logo web

Sinopsis & Review Like & Share; Remaja, Internet & Kekerasan Seksual

Ditulis oleh Suci Maharani R
Like & Share
4.3
/5
showpoiler-logo
PERHATIAN!
Artikel ini mengandung spoiler mengenai jalan cerita dari film/drama ini.

Terlepas dari kontroversi dari salah satu pemeran utamanya, Like & Share (2022) adalah salah satu film anak bangsa yang sangat penting. Mengusung tema soal kekerasan seksual pada wanita dan anak, film garapan Gina S. Noer ini tampil dengan nuansa yang fresh. Mulai dari sinematografi, skoring hingga dialognya, benar-benar bisa menampar para penontonnya.

Vulgar? Memang film ini bakalan bikin kamu kaget. Namun kamu akan lebih terkejut, saat melihat realita soal sistem hukum yang justru merugikan korban.

Belum lagi soal penghakiman masyarakat dan orang tua saat melihat hal menyimpang. Hingga hal-hal yang disepelekan remaja demi cinta. Hal ini ditampilkan dengan sangat baik oleh Aurora Ribeiro sebagai Lisa dan Arawinda Kirana sebagai Sarah.

Kira-kira kehidupan remaja seperti apa yang dirasakan oleh Lisa dan Sarah? Biar nggak penasaran lagi, kamu bisa membaca sinopsis dan ulasan filmnya hanya di Showpoiler.

Baca juga: Review dan Sinopsis Film Indonesia Penyalin Cahaya (2021)

Sinopsis

Sinopsis

“Dimana-mana, hidup cewek yang ancur bukan cowok” -Devan

Dibuka dengan persahabatan yang indah antara Lisa (Aurora Ribeiro) dan Sarah (Arawinda Kirana). Dua murid SMA ini telah merancang hidup dan impian yang ingin mereka gapai. Keduanya bekerja sama membuka sebuah YouTube channel bernama Like&Share.

Mereka memilih konten ASMR dengan tema yang colorful, katanya sih konten ini bisa bikin pendengar rileks dan tidur dengan lebih nyaman. Baik Lisa dan Sarah, keduanya adalah sosok anak yang kurang mendapatkan perhatian orang tua. Sarah kehilangan orang tuanya karena kecelakaan lalu lintas.

Sementara Lisa, merasa tertekan dengan jalan hidup yang dipilihkan sang ibu. Pasca bercerai dari ayahnya, sang ibu memintanya untuk jadi mualaf. Lisa harus bersikap baik, karena ayah tirinya taat beragama, terpandang dan mau bertanggung jawab untuknya.

Namun impian dan rencana hidup mereka perlahan-lahan musnah. Dimulai dengan Lisa yang mulai kecanduan pornografi, pasca menonton video “bokep hp jatoh”.

Sarah berusaha untuk membantu Lisa, namun sahabatnya itu malah semakin tenggelam. Bayangkan saja, Lisa tidak bisa menahan nafsu dan birahinya untuk menonton video porno tersebut bahkan di sekolah.

Lebih parahnya lagi, Lisa ketahuan oleh ibunya sedang orgasme sambil menonton video porno. Hal ini membuat ibunya sangat kecewa. Kegilaan Lisa semakin menjadi, pasca ia bertemu dengan Fita (Aulia Sarah), sosok perempuan yang ada dalam video porno tersebut.

Lisa jadi terobsesi pada wanita itu, ia ingin tahu kenapa Fita melakukannya dan kenapa wanita itu menangis di salah satu videonya. Di sisi lain, saat Sarah merasa bingung harus bagaimana untuk membantu Lisa. Ia tidak sengaja bertemu dengan seorang pria tampan bernama Devan (Jerome Kurnia).

Sejak awal bertemu, Sarah memang sudah tertarik pada Devan, sampai-sampai ia ikut kelas kebugaran dengannya. Bahkan hubungan ini berjalan sangat cepat, hingga membuat Sarah dimabuk cinta oleh pria yang 10 tahun lebih tua darinya.

Kedekatan Sarah dengan Devan, membuat Lisa sangat cemburu. Ia merasa sahabatnya sudah tidak mementingkan dirinya lagi. Lisa semakin kesal, ketika ia tahu bahwa Sarah kerap mengirimkan foto-foto seksinya pada Devan dengan alasan prospek kelas kebugaran.

Lisa sampai nekat mengirimkan foto seksinya pada Devan untuk membuktikan kalau semua pria itu sama brengseknya. Sarah marah besar pada Lisa, apalagi setelah membaca balasan genit dari Devan. Sejak hari itu hubungan Sarah dan Lisa semakin renggang.

Lisa memilih untuk mendekatkan diri dengan Fita, ia ikut kelas membuat roti milik Fita dan belajar banyak hal darinya. Fita membuat Lisa memahami kesalahannya, ternyata selama ini ia sudah menertawakan dan menghakimi seorang korban kekerasan seksual.

Fita mengakui bahwa wanita dalam video itu adalah dirinya. Namun yang orang tidak tahu, video itu dibuatnya dengan sang suami. Ketika imajinasi suaminya semakin liar dan kasar, Fita minta cerai.

Sang suami mengikuti keinginannya, namun video seks mereka disebarkan untuk merusak hidupnya. Fita mengatakan bukan hanya Lisa yang pernah mengikuti dan menghakiminya seperti ini.

Sudah banyak yang melakukan hal tersebut, tapi hanya Lisa yang mau jujur dan meminta maaf. Di sisi lain, Lisa dikejutkan dengan perubahan drastis yang terjadi pada Sarah.

Tepat saat Sarah berulang tahun yang ke 18, gadis itu justru terlihat sangat murung. Bahkan Sarah terlihat begitu tertekan dan ketakutan, apalagi saat ia bersama dengan Devan. Untungnya Lisa yang sadar dan berhasil membawa Sarah pergi.

Saat dirumahnya, ia melihat bagaimana Sarah kesulitan untuk bergerak. Lisa bertanya hingga memaksa Sarah untuk buka mulut, hingga akhirnya ia tahu bahwa sahabatnya adalah korban pemerkosaan.

Sarah menolaknya, ia mengatakan kalau Devan tidak mendengar penolakannya dan mereka sudah putus. Keesokan harinya, video seks Sarah tiba-tiba saja muncul di media sosial dan menggemparkan sekolah.

Sarah hancur, ia tidak percaya kalau Devan yang terlihat mencintainya ternyata hanya memanfaatkannya. Lisa yang tidak kuat melihat penderitaan sahabatnya, berusaha menggertak Devan.

Bahkan kakak Sarah sudah mencoba melaporkan hal ini pada pihak berwajib. Namun hukum malah menghakimi Sarah, bahkan pengacara mengatakan adiknya bisa saja yang dijembloskan ke penjara.

Sarah dan Lisa kini paham, perkataan ajaib mereka “no face, no case” tidak ada gunanya lagi. Bahkan hukum yang seharusnya melindunginya, malah memaksa Sarah untuk berdamai dengan Devan.

Lisa merasa muak dengan kenyataan ini. Ia memohon agar Sarah mau terus berjuang. Apakah Sarah akan menandatangani perjanjian damai atau berdiri bersama Lisa dan terus melawan?

Kenapa Selalu Remaja yang Jadi Korban Predator Seks?

Kenapa Selalu Remaja yang Jadi Korban Predator Seks?

Melihat Like & Share (2022), saya tidak kaget melihat realita kalau remaja selalu jadi korban pelecehan dan kekerasan seksual. Ada satu kalimat yang sering dikatakan Sarah dan Lisa, “no face, no case”. Sebenarnya hal ini tidak salah, namun tidak bisa dibenarkan.

Gina S. Noer memperlihatkan, bahwa perkataan orang kalau remaja di era digital ini terlihat jauh lebih dewasa tidak benar adanya. Remaja tetaplah remaja, bahkan hadirnya internet dan media sosial malah memberikan influence tidak baik. Apalagi kurangnya pengawasan orang dewasa dan edukasi seks, bikin rasa penasaran para remaja tidak terkontrol.

Penafsiran yang salah soal seks, akhirnya membuat mereka kehilangan hidup normal dan masa depan yang layak mereka dapatkan untuk selamanya. Bermodal “I love you” dan “Aku ingin hubungan yang dewasa”. Dua kata-kata mutiara predator seks ini berhasil memabukkan para gadis.

Sikap manipulatifnya, membuat mereka mudah berharap dan merasa bersalah ketika disebut “childish”. Kepolosan dan sikap denial mereka, membuat para remaja berpikir kalau mengirimkan foto tidak senonoh dan seks dengan pacar adalah bukti dari cintanya.

Dihakimi, Inilah Realita Korban Kekerasan Seks di Indonesia

Dihakimi, Inilah Realita Korban Kekerasan Seks di Indonesia

Harus diakui, kita sudah terbiasa menghakimi perempuan yang mendapatkan skandal seks di media sosial. Tanpa tahu kisah dibaliknya, orang akan berbondong-bondong like & share video porno tersebut.

Mirisnya orang-orang berkata mereka simpati, tapi tetap saja meminta link videonya untuk ditonton, lalu mereka simpan untuk pribadi dan dibagikan ke orang sekitarnya.

Bagaikan luka yang disiram garam, para korban perempuan, selalu jadi bahan hujatan di media sosial. Dihakimi, diintimidasi, jadi objek melampiaskan pikiran kotor dan lainnya.

Hukum yang harusnya melindungi korban pun malah menjadikan mereka sebagai tersangka. Menonton Like & Share (2022) saya kaget, sedih, marah dan merasa bersalah dengan realita hidup remaja dan wanita Indonesia.

Seperti yang dikatakan Devan, hanya hidup para perempuan yang rusak sedangkan pria bebas melenggang. Bukan hal yang aneh, korban kekerasan seksual di Indonesia memang memiliki nasib buruk.

Hukum pun tidak bisa memberikan keadilan, malah semakin menghakimi mereka. Apalagi belakangan ini korban pelecehan dan kekerasan seksual kerap terjadi pada remaja berusia belasan tahun.

Pujian untuk Tiga Karakter Utama Wanitanya

Pujian Untuk Tiga Karakter Utama Wanitanya

Menonton Like & Share (2022), baru kali ini saya merasa Aulia Sarah menunjukkan kualitasnya sebagai aktris. Gina S. Noer sempat membocorkan, hanya Aulia Sarah yang berani mengambil peran artis porno untuk filmnya.

Sementara sang aktris mengaku, ia percaya bahwa karakter Fita tidak akan sevulgar itu, apalagi ada SOP hingga storyboard yang aman selama mereka mengambil gambar.

Aulia Sarah memberikan duality yang sempat bikin penontonnya penasaran dan salah paham. Dikenal sebagai artis “bokep hp jatoh”, di tempat lain Fita justru tampil sederhana dan bersahaja.

Development hingga pembawaan karakternya terlihat luar biasa. Pujian juga akan saya berikan pada Aurora Ribero, pasalnya semakin lama aktris muda ini menunjukkan akting yang luar biasa.

Keluar dari zona nyaman, Aurora Ribero menunjukkan bahwa ia bisa menantang dirinya dengan karakter berbahaya. Kita bisa merasakan betapa gelisahnya Lisa, saat ia tidak bisa mengendalikan birahinya untuk menonton video porno Fita.

Bahkan perkembangan karakter sangat luar biasa, caranya bersimpati pada Fita dan berusaha untuk memberikan keadilan untuk Sarah. Dibalik segala kontroversinya, Arawinda Kirana memang memiliki potensi akting yang luar biasa. Aktris pendatang baru ini berani mengambil karakter sulit.

Bahkan karakter sebagai Sarah dalam film ini, terasa jauh lebih matang dan luar biasa dari Yuni (2021). Selain berani mengambil adegan intim, Arawinda berhasil mengalirkan perspektif, emosi, trauma dan derita yang dialami oleh korban kekerasan seksual.

Kritik Keras untuk Regulasi Hukum Indonesia

Kritik Keras untuk Regulasi Hukum Indonesia

Gina S. Noer mengatakan, bahwa Like & Share (2022) menunjukkan berbagai isu perempuan di era digital. Salah satunya adalah isu ketika wanita menjadi korban kekerasan seksual.

Hal ini terlihat dari dialog yang diucapkan oleh kuasa hukum Sarah. “Undang-undang yang sah bukan berarti perangkat hukumnya siap. Bagaimanapun ini Indonesia, masalah sistemik bertahun-tahun. Bisa-bisa Sarah yang dipenjara”

Meski singkat, saya terkejut dengan sikap gamblang yang ditampilkan Gina S. Noer soal hukum Indonesia. Bukan hal aneh lagi, kalau di Indonesia korban pelecehan seksual selalu dijadikan tersangka. Sudah banyak perempuan, baik dewasa maupun pelajar yang speak out.

Namun hukum malah membuat mereka jadi tersangka, pasalnya pelaku kerap melapor balik dengan banyak pasal cacat lainnya. Ada banyak contohnya, belakangan ini kita digemparkan dengan korban pelecehan seksual yang dihakimi oleh instansi pendidikan dan pekerjaannya.

Banyak pelajar perempuan yang dilecehkan, ketika melapor mereka malah dikeluarkan dari sekolah atau universitas. Banyak wanita karir yang dipecat tidak hormat dan diintimidasi, karena berani melaporkan pada pihak berwajib.

Terlihat Cheerful, Drama dan Sisi Vulgarnya Seimbang

Terlihat Cheerful, Drama dan Sisi Vulgarnya Seimbang

Like & Share (2022) menjadi salah satu film terbaik yang pernah saya tonton di tahun 2022. Mau tau alasannya? film ini memberikan saya experience berbeda saat melihat film yang cukup dewasa ini. Pujian saya berikan pada sutradara dan penulis Gina S. Noer, karena ide dan keberaniannya mengkritik hukum.

Dibuka dengan suara ASMR, saya kagum caranya menyatukan suara nyaring dengan ilustrasi seksual. Jujur, awalnya saya kaget dengan adegan vulgar yang ditampilkan sejak menit awal. Saya sempat skeptis, sepertinya Gina S. Noer terlalu berlebihan.

Nyatanya adegan-adegan vulgar itu penting, karena jadi modal untuk membuat penonton ikut merasakan derita Lisa, Sarah dan Fita. Berbeda dengan Dua Garis Biru (2018) dan Cinta Pertama, Kedua dan Terakhir (2021), saya pikir Like & Share (2022) terasa lebih bold.

Tema colorful bikin suasananya terasa lebih ceria. Pergantian scene atau editing-nya cukup halus, meski ada momen saat kamera tidak stabil. Skoring dan dialog yang disampaikan, benar-benar luar biasa. Bahkan adegan penutupnya menunjukkan sejauh apa rusaknya moral kita di media sosial.

Adegan penutupnya akan membuatmu menyesal atas apa yang terjadi pada para korban kekerasan seks di Indonesia. Kita tahu hukum tidak bisa melindungi hak hidup kita, maka dari itu berhati-hatilah. Mungkin inilah yang bisa kamu dapatkan saat menonton Like & Share (2022).

Film garapan Gina S. Noer ini menunjukkan bagaimana predator seks memperdayai korbannya. Tak hanya itu, kamu akan sadar betapa kejamnya jejak digital dan stop untuk memviralkan hal yang bisa saja menghancurkan hidup seseorang.

cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram