logo web

Sinopsis & Review The Boy and The Heron, Kisah Penerimaan

Ditulis oleh Sera Serinda A
The Boy and The Heron
3.8
/5
showpoiler-logo
PERHATIAN!
Artikel ini mengandung spoiler mengenai jalan cerita dari film/drama ini.

Sempat booming karena disebut sebagai karya terakhir Hayao Miyazaki sebelum pensiun, kehadiran The Boy and The Heron sangat ditunggu oleh para penggemar Studio Ghibli.

Alhasil saat pertama dirilis di Jepang, film ini langsung menorehkan prestasi menjadi film dengan pendapatan terbesar dalam sejarah Studio Ghibli di awal perilisannya karena berhasil meraih pendapatan sebesar 13,2 juta dolar.

Ketika akan ditayangkan di bioskop berbagai negara, Hayao Miyazaki pun menyatakan bahwa ia tak jadi pensiun dan akan melanjutkan kariernya sampai waktu yang tidak ditentukan. Berita bahagia ini membuat antusiasme penggemar internasional semakin tinggi dan tak sabar untuk menyaksikan masterpiece terbaru sang kreator.

Lantas, apa yang disajikan Hayao Miyazaki dalam The Boy and The Heron? Bila kamu penasaran, sebaiknya baca sinopsis dan ulasan film ini versi Showpoiler berikut!

Sinopsis

Review The Boy and The Heron_3_

Mengambil latar pada Perang Dunia II, Mahito Maki, seorang pemuda berusia 12 tahun, terbangun dari tidurnya di malam hari setelah mendengar teriakan ayahnya Shoichi. Sang ayah mengumumkan bahwa rumah sakit tempat ibunya, Hisako, dirawat mengalami kebakaran. Nahas, Hisako tidak dapat diselamatkan dari peristiwa tragis tersebut.

Setelah kepergian Hisako, Shoichi, yang juga merupakan pemilik pabrik amunisi udara, memutuskan untuk menikah lagi. Ia menikahi adik Hisako, Natsuko, yang juga merupakan bibi Mahito. Akibat pernikahan ini, Mahito terpaksa pindah ke tempat tinggal Natsuko di pedesaan.

Natsuko tinggal di sebuah rumah yang dekat dengan hutan dan tinggal bersama banyak pembantu yang sudah berumur. Meski begitu, kehidupan di rumah itu terasa hangat dan ramai, namun sayang, Mahito belum sepenuhnya bisa adjust dengan kehidupan barunya ini.

Meski cenderung diam dan selalu menuruti perintah, rupanya hati pemuda tersebut belum sepenuhnya bisa melepaskan kepergian ibunya. Mahito juga belum bisa menerima keberadaan Natsuko sebagai anggota keluarga barunya, apalagi setelah mengetahui bahwa Natsuko tengah mengandung, karena itulah ia malah membuat onar.

Mahito bahkan sampai berani melukai dirinya sendiri sebagai bentuk protes terhadap kehidupan barunya. Mahito sebenarnya bukan anak yang banyak bicara, tapi bukan berarti pemuda berumur 12 tahun ini tidak merasakan apa pun. Layaknya anak seusianya, Mahito tentu mengalami kesulitan dalam menerima kenyataan pahit yang tengah dihadapinya.

Review The Boy and The Heron_2_

Ketika sedang dalam perawatan di rumah karena luka yang dideritanya, Mahito mengalami kejadian aneh karena terus didekati oleh seekor burung bangau abu-abu. Burung bangau ini terus mengaggunya sejak pertama kali datang ke kediaman Natsuko.

Anehnya, Mahito selalu mendengar burung tersebut berbicara dalam bahasa manusia. Bahkan, bangau itu pernah mengantarkan Mahito pada sebuah menara tua di dalam hutan yang merupakan peninggalan kakek buyutnya, padahal menara tersebut sudah lama ditutup setelah kakek buyut Mahito hilang di dalamnya dan tidak pernah ditemukan.

Para pembantu percaya bahwa menara itu datang dari dunia lain karena banyak hal misterius terjadi di sana. Karena itu jugalah mereka tak berani untuk mendekati bangunan tua tersebut. Namun, burung bangau abu-abu yang selalu mengganggu Mahito terus menggoda agar Mahito masuk ke dalamnya.

Sampai suatu ketika, saat Natsuko menghilang ke dalam hutan dan Mahito berusaha mencarinya bersama salah satu pembantunya, Kiriko, sang bangau abu kembali menyambutnya di dalam menara tua. Sang bangau seolah memberi petunjuk bahwa Natsuko berada di sana, dan mau tidak mau, Mahito harus masuk ke dalamnya bersama Kiriko.

Setelah masuk ke dalam menara, berbagai kejadian aneh pun terjadi. Mereka disambut dengan perubahan sang bagau abu menjadi seperti manusia kerdil. Mahito juga melihat tubuh ibu kandungnya terbaring lemah di sana, meski ternyata itu hanya ilusi sang bangau.

Review The Boy and The Heron_1_

Tak lama, keduanya bahkan tertelan lantai menara yang membawa mereka ke dalam dunia fantasi aneh. Mahito lalu dihampiri oleh seorang nelayan muda di sana, yang ternyata adalah Kiriko.

Kiriko, yang di dunia alternatif ini masih muda, meminta bantuan Mahito untuk menangkap sebuah ikan besar yang akan diberikan pada makhluk berbentuk balon putih yang disebut Wara Wara. Bila sudah dewasa, para Wara Wara ini akan terbang ke langit dan lahir di dunia Mahito.

Namun, proses terbang Wara Wara ini malah diganggu oleh kelompok burung pelikan. Saat itulah Mahito bertemu seorang gadis bernama Himi, yang bisa mengeluarkan api dan membantu membakar para pelikan yang rakus, sehingga para Wara Wara dewasa bisa kembali terbang.

Review The Boy and The Heron_9_

Mahito lantas mengungkapkan tujuannya berada di dunia itu kepada Himi, dan beruntungnya, Himi bersedia membantu. Bahkan, Himi menyatakan bahwa Natsuko adalah adik kandungnya dan ia mengetahui tempat di mana Natsuko berada.

Dalam keadaan terbujur kaku dan tidak sadarkan diri, Natsuko rupanya disekap di ruangan persalinan. Mahito berusaha membangunkannya dan mengajaknya pulang, tapi Natsuko malah marah dan menyatakan kebenciannya pada Mahito. Natsuko lalu memerintahkan anak tirinya itu untuk pergi, meski Mahito tidak menyerah dan terus berusaha meyakinkannya untuk pulang.

Pertemuan mereka pun terbongkar oleh penyihir penjaga menara tersebut. Akibatnya, Mahito dipindahkan ke ruangan lain untuk dieksekusi oleh pasukan burung parkit yang menjaga menara. Himi juga ditahan oleh pasukan burung parkit ini, yang kemudian dibuat pingsan dan akan diserahkan kepada sang penyihir.

Beruntung Mahito berhasil menyelamatkan diri. Ia kemudian mencoba menyelamatkan Himi, meski malah berakhir bertemu dengan penyihir penjaga menara, yang juga ternyata adalah penyihir yang mengatur dunia fantasi tempatnya berada. Yang paling mengejutkan adalah fakta bahwa penyihir tersebut adalah kakek buyut Mahito.

Review The Boy and The Heron_8_

Kakek buyutnya itu rupanya sengaja membawa Mahito ke dunianya dan menawari Mahito tugas untuk menggantikannya menyusun tumpukan balok kayu, sebuah tugas yang hanya bisa dilakukan oleh keturunannya. Namun, Mahito menolak.

Mahito meyakinkan sang kakek buyut bahwa ia hanya akan menyelamatkan Natsuko dan Himi, lalu pulang dan hidup lebih baik di dunianya.

Sayang, meski sang kakek buyut menerima keinginan Mahito, salah satu makhluk yang juga menjaga menara kecewa dengan kabar bahwa dunia fantasi tempat mereka berada hanya diatur oleh sebuah tumpukan balok kayu. Kekacauan pun terjadi setelah itu, membuat dunia alternatif tersebut perlahan melebur.

Apakah yang sebenarnya terjadi? Akankah Mahito berhasil membawa pulang Natsuko dan Menyelamatkan Himi?

Pertahankan DNA Ghibli dan Ciri Khas Hayao Miyazaki

Review The Boy and The Heron_5_

Setelah 9 tahun vakum dalam memproduksi feature film, rupanya Ghibli tak pernah melupakan identitasnya. Film The Boy and Heron tetap menggunakan DNA animasi Ghibli yang membuat saya kembali nostalgia dengan film-film produksi studio ini di tahun 90an dan 2000an.

Bedanya, kemajuan teknologi membuat grafis dan animasi dalam film ini terasa lebih clear dan smooth. Beberapa benda juga digambarkan sangat artistik dan terasa lebih real ketimbang film-film sebelumnya.

Tak lupa, Hayao Miyazaki meninggalkan “jejak” dalam film ini yang membuat kita terkenang dengan film-film buatannya dulu. Bahkan, at some point saya merasa The Boy and The Heron merupakan perpaduan antara kisah dua anime pendahulunya.

Perjalanan Mahito yang tiba-tiba terjebak di dunia lain sangat mirip dengan kisah Chihiro dalam Spirited Away. Lalu, menara misterius yang menjadi gate bagi Mahito untuk pergi ke dunia lain pun serupa dengan kastil ajaib Howl dalam Howl’s Moving Castle. Tapi ini bukan berarti The Boy and The Heron tak punya identitasnya tersendiri ya.

Seperti dilansir dari The Conversation, film ini ternyata adalah autobiografi dari Hayao Miyazaki sendiri. Kisahnya seperti cerminan dari kehidupan Miyazaki, di mana ia mengingat kembali banyak kenangan dari beberapa dekade kehidupannya yang lalu. Sebuah harta karun berharga bagi para penggemar sang kreator yang mengetahui sepak terjang karirnya sejak lama.

Perjalanan Penerimaan Keluarga Baru

Review The Boy and The Heron_7_

Sama seperti film-film pendahulunya, banyak nilai yang diangkat Hayao Miyazaki dalam film ini. Walau saya tidak bisa menangkap semua metafora yang sang kreator letakkan dalam kisah The Boy and The Heron, ada satu nilai utama yang bisa saya simpulkan, yakni perjalanan penerimaan.

Petualangan protagonis kita, Mahito, ke dunia fantasi membuatnya sadar bahwa Natsuko menyanyanginya dengan sepenuh hati dan ia seharusnya memberikan kasih sayang yang sama pada ibu sambungnya itu.

Mahito juga akhirnya bisa merelakan kepergian ibunya setelah sebelumnya selalu bermimpi aneh tentang sang ibu, juga membuat onar karena ketidakrelaan menjalani kehidupan barunya.

Yang jelas, Mahito menyadari bahwa meskipun anggota keluarga barunya tidak terikat oleh hubungan darah, ia masih mampu merasakan kasih sayang keluarga yang tak kalah tulus dengan keluarga biologisnya.

Narasi yang Terasa Sedikit Kompleks

Review The Boy and The Heron_6_

Harus saya akui kalau narasi dalam film ini lebih kompleks dibandingkan film-film Hayao Miyazaki terdahulu. Meski penggambaran kisahnya bukan hal baru karena mengambil referensi dari karya-karya sebelumnya, pada pertengahan film menuju akhir, petualangan Mahito jadi terasa rumit dengan banyaknya simbolisme yang ditampilkan.

Bila ini film Miyazaki pertama yang kamu tonton, mungkin kamu akan kebingungan dengan makna para karakter dan setiap adegannya. Misalnya adegan di mana Mahito berusaha menyelamatkan Natsuko di ruang persalinan. Natsuko menyuruh Mahito untuk pergi meninggalkannya dan berkata bahwa ia membenci Mahito.

Adegan ini sebenarnya paralel dengan apa yang dilalui Mahito dengan ibu sambungnya itu di dunia nyata, di mana pada kenyataannya Mahito lah yang belum bisa menyukai keberadaan Natsuko. Lalu, ada juga adegan dimana sang penyihir penguasa dunia fantasi, yang ternyata adalah kakek buyut Mahito, mencoba mebangun tumpukan balok kayu dan meminta Mahito untuk melanjutkan tugasnya tersebut.

Tumpukan balok kayu ini rupanya merepresentasikan keseimbangan di dunia fantasi tempat mereka tinggal, dan kakek buyutnya berharap Mahito akan menjadi penerusnya dalam menjalankan tugas tersebut. Namun, Mahito memiliki pandangan yang berbeda dan memilih untuk meningkatkan kualitas hidup di dunia nyata daripada hidup di dunia fantasi tersebut.

Dinamika keluarga seperti ini seringkali kita temui, di mana salah satu anggota keluarga yang sudah tua berharap agar anggota keluarga yang lebih muda mengikuti jejak mereka, padahal pandangan itu tidak selalu merupakan pilihan terbaik.

Selain itu, masih banyak simbolisme lain yang muncul dari setiap adegan dan karakter dalam The Boy and The Heron yang berhubungan dengan rasa kehilangan, pendewasaan dan penerimaan.

Review The Boy and The Heron_Bacaterus_

Bagi saya The Boy and The Heron adalah karya Hayao Miyazaki lainnya yang tidak boleh dilewatkan, terutama bagi para penggemar yang ingin mengetahui perjalanan hidup sang animator. Meski ceritanya terasa lebih kompleks dibandingkan film-filmnya yang lalu, film ini memiliki banyak nilai kehidupan mendalam yang layak disimak.

Film ini juga berhasil mengobati rasa rindu saya terhadap Studio Ghibli yang sudah lama vakum dalam merilis feature film. Meredakan kehausan saya akan kisah petualangan ajaib menjelajahi dunia fantasi yang penuh dengan makhluk-makhluk imajinatif unik.

cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram