logo web

Sinopsis & Review Queen Charlotte: A Bridgerton Story (2023)

Ditulis oleh Dhany Wahyudi
Queen Charlotte: A Bridgerton Story
4.1
/5
showpoiler-logo
PERHATIAN!
Artikel ini mengandung spoiler mengenai jalan cerita dari film/drama ini.

Datang dari Jerman untuk menjadi Ratu Inggris di usia muda ternyata bukanlah hal yang menyenangkan bagi Charlotte. Selain dia belum mengenal calon suaminya, dia juga harus berhadapan dengan ibu dari Sang Raja yang memandang sebelah mata padanya.

Sekuat tenaga dan pikiran dalam menepis semua masalah yang datang, membuatnya menjadi seorang ratu yang bertahta cukup lama di Kerajaan Inggris.

Queen Charlotte: A Bridgerton Story adalah miniseri drama sejarah yang menceritakan dua masa kehidupan Sang Ratu, yaitu di tahun 1761 dan 1817. Miniseri Netflix ini merupakan spin-off serial Bridgerton yang menjadi prekuel sekaligus sekuel dari kisah utamanya.

Meski fokus ceritanya ada pada sosok Queen Charlotte, namun beberapa karakter lain yang juga hadir di serial Bridgerton mendapat porsi yang cukup, terutama keterkaitannya dengan Sang Ratu.

Apakah miniseri ini tampil sebaik serial utamanya yang sangat digandrungi oleh para penonton? Untuk mengetahuinya, simak review berikut sebelum menontonnya di Netflix.

Baca juga: 10 Fakta Serial Bridgerton Season 2, Drama Netflix yang Hits

Sinopsis

Sinopsis

Di tahun 1761, Charlotte berangkat ke Inggris dari tanah kelahirannya di Jerman sebagai calon istri Raja George III. Semua ini bermula dari kesepakatan antara Adolphus, kakak dari Charlotte, dengan perwakilan dari Raja George III.

Charlotte sendiri saat itu masih berusia 17 tahun dan tidak mengenal sama sekali sosok calon suaminya. Sesampainya di Inggris, Charlotte mengejutkan ibu dari Sang Raja, Putri Augusta, yang tidak menyangka bahwa calon menantunya adalah wanita berkulit hitam.

Dengan segera, dia menitahkan untuk mengundang para bangsawan dari kalangan kulit berwarna untuk hadir di acara pernikahan. Beberapa diantaranya dinaikkan statusnya di kerajaan, salah satunya adalah Lord Danbury.

Sempat hendak melarikan diri sesaat sebelum akad nikah, Charlotte terpesona oleh kharisma seorang pria yang menghalanginya untuk melompat dari pagar istana. Ternyata pria itu adalah Sang Raja sendiri. Setelah perbincangan singkat, Charlotte setuju untuk menikah dengan Raja George III.

Kebahagiaan di pesta pernikahan sesaat memudar ketika malamnya Sang Raja mengantar Ratu Charlotte ke Istana Buckingham sebagai tempat tinggalnya. Charlotte terkejut ketika menyadari bahwa dia harus tinggal terpisah dengan George yang akan menempati Istana Kew.

Hari demi hari dilaluinya dengan rutinitas membosankan seorang diri, padahal seharusnya itu adalah masa bulan madu bagi mereka. Dilarang untuk mengundang tamu dari luar, kecuali seorang saja, Charlotte mendatangkan Lady Danbury untuk menemaninya menikmati teh di istana.

Lady Danbury membantu Charlotte untuk mengetahui peran istri bagi suaminya, terutama urusan memberikan keturunan. Merasa kesal seorang diri, Charlotte mengunjungi George di Istana Kew secara mendadak.

Bermaksud hendak memarahi suaminya, dia terkejut ketika menyadari riset George terhadap Planet Venus di planetariumnya. Terkesima dengan kepintaran Sang Raja, Charlotte meminta maaf dan mereka mengulang janji untuk saling terbuka satu sama lain serta saling mencinta.

Ketika hati sedang berbunga, Charlotte secara tidak sengaja mendengar perbincangan George dengan ibunya yang menyatakan bahwa dia menyembunyikan jati diri sebenarnya.

Merasa dikecewakan, Charlotte sedikit uring-uringan namun tetap rutin bersama suaminya karena tuntutan Putri Augusta untuk segera memiliki anak yang akan menjadi pewaris tahta kerajaan.

Charlotte juga kemudian menerima kesukaan berkebun George dan mendukungnya. Mereka kemudian menghadiri pesta yang diselenggarakan oleh Lord Danbury sebagai tamu kehormatan.

Dengan kedatangan mereka, semua bangsawan yang awalnya enggan hadir mendadak memenuhi Istana Danbury, begitu juga Putri Augusta yang melihat kebahagiaan di wajah putranya.

Di malam harinya, Charlotte terbangun dari tidur dan mendapati George sedang menggambar konstelasi Venus di tembok. Charlotte lalu mengejar George yang lari ke taman dalam kondisi panik dan tampak kebingungan.

George lalu membuka bajunya dan berseru kepada Venus. Menyadari ada masalah gangguan mental pada suaminya, Charlotte merangkulnya dan membawanya masuk ke istana.

Ternyata sebelum memulai rencana pernikahan, George sedang menjalani terapi dengan Doctor Monro untuk mengatasi masalah gangguan mentalnya.

Namun setelah merasa mendapatkan ketenangan saat bersama Charlotte, George memutuskan berhenti dari terapi dan pindah ke Istana Buckingham. Doctor Monro tetap dijadikan dokter pribadi oleh Charlotte untuk menangani kehamilannya.

Berita kehamilan ini memicu kembali gangguan mental George yang membuatnya memilih untuk kembali ke Istana Kew. Charlotte yang sulit untuk menemui George, hanya bisa mengirimkan surat yang tak pernah dibaca oleh suaminya itu.

Setelah sempat melarikan diri ke Istana Danbury, Charlotte memberanikan diri untuk menemui George di Istana Kew. Ternyata dia mendapati George sedang diterapi dengan cara menjalani berbagai macam penyiksaan.

Charlotte dengan segera memecat Doctor Monro dengan mengambil alih pengobatan George dibawah pengawasannya. Sang Raja berangsur membaik berkat kesabaran dan ketenangan Charlotte yang kemudian melahirkan seorang putra yang akan menjadi penerus tahta kerajaan.

Namun tanpa Charlotte, George tak mampu menghadapi parlemen dan rakyatnya. Lalu apa lagi yang harus dilakukan Charlotte untuk suaminya?

Temukan jawabannya dengan menonton 6 episode miniseri ini hingga tuntas dan kita akan dibuat mengerti proses pembentukan karakter yang membuatnya menjadi salah satu Ratu Inggris yang disegani pada masanya.

Sosok Ratu Charlotte dalam Lintasan Sejarah

Sosok Ratu Charlotte dalam Lintasan Sejarah

Charlotte lahir di Mirow, salah satu daerah kekuasaan Duke of Mecklenburg-Strelitz yang pada masa itu merupakan bagian dari Kerajaan Romawi Suci yang terletak di Jerman kini. Di usia 17 tahun, dia sudah menjadi Ratu Inggris mendampingi Raja George III.

Dia adalah permaisuri terlama dalam sejarah Kerajaan Inggris, yaitu 57 tahun 70 hari. Dari hasil pernikahan ini, Charlotte telah melahirkan 15 orang anak yang dua diantaranya wafat saat masih kecil.

Dari 13 anak ini, tiga orang diantaranya tidak menikah yang tidak dijelaskan alasannya. Dua putranya, George IV dan William IV menjadi Raja Inggris setelah ayah mereka tiada.

Selain itu, putri sulung mereka, Charlotte Princess Royal, menjadi istri Raja Frederick I dan Ernest Augustus menjadi Raja Hanover. Sumbangsih Ratu Charlotte selama menjadi permaisuri adalah membangun taman di Istana Kew dan memperkenalkan pohon Natal kepada bangsa Inggris.

Dia merasa tertekan akibat gangguan mental Raja George III meski masih bisa bersanding bersamanya hingga akhir hayatnya. Ratu Charlotte juga bersahabat dekat dengan Ratu Marie Antoinette dari Prancis dan kabarnya Revolusi Prancis dipicu karena ketegangan emosi yang dirasakannya.

Karena memiliki leluhur dari Afrika, berhembus teori bahwa Ratu Charlotte berkulit hitam, atau setidaknya memiliki kulit yang sedikit gelap. Meski dari berbagai lukisan yang menggambarkan fisiknya berkulit putih, teori ini terus berkembang dan turut mempengaruhi penggambaran Sang Ratu di serial Bridgerton dan Queen Charlotte ini.

Tapi menurut pendapat ahli sejarah yang terkuat, Ratu Charlotte tidaklah memiliki kulit yang gelap. Meskipun memang benar dia memiliki leluhur dari bangsa Afrika, namun karena sudah banyak melalui percampuran dengan bangsa lain dalam silsilahnya, Ratu Charlotte dinyatakan memiliki kulit yang putih layaknya wanita Eropa pada umumnya.

Sempat disinggung juga di dalam cerita miniseri ini bahwa Charlotte memiliki darah bangsa Moor. Namun menurut pendapat para ahli sejarah lagi, penamaan Moor pada masa itu tidak lagi identik dengan suatu bangsa tapi lebih kepada identitas keagamaan.

Istilah Moor pada masa itu digunakan untuk warga Muslim Eropa yang ada di Malta, Sisilia, dan Semenanjung Iberia yang berasal dari Afrika Utara. Miniseri ini bukanlah kisah Ratu Charlotte yang pertama di dunia sinema.

Film The Madness of King George (1994) menggambarkan secara detail masalah kesehatan mental Sang Raja, meski jalan ceritanya juga berdasarkan pentas teater dan merupakan fiksionalisasi dari fakta sejarah sama seperti yang Shonda Rimes lakukan di miniseri ini.

Di film tersebut, Ratu Charlotte diperankan oleh Helen Mirren dengan cemerlang yang membawanya masuk nominasi Oscar di kategori Best Supporting Actress.

Memiliki Kisah yang Padat dan Berbobot

Memiliki Kisah yang Padat dan Berbobot

Sebagai bagian dari serial Bridgerton, tentu saja Queen Charlotte: A Bridgerton Story tampil dengan nuansa yang serupa dengan serial induknya tersebut. Bahkan narasi dari Lady Whistledown tetap dihadirkan, meski sosoknya tidak ditampilkan.

Menuturkan dua kisah dalam dua masa berbeda, hubungannya terkesan sedikit dipaksakan, meski masih bisa dimaklumi ketika kesimpulan ceritanya dipaparkan di penghujung episode terakhirnya.

Masa yang pertama dan menjadi pondasi utama cerita adalah di tahun 1761 saat Charlotte memulai perannya sebagai permaisuri Raja George III.

Di sini kita bisa melihat pembentukan sikap Charlotte yang kita kenal di dua season Bridgerton sebagai seorang ratu yang setiap tahunnya menyelenggarakan acara perjodohan.

Karakternya yang tampak tangguh dengan nada bicara tegas sedikit sinis terbentuk karena berbagai masalah yang dia hadapi di tahun pertamanya mendampingi Raja George III.

Mulai dari masalah diskriminasi ras, peran wanita pada zaman itu, protokoler istana yang kaku, hingga menghadapi kesehatan mental suami yang terganggu. Semua dipaparkan dengan runut dan rapi sehingga kita mudah untuk meresapinya.

Dengan begitu, kita dibuat sangat paham dengan jalan pikiran dan yang dirasakan oleh Ratu Charlotte dalam menjalankan perannya sebagai permaisuri raja.

Namun yang paling ditekankan dan yang membuat cerita miniseri ini lebih berbobot daripada Bridgerton adalah pergulatan batin dan perjuangan Ratu Charlotte sebagai seorang wanita yang hidup di masa itu.

Nyaris dianggap hanya sebagai alat pencetak keturunan, meskipun seorang bangsawan dan tinggal di lingkungan kerajaan, wanita di zaman itu tidak bisa bergerak dengan bebas.

Seperti Ratu Charlotte yang terkungkung dengan kakunya protokoler kerajaan, dia juga pernah merasakan pahitnya menjadi alat pencetak keturunan yang bahkan tidak berhak atas dirinya sendiri.

Namun setelah dia mengambil sikap dan berhasil membuat kondisi mental George stabil, Charlotte menancapkan perannya dan mulai merubah tatanan kaku di Kerajaan Inggris.

Sang Ratu tidak berjuang sendirian, karena teriring juga kisah Lady Danbury yang ingin mendapat kesetaraan hak sebagai bangsawan meski berasal dari kalangan kulit berwarna. Kedekatannya dengan Charlotte menjadi bumbu menarik yang mewarnai jalan cerita miniseri ini.

Namun kisah persahabatan Lady Danbury dan Violet Bridgerton di tahun 1817 seperti dipaksakan dan terlepas dari alur utama cerita. Jalan cerita yang menarik ini diselingi dengan kisah Ratu Charlotte di tahun 1817 yang berusaha untuk memaksa 13 anaknya agar segera menikah dan memberikannya cucu.

Kurang terkoneksi dengan baik, terutama dari sisi emosinya, membuat kisah di era ini terlihat sedikit dipaksakan. Namun untungnya, kesimpulan di penghujung episode akhir mampu merangkum itu semua dengan baik dan membuat kita mengerti tentang posisi, peran dan perasaan Ratu Charlotte sebagai seorang ibu.

Bisa dibayangkan betapa pedih perasaannya bahwa dia sukses menyelenggarakan acara perjodohan di setiap tahunnya namun tidak mampu mencarikan jodoh yang tepat bagi anak-anaknya.

Penampilan Apik Para Pemerannya dan Iringan Musik yang Menggugah Hati

Penampilan Apik Para Pemerannya dan Iringan Musik yang Menggugah Hati

Penampilan Golda Rosheuvel yang mencuri perhatian sebagai Ratu Charlotte di dua season serial Bridgerton semakin dikuatkan di miniseri ini. Dia kembali menampilkan sosok Ratu Inggris yang tegas dengan gaya bicara yang sinis.

Tapi berbeda dengan di Bridgerton dimana lawan bicaranya adalah para orang tua atau rekan sejawat, di miniseri ini dia berhadapan dengan anak-anaknya.

Mungkin akan mudah apabila putra-putrinya adalah anak-anak yang penurut kepada orang tua, tapi dalam kisahnya, mereka memang sulit untuk menemukan pasangan dari kalangan yang layak menurut Sang Ratu.

Berbagai nasihat sudah diberikan, namun pembangkangan tetap saja ada. Hingga akhirnya dia menikahkan paksa dua putranya dalam perannya sebagai seorang ratu.

Kerasnya sikap Ratu Charlotte yang dibawakan Golda Rosheuvel ini berhasil di duplikasi dengan baik oleh India Amarteifio yang membawakan karakter Charlotte di usia 17 tahun.

Tidak hanya ada kemiripan pada wajah, namun juga dari gerak badan hingga cara bicaranya terlihat serupa. Banyak kritikus yang menilai bahwa India Amarteifio ini terlahir untuk memerankan karakter Charlotte muda.

Tapi dibalik sikap yang keras dan tegas tersebut, baik Golda maupun India juga berhasil menampilkan sisi kelembutan hati seorang wanita, terutama terhadap suaminya.

Kesabaran dan ketabahan Charlotte muda dalam menangani masalah mental George dibawakan dengan sangat baik dan meyakinkan, bahkan hingga membuat batin kita pun merasa tenang saat melihatnya.

Dan kelembutan sikap Sang Ratu ini juga diperlihatkan dengan baik oleh Golda di episode terakhir ketika dia bersuka cita dengan kabar kehamilan menantunya. Ucapan terima kasihnya terasa sangat tulus.

Dan kelembutan sikap ini juga dibawanya saat menemui George yang sudah tua dan tenggelam lebih dalam dengan masalah kejiwaannya. Perasaan tenang berhasil mengendap di hati kita karenanya.

Sama seperti serial Bridgerton, Queen Charlotte: A Bridgerton Story ini juga menghadirkan ragam kostum yang sangat spektakuler. Tidak ada yang terlihat buruk, semuanya tampak modis dan mempesona dalam balutan kostum tersebut.

Satu sisi lagi yang patut diapresiasi lebih adalah iringan lagu kontemporer yang dibawakan dalam format musik klasik yang bersahaja namun indah. Semua ini berkat tangan dingin Kris Bowers yang menjadi penggubah musik di dua season Bridgerton sebelumnya.

Beberapa lagu hits, seperti “If I Ain’t Got You” milik Alicia Keys dan “I Will Always Love You” milik Dolly Parton terdengar begitu harmonis dalam balutan musik klasik. Dan lagu-lagu kontemporer ini ternyata sangat cocok mengiringi para bangsawan ini berdansa.

Hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya dan menjadi daya tarik serta kekuatan tersendiri bagi serial Bridgerton juga miniseri ini. Queen Charlotte: A Bridgerton Story menjadi salah satu serial yang wajib kalian tonton dan bisa menjadi salah satu kandidat kuat dalam ajang penghargaan insan pertelevisian di tahun depan.

Dengan cerita yang berbobot, terutama dalam mengupas emosi dan psikologis karakternya, performa para pemerannya pun mampu menghanyutkan kita dalam jalan cerita yang menarik ini.

Bisa dibilang, miniseri ini tampil lebih baik di segala sisi daripada dua season Bridgerton yang sudah tayang sebelumnya. Dan tentu saja semakin mencerahkan masa depan serialnya yang sudah dipastikan akan berlanjut hingga ke season 4 dan rencana pengembangan semesta Bridgerton dengan beberapa spin-off.

Abaikan berbagai fakta sejarah yang tidak akurat dan fokuskan pada pergulatan batin Ratu Charlotte, maka miniseri ini akan sempurna menyentuh hati kita dengan kisah perjuangannya bagi diri, suami, keluarga dan bangsanya. Jika belum menontonnya, maka sekarang adalah waktu yang tepat. Selamat menyaksikan!

Kategori:
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram