showpoiler-logo

Sinopsis & Review In Bruges, Pembunuh Bayaran yang Diungsikan

Ditulis oleh Aditya Putra
In Bruges
4
/5
showpoiler-logo
PERHATIAN!
Artikel ini mengandung spoiler mengenai jalan cerita dari film/drama ini.

Ada kalanya ketika kita terlalu sibuk dengan pekerjaan akan mempengaruhi produktivitas kita. Untuk mengembalikan semangat, seringkali kita perlu mengambil masa rehat. Masa rehat itu bisa digunakan untuk sekadar istirahat di rumah, menemui orang-orang terdekat atau berlibur ke tempat yang dianggap menyenangkan.

Di film In Bruges, dua pembunuh bayaran terpaksa diungsikan ke Bruges, Belgia, untuk menunggu instruksi lebih lanjut dari sang bos. Tapi acara yang disebut sebagai liburan itu justru membuat mereka terlibat dalam masalah. Bahkan beresiko membuat mereka meregang nyawa. Seperti apa ceritanya? Simak dulu sinopsis dan review filmnya berikut ini.

Sinopsis

in-bruges-2_
  • Tahun Rilis: 2008
  • Genre: Black Comedy, Crime
  • Produksi: Blueprint Pictures, Film4 Productions, Focus Features, Scion Films
  • Sutradara: Martin McDonagh
  • Pemain: Colin Farrell, Brendan Gleeson, Ralph Fiennes, Clemence Poesy, Jeremie Renier

Ray adalah seorang pembunuh bayaran yang diberi tugas untuk mengeksekusi seorang pastur. Dia berpura-pura melakukan pengakuan dosa pada sang pastur sebelum menembaknya.

Sayangnya, tembakan itu bukan hanya membunuh sang pastur melainkan juga seorang anak laki-laki yang nggak berdosa. Ray yang sedih berat diajak pergi oleh Ken agar nggak tertangkap oleh polisi.

Ken diperintahkan oleh bosnya, Harry, untuk membawa Ray berlibur ke Bruges, Belgia. Perintah itu disebut sebagai cara untuk menghibur Ray yang sedang bersedih.

Setibanya di Bruges, Ray malah marah-marah karena kota itu disebutnya nggak lebih baik dari kota kelahirannya, Dublin. Bahkan ketika melakukan tur di kota bersama Ken, Ray sama sekali nggak memperlihatkan suasana hatiyang senang.

Ketika sedang berjalan-jalan sendirian, Ray menemukan sekelompok orang yang tengah syuting film. Dia kemudian mendekati seorang perempuan bernama Chloe yang mengaku sebagai asisten produksi film.

Ray langsung mengajak Chloe makan malam. Ketika makan malam, Ray beradu mulut dengan dua orang pengunjung restoran. Ray membuat kedua orang itu nggak sadarkan diri kemudian pergi.

Ketika sedang berduaan dengan Chloe, Ray kaget karena melihat sesosok pria muncul. Chloe mengaku bahwa pria yang bernama Eirik itu adalah mantan kekasihnya. Ternyata, Chloe merupakan pengedar narkoba yang kerap menjebak turis ketika sedang berduaan dengannya. Ray berhasil menghajar Eirik sampai membuat sebelah matanya buta.

Ray mengambil narkoba milik Chloe ketika Chloe mengantar Eirik ke rumah sakit. Dia kemudian menemui Jimmy, seorang aktor cebol yang pernah dilihatnya di lokasi syuting ketika berada di bar. Ray mengajak Jimmy berpesta. Sementara itu, Ken mendapat telepon dari Harry dan mendapat tugas untuk mengeksekusi Ray.

Ken yang frustasi ikut berpesta bersama Ray dan Jimmy. Ketika ketiganya berpesta bersama beberapa wanita, Jimmy mengeluarkan lelucon rasis yang membuat Ken marah dan langsung mengajak Ray pergi. Keesokan harinya, Ken mengambil senjata yang disiapkan Harry di salah satu kontaknya yang menjual senjata ilegal, Yuri.

Ken mencari Ray yang ternyata sedang berada di sebuah taman bermain. Berniat menembak Ray, Ken ternyata melihat Ray sedang mencoba bunuh diri dengan menodongkan pistol ke kepalanya sendiri.

Merasa kasihan, Ken mencegah Ray melakukan bunuh diri. Ray pun bercerita betapa dia tersiksa karena merasa berdosa telah membunuh seorang anak kecil.

Ken memberi tahu Ray bahwa dia ditugaskan untuk membunuh Ray. Merasa Ray masih berhak untuk hidup, Ken meminta Ray untuk pergi meninggalkan Bruges.

Ray diminta untuk nggak kembali ke Inggris dalam waktu yang lama karena khawatir Harry akan memburunya. Ketika dalam kereta, Ray ditangkap polisi atas tuduhan melakukan penyerangan pada dua orang yang ditemuinya di restoran.

Chloe membebaskan Ray dengan memberikan uang jaminan. Sementara itu, Harry tiba di Bruges untuk mengkonfrontasi Ken yang terlihat ragu untuk menjalankan misinya.

Harry meminta Ken untuk mengantarnya pada Ray. Ken dihadapkan pada dilema. Apabila dia nggak membantu Harry, maka dia bisa menjadi korban. Akankah Ray berhasil selamat?

Perpaduan Black Comedy dan Crime yang Proporsional

in-bruges-3_

In Bruges bukanlah tipikal film yang langsung memacu kita dengan sajian tembak-tembakan. Sebaliknya, film ini lebih fokus terlebih dahulu untuk melakukan pendalaman karakter pada Ray dan Ken sebagai dua protagonis. Praktis adegan-adegan action baru dimunculkan di third act, itu pun tetap memasukan unsur komedi.

Film ini secara tepat membuat porsi crime dan black comedy seimbang untuk menjadikannya tontonan yang menyenangkan. Unsur crime banyak dihadirkan Ray yang nyaris tanpa rasa takut setelah merasa frustasi membunuh anak kecil.

Sedangkan unsur black comedy hampir selalu melibatkan Ray beserta Ken. Black comedy di film ini bisa membuat kita mempertanyakan nurani.

Ada adegan Ray yang menyatakan bahwa sekumpulan turis nggak bisa masuk ke dalam gedung karena tangga di gedung kecil, sementara para turis berukuran besar. Ada juga surat anak kecil yang dibunuh Ray berisi pengakuan dosa yang akan dilakukan sang anak, tapi isinya punya kemiripan dengan karakter Ray.

Visualisasi Bruges yang Menawan

in-bruges-4_

Secara sinematografi, In Bruges bisa menampilkan visualisasi Bruges yang menawan. Lokasi-lokasi yang dipilih sebagai set seperti menguatkan bahwa kota di Belgia itu merupakan tempat yang tepat untuk mengasingkan diri. Nyaman, tapi nggak kehilangan tempat untuk bersenang-senang semacam pub.

Sepanjang film, kita akan disuguhkan panorama sampai gedung-gedung tua yang indah, berlawanan dengan cerita yang semakin lama semakin intens.

Third act film ini berhasil dibangun dengan intens. Dialog-dialog yang konyol tetap disertakan, tapi tetap berhasil membangun suasana yang semakin menegangkan. Uniknya, lokasi yang dipilih pun tetap menampilkan betapa indahnya Bruges dengan lampu-lampu yang menyala serta jalanan yang terlihat basah oleh hujan.

Chemistry Colin Farrell dan Brendan Gleeson

in-bruges-5_

In Bruges mengandalkan karakter Ray dan Ken untuk membuat cerita berjalan dengan menarik. Formula yang digunakan pun sudah sering diaplikasikan dengan dua karakter yang bertolak belakang.

Ray itu naif, moody dan nggak menyimpan ketertarikan sama sekali pada sesuatu yang serius. Sedangkan Ken yang lebih matang usianya, lebih tenang dan penuh perhitungan.

Colin Farrell bisa dengan cekatan menjadi Ray, pun Brendan Gleeson dalam berperan sebagai Ken. Dialog keduanya yang karakternya berbeda jauh menjadi andalan utama dalam menyajikan momen-momen yang kocak.

Dialog-dialog disertai dengan ekspresi datar khas komedi Inggris-lah yang dipilih oleh sutradara Martin McDonagh untuk menjadi bumbu dalam film karyanya ini.

Penampilan Gleeson yang jauh dari tipikal pembunuh bayaran menjadi daya tarik sendiri. Dia dan rekannya jauh dari kesan serius. Sementara Farrell yang secara fisik meyakinkan sebagai pembunuh bayaran, malah memperlihatkan sisi rapuh. Kedua karakter ini sangat jauh dari ekspektasi orang tentang pembunuh bayaran.

In Bruges secara pintar mengkombinasikan black comedy dan crime tanpa terlihat berusaha untuk melucu. Durasi selama 107 menit terasa sebentar sebagaimana setiap sekuens dari film ini bisa dikemas begitu menarik.

Nggak mengherankan sajian solid itu membuat film ini menyandang status sebagai cult film. Kalau cult film versi kamu apa nih, guys? Tulis di kolom komentar, ya!

cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram