logo web

Sinopsis & Review Film Biografi Creation Stories (2021)

Ditulis oleh Aditya Putra
Creation Stories
2.5
/5
showpoiler-logo
PERHATIAN!
Artikel ini mengandung spoiler mengenai jalan cerita dari film/drama ini.

Keberhasilan musisi secara komersial bukan hanya andil orang-orang di depan layar. Orang-orang di balik layar nggak kalah penting perannya. Para kru menyiapkan alat-alat musisi untuk tampil di panggung.

Manajer berfungsi mengatur jadwal dan kontrak musisi. Ada juga label rekaman yang mengelola produksi dan distribusi album musisi.

Tahun 90-an, dunia diserang oleh invasi band-band Inggris yang dikenal dengan istilah Britpop. Legacy band-band tersebut bahkan masih sering kita dengar saat ini.

Salah satu band yang paling sukses secara komersil di era tersebut adalah Oasis. Creation Stories menceritakan tentang sosok di balik layar atas kesuksesan itu. Simak sinopsis dan review filmnya di sini, yuk!

Baca juga: 20 Film Biografi Terbaik di Dunia yang Wajib Ditonton

Sinopsis

Sinopsis

Pada tahun 70-an, Alan McGee merupakan seorang remaja yang tinggal di Glasgow. Dia hidup bersama ayah, ibu, nenek dan dua saudara perempuannya. Alan menyimpan ketertarikan pada dunia musik.

Bahkan dia memiliki mimpi untuk menjadi musisi. Keinginan Alan itu ditentang oleh ayahnya. Sang ayah menganggap musik bukanlah pekerjaan yang bisa memberi penghidupan.

Alan mencari uang tambahan dengan bekerja sebagai penjual koran. Hanya saja, dia berjualan sejam sebelum penjual koran lain datang.

Dengan begitu, jumlah koran yang dijualnya bisa lebih banyak. Suatu hari, Alan didatangi oleh Bobby. Bobby memiliki ketertarikan yang sama pada musik. Band favoritnya adalah T. Rex dan Thin Lizzy.

Punk rock sedang berjaya di Inggris. Alan kemudian membentuk sebuah band punk bersama Bobby dan teman Bobby, Andrew. Kebersamaan mereka nggak bertahan lama.

Alan dan Andrew ingin pergi ke London untuk mengejar impian menjadi musisi. Mereka berdua kemudian pergi dari Glasgow dan menetap di London.

Alan dan Andrew membentuk band bernama The Laughing Apple. Mereka berjuang menyewa tempat untuk penampilan mereka. Bahkan mereka berdua ikut menjual tiket.

Sayangnya, perjuangan mereka nggak berhasil. Konser mereka nggak terjual banyak. Alan mulai bekerja sebagai pengecek tiket kereta. Alan menggunakan uang dari pekerjaannya itu untuk membeli rilisan musik.

Andrew terus berjuang menjadi musisi. Dia malah terjerumus ke dunia narkoba. Sementara Alan memboyong pacarnya, Yvone, ke London.

Alan mulai terpikir untuk menggeluti dunia musik dari belakang panggung. Dia ingin punya label rekaman sendiri. Sebelum keinginan itu terwujud, dia mencoba untuk menjadi manajer band yang dianggap potensial.

Alan kerap mendatangi berbagai konser band baru. Dia menjadi manajer untuk beberapa band. Band paling sukses yang dia manajeri adalah Jesus & Mary Chain.

Alan berhasil mengorbitkan mereka. Bahkan mereka bisa tampil di televisi. Karena itulah, nama mereka semakin mendapat perhatian dari masyarakat luas.

Alan mengganti drummer Jesus & Mary Chain dengan Bobby. Dia kemudian mendirikan label rekaman sendiri. Label rekamannya itu dinamai Creation Records.

Jesus & Mary Chain merilis album legendaris, Psycho Candy, di bawah naungan label milik Alan. Band itu pun berhasil mendapatkan kesempatan promosi di Amerika.

Jesus & Mary Chain kembali ke studio untuk rekaman. Biaya produksi album ternyata melebihi estimasi awal. Alan mencoba meminjam uang dari bank. Bank merasa ambisi Alan nggak masuk akal.

Creation Records pun terlilit ulang. Alan harus menjual demo band-band di labelnya supaya bisa membiayai biaya operasional labelnya. Creation Records diprediksi akan tutup dalam sebulan.

Alan berhasil mempertahankan labelnya dengan bantuan uang dari program pemerintah. Uang itu digunakan untuk mendistribusikan album milik My Bloody Valentine.

Alan hendak menghadiri acara tahunan ibunya yang meninggal. Dia terlambat datang ke stasiun. Ketika datang ke sebuah pub bersama saudarinya, Alan melihat band bernama Oasis. Bagaimanakah band itu mengubah hidup Alan?

Penggunaan Alur Maju Mundur

Penggunaan Alur Maju Mundur

Creation Stories dibuka dengan narasi berbunyi, “Most of this happened.” Kemudian narasi berlanjut dengan, “Some names have been changed. To protect the guilty”.

Film bercerita dari kesaksian Alan pada seorang jurnalis asal los Angeles, Gemma. Plot berjalan dengan alur yang maju mundur. Alan akan memberi pernyataan pada Gemma kemudian flashback ke masa lalu.

Penggunaan alur maju mundur di film ini nggak digarap dengan baik. Ketika Alan memasuki usia dewasa, pemeran berganti dari Leo Flanagan menjadi Ewen Bremner.

Bermainnya Bremner membuat penonton agak kesulitan untuk membedakan linimasa. Perbedaan untuk melihat linimasa hanya bisa dibedakan dari gaya rambut Alan dan kostum.

Plot menjadi berantakan dengan penggunaan alur maju mundur. Ketika Alan menceritakan masa lalu, adegan berpindah ke masa yang berbeda. Alan kolaps karena narkoba, kemudian berpindah ke masa kini.

Nggak lama kemudian, berpindah ke masa lalu lagi. Perlu usaha lebih untuk merangkai plot film ini. Kenikmatan menonton film jadi agak terganggu karena kita terpaksa berpikir keras.

Kemunculan Ewen Bremner

Kemunculan Ewen Bremner

Sosok Alan di Creation Records diperankan oleh dua aktor. Leo Flanagan memerankan Alan di masa remaja. Sedangkan Ewen Bremner mengambil alih peran ketika Alan menjadi dewasa.

Sutradara Nick Morran seperti terlalu mengandalkan Bremner yang mencuat lewat Trainspotting. Padahal sang aktor nyaris berusia 50 tahun ketika tampil. Dia dipaksakan menjadi pria berusia 20-an dan 30-an.

Keputusan memunculkan Bremner lebih cepat sebenarnya masuk akal. Sang aktor bisa membawakan Alan McGee dalam versi parodi. Cara bertingkah Alan dibuat menjadi cukup komikal.

Padahal Leo Flanagan tampil baik. Dia bisa menjadi Alan di masa muda yang kikuk. Kekikukan itu hilang ketika Alan menikmati musik.

Kehidupan Personal Alan McGee

Kehidupan Personal Alan McGee

Creation Stories menyajikan kehidupan Alan McGee dari semasa kecil sampai dia berhenti bergelut di label rekaman. Pendalaman karakter Alan cukup dalam.

Dalam cerita, ayahnya menentang Alan. Sementara sang ibu mendukung segala tindakan Alan. Kedekatan dengan sang ibu tergambar dalam adegan Alan yang ingin menghadiri acara peringatan kematian ibunya.

Alan digambarkan seperti sosok megalomania. Dia menganggap dirinya nggak punya talenta sama sekali. Di sisi lain, dia merasa dirinya bisa merasakan band yang dianggapnya potensial.

Dalam beberapa adegan, Alan mengucapkan bahwa dia akan membuat band yang direkrutnya lebih besar dari U2. Sayangnya, ambisi itu hanya dibahas di permukaan.

Film ini lebih banyak membahas pada kehidupan personal Alan. Penggunaan narkoba, pesta dan jatuh bangun mempertahankan label terus disajikan.

Nggak ada adegan yang memperlihatkan keterlibatannya dalam mendorong album-album Primal Scream dan Oasis. Kegilaan di film ini dilengkapi dengan sinematografi nyeleneh. Banyak montase dan editing cepat persis seperti Trainspotting.

Creation Stories terlalu mengandalkan kehidupan pribadi Alan McGee. Padahal sebagian besar penonton ingin melihat bagaimana keterlibatannya dalam Screamadelica dan album-album Oasis.

Kedua band itulah yang membawa Creation Records ke level berbeda. Durasi selama 105 menit pun terasa terlalu panjang. Punya rekomendasi film tentang industri musik? Tulis di kolom komentar, yuk!

cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram