembangan zaman.

Mereka menolak untuk menimba ilmu dengan dalih haram karena dianggap mengikuti orang-orang kafir. Melihat kegelisahan sang suami, Siti Raham pun memberikan sebuah solusi. Ia berkata, jika perkataan tidak mampu mengajak seseorang, maka Buya harus menjadi contoh agar orang-orang mau mengikutinya dengan suka rela.

Mendengar nasihat sang istri, Buya pun semakin semangat untuk membagikan dakwahnya lewat tulisan. Sebuah kisah roman berjudul “Di Bawah Lindungan Ka’bah” menjadi tulisan pertama dalam perjalanan dakwah Buya Hamka di Makassar.

Berkat tulisannya itu, Buya Hamka ditawarkan kesempatan untuk menjadi pemimpin majalan Pedoman Masyarakat di Medan.

Pada awalnya Buya merasa ragu, namun Siti Raham kembali meyakinkannya bahwa ini adalah jalan terbaik agar dakwah Buya bisa disebarkan secara luas. Benar saja, tulisan-tulisan dan kisah roman buatan Buya Hamka begitu populer di kalangan masyarakat.

Namun kebahagiaan ini tidak berjalan lama, Buya Hamka dikagetkan dengan berita meninggalnya sang putra yang bernama Hisyam.

Ingin menghilangkan rasa kecewanya, Buya Hamka pun semakin giat dan fokus untuk membuat tulisan-tulisan baru. Semangat menulisnya semakin membara karena pada saat itu penjajahan Belanda sedang merajalela. Buya ingin mengajak para pemuda untuk tetap semangat memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Seiring berjalannya waktu, keadaan bukannya semakin tenang malah semakin genting. Belanda memang mundur dari Indonesia, namun Jepang menggantikan posisi Belanda untuk menjajah Indonesia.

Saat itu banyak ulama yang dibunuh, lebih parahnya lagi sekolah-sekolah Islam pun ditutup secara paksa. Buya yang merasa prihatin, terpaksa bekerjasama dengan pihak Jepang. Ia tidak mau tunduk pada kekaisaran Jepang, ia hanya ingin menjamin bahwa umat Islam akan menjaga sikap. Tapi, hal tersebut justru menimbulkan kemarahan masyarakat.

Orang-orang menganggap Buya Hamka sebagai penjilat dan musuh dalam selimut. Seluruh keluarga Buya Hamka harus tabah menerima berbagai ancaman hingga hinaan yang dilontarkan oleh masyarakat. Puncaknya, Buya Hamka dipaksa mundur dari jabatannya sebagai pengurus Muhammadiyah.

Banyak Momen Penting dengan Alur Membingungkan

Banyak Momen Penting dengan Alur Membingungkan_

Jujur saja, Buya Hamka (2023) menjadi salah satu film yang paling bikin saya penasaran. Sejak trailer-nya dirilis, saya benar-benar tidak bisa menebak alur ceritanya.

Baru memasuki opening, hati saya tersentuh melihat Siti Raham menjenguk Buya Hamka di Rumah Tahanan Cimacan. Dibalut alunan musik sendu, pasangan ini saling melontarkan gombalan manis yang membuat hati penonton menangis.

Setelah plotnya berakhir, film arahan Fajar Bustomi ini mulai fokus untuk memperkenalkan sosok Buya Hamka dan Siti Raham.

Namun yang membuat saya kecewa, cara untuk memperkenalkan kedua tokoh utama ini terasa kurang smooth. Alurnya tidak berjalan dengan runtut, malah terasa seperti antologi yang berisikan beberapa cerita pendek dalam satu film.

Setiap plot punya masalah yang berbeda-beda. Tapi masalah ini tidak dijelaskan penyebabnya secara detail dan diselesaikan begitu saja. Alhasil, konflik-konflik yang ditampilkan terasa seperti angin lalu saja.

Malah saya sempat bingung, karena dari satu alur ke alur lainnya terkadang tidak memiliki benang merah. Perpindahan alurnya juga sangat tiba-tiba, flowing alurnya kurang matang.

Produksi Film yang Matang

Produksi Film yang Matang_

Meski alurnya terasa sangat mengecewakan, ada hal lain yang membuat saya kagum, yaitu desain produksinya yang super niat.

Tak kalah dari Bumi Manusia (2019), Fajar Bustomi dan Falcon Picture juga membangun beberapa set khusus untuk film ini. Pemilihan set yang anti monoton, wardrobe yang sesuai, hingga makeup yang digunakan memang patut diacungi jempol.

Khususnya untuk makeup versi tua dari Buya Hamka, Siti Raham dan Haji Rasul (ayah Buya Hamka) yang sangat totalitas. Bahkan saya sempat tidak mengenali bahwa sosok Donny Damara yang memerankan sebagai Haji Rosul karena makeup-nya yang sangat apik.

Untuk scoring filmnya, aransemen musik garapan Purwacaraka tidak pernah gagal menyentuh hati para penonton.

Sedangkan untuk sinematografinya, sebenarnya angle kamera dan perpindahan kameranya terasa cukup smooth. Satu-satunya yang mengganggu saya adalah kontras warnanya.

Mengambil tema sephia, kesan jadul di film Buya Hamka Vol. 1 (2023) terasa sangat kental. Tapi konsistensi kontrasnya tidak stabil. Dalam satu scene, ada beberapa take gambar yang memiliki kontras berbeda. Ada gambar yang warna jingganya terlihat soft, tapi ada juga kontras yang terlihat sangat tajam.

Pemilihan warna sephia ini hanya fokus di set berlatar malam atau sore. Ketika pagi atau siang hari, kontrasnya berubah menjadi lebih cerah. Ketajaman warnanya agak menusuk warna, terkadang membuat saya jadi tidak fokus pada aktornya, karena pop-up warnanya cukup mengganggu.

Dua Pemeran Utama yang Sangat Menonjol

Dua Pemeran Utama yang Sangat Menonjol_

Rasanya tidak berlebihan bagi saya untuk mengatakan kalau Vino G. Bastian dan Laudya Cynthia Bella adalah ujung tombak kesuksesan Buya Hamka Vol. 1 (2023).

Memerankan karakter Buya Hamka, film ini menjadi penampilan terbaik dari akting Vino G. Bastian. Ia berhasil melepaskan karakter Dodo Rozak dan Qodrat yang melekat pada dirinya.

Hal ini tentu tidak mudah, tapi Vino G. Bastian mengeksekusi peran ini dengan sangat baik. Pembawaan karakternya sederhana, tapi ada semangat berapi-api dalam diri Buya Hamka.

Di sisi lain, Laudya Cynthia Bella menjadi sosok penenang kala Vino G. Bastian terlihat berapi-api. Karakter Siti Raham yang diperankannya sangat anggun, berkelas, dan bersahaja.

Kemistri yang ditampilkan benar-benar terasa seperti pasangan suami istri yang sudah lama menikah. Tidak ada adegan mesra, romansa mereka hanya tergambar lewat kopi dan sajak-sajak gombal.

Tiap kali Siti Raham membawa kopi untuk Buya Hamka, tatapan mereka terlihat penuh cinta. Vino G. Bastian dan Laudya Cynthia Bella berhasil menggambarkan Buya Hamka dan Siti Raham bak pasangan impian.

Buya Hamka Vol. 1 (2023) bisa dikatakan sebagai rangkuman dari masa-masa keemasan Buya Hamka. Meski alurnya kurang runtut dan detail, sebagai pembuka trilogi, film araha Fajar Bustomi ini cukup menjanjikan. Apalagi skoring dan akting dari para pemeran utamanya terasa sangat mahal.

Jadi apakah kamu tertarik untuk menonton film Buya Hamka Vol. 1 (2023)? Atau, kamu sudah menontonnya? Berikan tanggapan kalian melalui kolom komentar, yuk!

cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram