showpoiler-logo

Review & Sinopsis Manifest Season 4 Part 1, Cerita Semakin Rumit

Ditulis oleh Listiorini
Manifest Season 4 Part 1
2
/5
showpoiler-logo
PERHATIAN!
Artikel ini mengandung spoiler mengenai jalan cerita dari film/drama ini.

Selama lima tahun, sebagian keluarga Stone menghilang. Mereka dinyatakan tewas karena pesawat 828 yang ditumpangi tak kunjung kembali, bahkan hilang kontak. Namun, tiba-tiba pesawatnya kembali dengan seluruh penumpangnya secara utuh! Iya, utuh tanpa ada korban sama sekali.

Entah harus bersyukur atau justru apes, karena petaka satu persatu bermunculan sejak kembalinya pesawat 828 itu. Setalah dua tahun kejadian hilangnya pesawat pun ternyata petaka masih berlanjut. Istri Ben Stone tewas di tangan Angelina.

Angelina sang pembunuh egois itu juga menculik anak bungsu Ben. Belum lagi Cal yang tiba-tiba menghilang dan muncul dengan umur lebih tua dari seharusnya. Permasalahan yang datang bertubi-tubi itu seolah tak mau terlepas dan masih berputar di misteri hilangnya pesawat 828. Bagaimana akhir dari tragedi ini?

Baca Juga: Sinopsis & Review Manifest S3, yang Tersisa Terancam Binasa

Sinopsis

sinopsis manifest s4_

Pemandangan yang kurang menyenangkan terlihat di setiap sudut kediaman Stone. Ben Stone, sang kepala keluarga seolah tidak ada semangat untuk melanjutkan hidup. Istrinya tewas dibunuh. Anak bungsunya, Eden, diculik oleh sang pembunuh.

Sudah dua tahun belakangan ia frustasi mencari Eden kemana-mana, tetapi tidak ada satu pun clue yang membawanya pada Eden. Seluruh keluarga Stone frustasi melihat Ben yang begitu terpuruk hingga melupakan semuanya, termasuk 'calling'.

Ben mengabaikan semua panggilan ilahi itu dan fokus pada Eden. Ia bahkan lupa bahwa masih ada dua anak yang membutuhkan perhatian dari seorang bapak. Semua keluarga sudah mengingatkannya, tetapi Ben enggan move on dan bersikukuh bahwa Eden masih hidup.

Akhirnya, semua keluarga mencoba pasrah dan terus memaklumi kelakuan Ben. Tidak seperti Ben; Michaela, Cal, Olive, Saanvi, Zeke, bahkan Vence masih terus berusaha mengungkap setiap calling yang mereka alami.

Semua berawal dari calling yang dialami oleh Michaela. Ia melihat bunga sakura berguguran dengan gerakan lambat, melambai, menyentuh permukaan kulitnya yang halus. Begitu tenang dan indah, sampai Michaela pun tersenyum lebar melihat panggilan itu.

Panggilan selanjutnya, masih dengan bunga sakura. Namun kali ini, Michaela sedang berenang diselimuti oleh kelopak sakura yang cantik berwarna merah muda. Tetapi, panggilan ilahi yang satu ini agak berbeda. Sekelebat, Michaela melihat banyak kontainer berjejer. Salah satu kontainer itu punya lambang sakura, tepat di depan pintunya.

Mick (sebutan akrab Michaela) pun buru-buru menceritakan panggilan itu pada Cal. Hingga akhirnya, mereka berdua bisa menyimpulkan tempat yang harus dituju, yaitu pelabuhan. Cal punya keinginan yang sangat tinggi untuk ikut bersama Mick, tetapi keinginannya itu harus dikuburnya dalam-dalam.

Cal tidak bisa sembarang keluar rumah, untuk saat ini. Bahkan, identitasnya pun diganti dengan nama Gabriel. Cal paham betul alasannya, demi keselamatan. Pasalnya, Cal yang dikenal oleh orang-orang adalah seorang anak kecil yang bahkan SD saja belum lulus.

Tetapi, melihat penampilan Cal yang sekarang sudah seperti anak kuliahan, badan tinggi dengan parasnya yang cukup tampan seperti anak puber pada umumnya. Entah bagaimana Cal bisa tumbuh lebih dewasa dalam semalam. Misteri itu pun masih sering dipertanyakan oleh dirinya dan seluruh keluarga Stone.

Jadi, Cal kini hanya bisa pasrah, identitasnya tidak boleh dibongkar ke publik. Bahkan, ia tidak bisa pergi menyelidiki calling itu bersmaa Mick. Mick pun berangkat sendiri dan mencari lokasi kontainer berlambang sakura itu.

Ketemu! Mick langsung membongkar paksa pintu kontainer yang dibalut oleh gembok. Ia masuk ke dalamnya perlahan, mengendap seperti maling takut ketahuan sang tuan rumah. Hingga akhirnya, ia dikejutkan dengan kehadiran seorang kakek tua berkebangsaan Asia.

Kakek itu dalam kondisi yang cukup mengenaskan. Kulit berkeriput sudah tak kencang, ditambah mata cekung terlihat sangat kelaparan. Tetapi dia terus mengulang satu kalimat yang membuat Mick langsung membawanya pada Saanvi.

"Anak itu... aku harus menemui anak itu." Begitu kata si kakek tua dengan suaranya yang bernada lemah hampir tak bertenaga.

Sesampainya di tempat persembunyian Saanvi dan Vence, kakek tua langsung dirawat hingga pulih. Dan akhirnya, kita tahu bahwa kakek itu punya sebutan 'Kim.' Ia bersikukuh ingin bertemu 'the boy' yang bahkan Mick, Saanvi, dan Vence pun kebingungan.

Kemudian, Cal pun muncul dan menggenggam tangan Kim, sambil berkata "Ini dia anak yang aku cari. Kau harus ambil kotaknya." Itu pesan yang cukup penting. Kotak apa? Mick membawa Kim tanpa kotak apapun! Akhirnya, Mick dan Cal mencari kotak itu ke pelabuhan, tempat dimana Kim ditemukan.

Ketemu! Kotak itu ternyata adalah balck box dari pesawat 828. Bagaimana bisa Kim memilikinya? Kenapa harus diberikan pada Cal? Misteri demi misteri semakin menjadi PR untuk Mick cees mengungkapkannya.

Belum lagi, kini Angelina semakin gila karena kabur dari persembunyiannya. Yang lebih gila lagi, Angelina membawa kabur Eden dibantu oleh orang yang dikenal Ben, yaitu Adrian. Awalnya, Adrian merasa iba dengan Angelina, tetapi semua perasaan itu pun semakin memudar.

Ia sadar bahwa Angelina mulai kehilangan akal sehatnya. Ia tidak mau menyebut dirinya sebagai penculik Eden. Ia percaya bahwa Eden adalah malaikat penjaganya. Makanya, Eden dibawa kemana pun Angelina pergi demi mencapai tujuan Ilahi yang dia anut.

Entah sekte apa yang merasuki Angelina sampai ia berpikir seperti itu. Namun belakangan diketahui bahwa setiap panggilan ilahi yang didapatkan penumpang pesawat 828, serta segala misteri hilangnya pesawat 828, semuanya berkumpul pada satu titik, yaitu Omega Saphire.

Ternyata ada sebuah batu Omega Saphire dengan kekuatan ilahi. Batu itu bisa memanipulasi panggilan ilahi. Dan sialnya, kini batu Omega Saphire berada di tangan yang salah, Angelina. Ia berniat untuk menjadi malaikat sang ilahi dengan kekuatan Omega Saphire.

Kini, tujuan keluarga stone dan penumpang pesawat 828 waras lainnya adalah menghentikan Angelina, menghentikan kemusnahan masal di muka bumi.

Alur Maju yang Membingungkan

alur maju yang membingungkan_

Di awal kemunculannya, Manifest bisa dibilang sangat potensial sebagai serial sukses. Namun, setelah melewati season 2, Manifest tidak banyak menunjukkan hal baru. Semua formula, cara penyampaian cerita, hingga alurnya pun masih serupa.

Sebenarnya tidak apa-apa, yang jadi masalah adalah ketika penyajian alurnya terlalu monoton. Hal tersebut membuat penonton lebih cepat merasa bosan dan enggan melanjutkannya lagi. Itulah yang terjadi pada season 4 ini.

Padahal, di musim ke-4 ini ia dibekali alur maju yang seharusnya lebih mudah dipahami. Meski ada beberapa sedikit kilasan masa lalu, tetapi flashback yang disajikan terasa kosong dan tidak ada informasi baru.

Hal lain yang membuatnya semakin datar adalah misteri serta clue yang tersaji terasa sangat membingungkan. Setiap episodenya punya banyak informasi asing yang harus diserap oleh penonton.

Saking banyaknya, terkadang Saya sebagai penonton pun lupa dengan informasi yang diberikan. Alhasil, Saya agak mengerenyitkan kening dan kebingungan sendiri ketika informasi di episode awal diungkap secara tiba-tiba di beberapa episode akhir.

Perkembangan Karakter Monoton, Kualitas Akting Jempolan!

Perkembangan Karakter Monoton, Kualitas Akting Jempolan_

Ada dua catatan lain untuk Manifest season 4 ini. Yang pertama, kabar baiknya adalah akting para pemeran bisa dibilang cukup bagus. Mereka sepertinya sudah tahu setiap sifat dan karakter dari perannya masing-masing.

Saya sangat menyukai akting Josh Dallas sebagai Ben Stone. Ia bisa mengekspresikan seorang bapak yang frustasi kehilangan anaknya dengan sangat baik. Kesedihan yang mendalam diperlihatkan sangat bagus dari setiap sudut sorot matanya. Saya sampai bisa merasakan betapa ia sangat sedih kehilangan sang anak bungsu.

Lalu, Saya juga ingin memuji Holly Taylor sebagai villain di musim ini, yaitu Angelina. Obsesinya pada Eden terlihat sangat creepy seperti psikopat yang memang gila akan keagungan ilahi. Setidaknya dua aktor dan artis yang disebutkan tadi cukup potensial, dan membuat enjoy penonton.

Sayangnya, meski sudah didukung oleh kualitas akting yang cukup mumpuni, tetapi perkembangan setiap karakternya tidak terlalu menonjol. Saya sangat menyayangkan karakter Zeke yang semakin melempem.

Padahal, sejak awal kemunculannya, Zeke begitu potensial akan menjadi pemeran inti di Manifest. Tetapi, sepertinya Zeke hanya bisa puas sebagai pendamping dan penyelamat Cal saja.

Pasalnya, di akhir episode, karakter Zeke kembali dibuat menonjol dengan mengorbankan nyawa demi Cal. Entah Zeke dimatikan atau tidak, mari tunggu kelanjutannya!

Selain Zeke, Saya juga kurang suka perkembangan karakter Mick. Ia terlalu monoton untuk seorang hero di series ini. Tidak ada hal yang baru dalam dirinya selain kegalauannya yang masih belum move on dari Jared. Selebihnya, karakter Mick tidak memberikan sesuatu spesial atau gebrakan baru.

Mungkin karena di musim kali ini ingin lebih menonjolkan Cal sebagai hero. Pasalnya, hampir setiap episode pasti ada hubungannya dengan Cal.

Sinematografi yang Kurang Memukau

Sinematografi yang Kurang Memukau_

Sejak season satu sampai tiga, Manifest berada di bawah naungan NBC. Namun, di musim keempat ini Manifest mulai diambil alih oleh Netflix sebagai series original-nya. Untuk perusahaan produksinya juga cukup tenar karena membawa nama Warner Bros ke dalamnya.

Sayangnya, ketenaran Warner Bros ini tidak didukung dengan sinematografi yang apik. Saya merasa tampilan visual dalam series ini terlalu biasa. Pengambilan sudut kameranya juga terlalu monoton, tidak dinamis dan terasa sangat lurus saja.

Lalu, untuk CGI-nya juga kurang mengesankan, terutama saat adegan Cal mendapatkan calling tentang kebakaran dan lahar. Terasa sekali bahwa CGI yang ditampilkan sangat mentah, seperti bukan produksi dari Warner.

Kemudian, visual flashback yang ditampilkan juga terasa kaku. Terlalu kelam untuk sebuah flashback, seolah itu bukan flashback tapi hanya ingatan suram saja. Padahal, tidak semua flashback yang ditampilkan adalah ingatan masa lalu yang suram. Ada juga beberapa flashback yang bikin tersenyum bahagia.

Secara kesuluruhan, Manifest S4 ini tidak terlalu mengesankan, masih banyak celah di sana sini yang bikin Saya agak bosan saat menontonnya. Meski begitu, ada beberapa poin yang bikin Saya tetap maju untuk menyelesaikan series ini sampai akhir.

Saya cukup penasaran dengan akhir dari ceritanya dan misteri ilahi yang selalu disebut pada musim keempat ini. Harapannya, season 4 di part berikutnya bisa menampilkan ending yang lebih gong dan memberi kesan yang tak terlupakan.

cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram