logo web

Sinopsis & Review Film Dreamland (2019), Fantasi Melawan Realita

Ditulis oleh Aditya Putra
Dreamland
2.7
/5
showpoiler-logo
PERHATIAN!
Artikel ini mengandung spoiler mengenai jalan cerita dari film/drama ini.

Semua orang pasti pernah berfantasi dalam hidupnya. Kadang kita berfantasi membayangkan sosok di dalam film atau buku, supaya kita bisa menjalani cerita di dalamnya.

Saking serunya, kita bisa mengubah beberapa hal yang ada untuk disesuaikan dengan keinginan kita. Nggak mengherankan kalau ada yang menyatakan bahwa fantasi adalah tempat melarikan diri dari realita.

Di dalam realita, ada banyak hal yang nggak bisa dikontrol oleh kita. Oleh karena itu, di dalam fantasi kita bisa menjadi orang yang mengontrol cerita.

Tapi bagaimana kalau fantasi itu mempengaruhi realita yang ada? Hal itulah yang terjadi dalam film Dreamland. Seperti apa sinopsis dan review filmnya? langsung simak saja yuk!

Sinopsis

Sinopsis

Eugene Evans adalah seorang pemuda yang tinggal di Texas di tahun 30-an. Dia tinggal bersama ibunya, ayah tirinya, Geroge Evans serta adik tirinya, Phoebe. Dia nggak merasakan kebahagiaan.

Satu-satunya yang sering dia bayangkan adalah kata-kata dalam surat tulisan ayah kandungnya yang didapat ketika berumur enam tahun. Dalam surat itu, sang ayah menyatakan bahwa dia menemukan surga di Meksiko.

Eugene begitu disayangi oleh keluarga dan sahabatnya, Joseph. Namun, dia dan Joseph lebih senang menenggelamkan diri dalam buku-buku cerita yang dibacanya.

Kebanyakan dari buku itu bercerita tentang kehidupan detektif dan orang yang melanggar hukum. Eugene berharap hidupnya nggak akan membosankan apabila bisa berjalan seperti dalam buku yang dia baca.

George yang berprofesi sebagai sheriff, suatu hari menempelkan poster bergambar perempuan bernama Allison Wells. Allison menjadi buronan setelah melakukan perampokan bank dan pembunuhan.

Siapa pun yang menemukan Allison, maka akan mendapatkan imbalan sebesar 10.000 USD. Eugene dan Joseph pun mencari sosok Allison. Terlebih, George meminta Eugene untuk mulai bersikap bertanggung jawab.

Eugene mencuri kesempatan untuk membaca di ladangnya. Dia menemukan sebuah perban serta seorang wanita mengarahkan pistol pada dirinya.

Eugene mulai mengenali wanita tersebut yang merupakan Allison. Dia pun berjanji akan mengobati luka yang diderita Allison dengan imbalan Allison akan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

Untuk bisa mendapatkan kepercayaan Eugene, Allison memberikan pistolnya. Dia kemudian bercerita bahwa ketika dia merampok bank, sekelompok polisi datang.

Ada salah satu polisi yang menembak ke arah kerumunan dan akhirnya ada seorang anak perempuan yang tewas. Dia pun mengaku tertembak di kaki kemudian kabur menggunakan mobil.

Allison berjanji akan memberi Eugene uang sebesar 20.000 USD apabila Eugene bisa membantunya mendapatkan mobil untuk pergi ke Meksiko. Eugene pun setuju.

Phoebe mencurigai Eugene yang berada di ladang. Eugene mengatakan bahwa ada anjing yang mati di ladang. Phoebe nggak percaya dan melihat ke ladang. Dia pun lari terbirit-birit setelah melihat handuk berlumuran darah.

Eugene mengajak Joseph bekerja sama agar Joseph memberikan mobil keluarganya. Walau diiming-imingi uang, Joseph menolak.

Eugene pun pergi ke ruang penyimpanan barang bukti dengan bekal kunci yang diambil dari George. Dia menemukan dokumen bahwa rekan Allison, Price sudah membunuh polisi dan tewas ditembak.

George menemukan bekas pakaian Allison dan melapor bahwa sang buronan berada di dalam wilayahnya. Sayangnya, George malah dipecat karena diduga sudah memberikan kunci pada Eugene untuk masuk ke ruang penyimpanan barang bukti serta ada barang bukti yang dibakar Eugene.

George pun menemui Eugene dan mengatakan bahwa dia perlu menjual rumah agar bisa tetap hidup setelah kehilangan pekerjaan.

Eugene membawa Allison pergi dengan menggunakan mobil. Allison mengatakan bahwa dia nggak mencintai Eugene dan ingin pergi sendirian saja.

Eugene mengatakan bahwa dia memang bertujuan ke Meksiko untuk bertemu dengan sang ayah. Bagaimanakah pelarian Eugene? Bisakah dia sampai ke Meksiko? Atau dia kesulitan memisahkan realita dengan fantasi yang didapat dari buku cerita?

Penggunaan Tempo Pelan

Penggunaan Tempo Pelan

Dreamland menggunakan tempo pelan dalam mengalurkan cerita. Penggunaan tempo pelan bukannya tanpa alasan, melainkan untuk mendalami karakter Eugene.

Dalam beberapa adegan, kita diperlihatkan bagaimana Eugene tinggal di masa Great Depression, lingkungan berdebu, serta baru dihantam badai. Itu semua digunakan untuk membentuk betapa besarnya keinginan Eugene akan kehidupan yang lebih menarik.

Tempo pelan juga digunakan untuk menceritakan bahwa Eugene bukanlah berasal dari keluarga yang nggak bahagia. Ayah tirinya begitu sayang pada Eugene, begitu juga dengan Phoebe.

Serta karakter Allison yang dianggap sebagai fantasi Eugene akan kehidupan yang menantang pun diungkap secara seksama. Bagaimana dia menggambarkan diri sebagai korban padahal berbahaya.

Bagi yang ingin menikmati thriller dengan membuat detak jantung berdetak kencang, film ini bukanlah jawabannya. Thriller di film ini lebih ingin mempertajam bagaimana ketegangan Eugene dalam mewujudkan fantasinya dengan berhubungan bersama Allison sampai melarikan diri.

Hal-hal itu yang baru bisa dia rasakan sepanjang hidupnya dan itu terjadi setelah bertemu Allison. Ketegangan itu pula yang bertambah intens karena mereka berdua menjadi incaran pihak berwajib.

Perubahan Aspek Rasio

Perubahan Aspek Rasio

Secara sinematografi, Dreamland berhasil menyajikan betapa sulitnya kehidupan tahun 30-an di Texas. Daerah yang kering, ladang yang seperti kekurangan air, sampai lokasi-lokasi pinggiran kota yang lebih banyak diangkat.

Selain itu, penampilan seluruh pemain serta properti benar-benar membuat seperti film ini dirilis hampir seabad yang lalu.

Yang paling menarik dari film ini adalah bagaimana adanya perubahan aspek rasio. Ketika menunjukkan adegan yang seperti fantasi dari Eugene, rasio layar akan berubah.

Yang paling layak disorot adalah ketika Eugene dan Allison berhubungan seks di kamar mandi hotel. Sosok Allison dibuat nggak terlihat secara keseluruhan seperti menunjukkan bahwa kejadian itu benar-benar terjadi atau hanya fantasi Eugene saja.

Penampilan Margot Robbie

Penampilan Margot Robbie

Finn Cole di Dreamland berhasil menjadi Eugene yang naif. Tapi apresiasi lebih layak diberikan untuk sosok Margot Robbie yang berperan sebagai Allison.

Margot benar-benar bisa menjadi sosok yang membawa Eugene masuk ke dalam fantasi yang berasal dari buku-buku detektif. Margot bisa menjadi sosok Allison yang menarik empati, manipulatif sekaligus menawan.

Yang terasa kurang adalah chemistry antara Finn dan Margot. Miles Joris-Peyrafitte selaku sutradara seperti menjadikan sosok Eugene terlalu kaku ketika berinteraksi dengan Allison.

Walau di cerita, Eugene adalah sosok yang demikian tapi ketertarikan keduanya nggak cukup kuat untuk dirasakan sehingga Eugene seperti hanya ingin pergi dengan Allison.

Dreamland merupakan film thriller yang kental dengan drama personal para karakter di dalamnya. Durasi selama 101 menit terasa cukup untuk menyaksikan solusi dari konflik yang dibangun sejak awal film.

Bagi yang ingin menonton betapa cemerlangnya Margot Robbie untuk peran menawan tapi punya sosok jahat, film ini bisa menjadi bukti. Kamu penggemar Margot Robbie? Boleh loh, berbagi filmnya yang lain di kolom komentar!

cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram