logo web

Sinopsis & Review The Power of the Dog, Marah dalam Diam

Ditulis oleh Dhany Wahyudi
The Power of The Dog
4.2
/5
showpoiler-logo
PERHATIAN!
Artikel ini mengandung spoiler mengenai jalan cerita dari film/drama ini.

Sifat tegas dan keras seorang peternak yang membuatnya disegani oleh semua orang, ternyata meninggalkan kesan negatif yang mendalam kepada seorang wanita dan putranya yang justru kemudian menikah dengan adiknya sendiri.

Sikap dingin darinya seolah intimidasi bagi orang lain yang bisa jadi justru menimbulkan efek negatif baginya di kemudian hari. The Power of the Dog adalah film drama yang menandakan kembalinya Jane Campion di kursi sutradara setelah 12 tahun vakum.

Menjadi original film Netflix, film bertema Western di era 1920-an ini dirilis pada 1 Desember 2021 setelah sebelumnya tayang perdana di Venice International Film Festival pada 2 September 2021 dan rilis terbatas pada 17 November 2021 lalu.

Tercium aroma Oscar di film ini, meski masih dini untuk diprediksi, berkat pengarahan apik dari Jane Campion yang berhasil meraih Silver Lion sebagai sutradara terbaik di Venice International Film Festival.

Performa akting yang powerful dari Benedict Cumberbatch juga menempatkan film ini dinominasikan di 12 kategori untuk ajang penghargaan Satellite Awards. Sudah penasaran dengan film yang merupakan adaptasi novel karya Thomas Savage ini? Simak review berikut sebelum menontonnya.

Sinopsis

sinopsis_
  • Tahun: 2021
  • Genre: Drama, Romance, Western
  • Produksi: See-Saw Films, Brightstar, Max Films International, BBC Films, Cross City Films, New Zealand Film Commission
  • Sutradara: Jane Campion
  • Pemeran: Benedict Cumberbatch, Kirsten Dunst, Jesse Plemons, Kodi Smit-McPhee

Pegunungan Montana, 1925. Burbank bersaudara, Phil dan George, menggiring hewan ternaknya bersama dengan seluruh pegawainya.

Mereka berhenti di sebuah kota kecil untuk makan dan menginap. Rose sebagai pemilik restoran dan hotel tempat mereka menginap, menjamu mereka dengan baik, meski sempat menangis karena ucapan Phil di meja makan.

Phil mengejek bunga kertas bikinan Peter, putra Rose, bahkan membakarnya demi untuk menyalakan rokoknya. George yang iba, datang ke dapur dan menenangkan hati Rose.

Sekembalinya ke peternakan, George sering pergi mengendarai mobil. Dia bilang ke Phil jika dia mengunjungi Rose. Phil kemudian menyindirnya, tetapi George bilang bahwa dia telah menikah dengan Rose.

Rose segera pindah ke peternakan bersama George, sedangkan Peter melanjutkan pendidikannya di sekolah kedokteran. Phil yang tidak suka dengan kehadiran Rose, selalu bersikap dingin. Awalnya Rose tidak peduli dengan sikap Phil, tapi lama kelamaan dia menjadi terintimidasi dengannya.

George bermaksud mengadakan jamuan makan malam dengan gubernur dan istrinya sebagai tamu undangan. Kedua orang tua Phil dan George datang untuk menghadiri perjamuan ini. George meminta Rose untuk bermain piano di depan gubernur nanti, bahkan dia membelikan piano baru untuknya.

Ketika sedang berlatih, Rose menutup semua pintu agar dia bisa fokus. Tiba-tiba terdengar suara gitar yang menyanyikan lagu yang sama dengan yang sedang dimainkan olehnya dari kamar Phil.

Rupanya Rose tidak sadar bahwa Phil masuk ke rumah dari tadi dan memainkan gitarnya mengikuti lagu yang sedang dipelajari oleh Rose.

Di acara jamuan makan malam, Rose bersikap canggung di hadapan gubernur dan kedua mertuanya. Apalagi gubernur selalu menanyakan tentang Phil yang tidak hadir, bahkan George sempat mengajaknya tapi Phil menolak karena masih kecewa dengan ucapan adiknya yang bilang jika dia harus mandi untuk hadir di acara itu.

Rose dipaksa George untuk bermain piano, tapi dia tidak mampu melanjutkan. Phil datang dan menyindirnya sesaat sebelum gubernur pamit untuk pulang.

Beberapa waktu kemudian, Peter datang ke peternakan selama masa liburan sekolah. Penampilannya yang berbeda dengan kaum pria di peternakan, mengundang sindiran pedas, terutama dari Phil.

Rose mulai sering meminum alkohol dan menjadi kecanduan karenanya. Dia menyimpan banyak botol alkohol di beberapa tempat, seperti di bawah bantalnya, di lemari kecil kamarnya, bahkan di tumpukan barang bekas di belakang rumah yang saat Rose meminumnya diketahui oleh Phil.

Peter sering berjalan-jalan di sekitar peternakan dan menemukan jalan yang sengaja ditutup di dalam hutan. Setelah menelusurinya, dia menemukan rumah kecil dengan banyak majalah di dalamnya dan juga bertemu dengan Phil yang sedang mandi di sungai. Phil marah dan mengejarnya.

Beberapa hari kemudian, Phil seperti melunak kepada Peter dengan mengajaknya mengobrol. Bahkan kemudian Phil membuatkan tali laso dan mengajari Peter untuk mengendarai kuda.

Setelah bisa menunggang kuda, Peter yang pernah membedah kelinci tangkapannya, menelusuri jalan pegunungan dan menemukan bangkai sapi, lalu dia mengulitinya.

Saat Phil dan Peter sedang membuat pagar, tangan Phil terluka saat hendak menangkap kelinci yang bersembunyi di bawah tumpukan kayu.

Rose yang tidak suka Peter dekat dengan Phil semakin tenggelam dalam pengaruh alkohol, bahkan dia berani memberikan kulit sapi milik Phil yang sedang dijemur kepada pedagang Indian yang membuat Phil murka setelah mengetahuinya.

Apakah Phil akan membalas apa yang dilakukan Rose tersebut? Bagaimana kelanjutan hubungan Phil dengan Peter? Akankah Rose berhenti dari kecanduannya?

Penasaran dengan akhir kisahnya? Tonton filmnya hingga selesai dan temukan agenda rahasia di detik terakhir dari salah satu karakternya yang menyebabkan salah satu dari mereka meninggal dunia.

Ritme Tenang Sarat Emosi

ritme tenang_

Jane Campion, sebagai salah satu sineas peraih Oscar, adalah sutradara yang pasti ditunggu akan karyanya. The Piano (1993) adalah pencapaian terbaiknya sejauh ini dimana dia meraih Oscar di kategori Best Original Screenplay dari film yang juga diarahkan olehnya.

Setelah terakhir kali menyuguhkan film Bright Star (2009), The Power of the Dog menjadi comeback-nya setelah vakum selama 12 tahun.

Dan ternyata penantian kita tidak dikecewakan sama sekali olehnya. Campion berhasil menyajikan kisah yang dipaparkan dengan sangat teliti dan hati-hati sehingga setiap adegan dan dialognya tidak ada yang sia-sia, semua penuh makna.

Campion menulis sendiri naskahnya dari novel karya Thomas Savage yang diterbitkan pada tahun 1967 ini, dan dia membagi kisahnya menjadi lima babak.

Ritme film memang cenderung lambat dan tenang, tapi di dalamnya mengendap emosi dari setiap karakter utamanya, terkhusus karakter Phil dan Rose.

Dua karakter inilah yang membuat tensi cerita terjaga secara stabil dengan perasaan takut kehilangan yang terpendam di dalam hati masing-masing. Rose takut kehilangan Peter dan Phil takut kehilangan George.

Cerita yang dibangun dengan sabar, membuat kita setia menanti ledakan emosi yang kita harapkan hadir menjelang akhir film. Mungkin titik didihnya terjadi pada saat Rose memberikan jemuran kulit sapi milik Phil kepada pedagang Indian yang membuat Phil marah besar.

Tapi uniknya, (spoiler!) tensi langsung mereda karena tindakan Peter memberikan kulit sapi yang dia simpan kepada Phil. Kita kemudian dibuat berpikir, bagaimana ending film ini nantinya jika Phil tidak jadi marah kepada Rose?

Bocoran sedikit, kita akan dibuat terkejut ketika menyadari apa yang terjadi pada Phil kemudian, dan lebih akan terkejut lagi ketika melihat ekspresi Peter di detik terakhir dari film berdurasi 2 jam 6 menit ini. Dan saat credit title muncul, kalian bisa menarik kesimpulan sendiri atau berdiskusi tentang akhir kisahnya.

Sinematografi Indah Kelas Wahid

sinematografi indah_

Mengambil lokasi syuting di Selandia Baru sebagai ganti Pegunungan Montana di era 1920-an adalah titik mula keindahan sinematografi yang tersaji.

Negara yang menjadi populer sejak menjadi lokasi syuting film trilogy The Lord of the Rings dan The Hobbit ini memang memiliki keindahan alam yang luar biasa, terutama panorama pegunungan yang luas dan indah tiada tara.

Dengan apik, Ari Wegner sebagai sinematografer, mampu memanjakan mata kita dengan pemandangan indah pegunungan yang luas, seluas mata memandang.

Bahkan di beberapa adegan terlihat kedetilan kerja kamera, salah satunya saat menampilkan close-up lalat yang menempel di tubuh kuda. Dari sisi teknis ini, setidaknya bisa memasukkan film ini ke dalam radar juri Oscar nantinya.

Performa Powerful Benedict Cumberbatch

performa benedict_

Selain sisi teknis dan pengarahan apik Jane Campion di kursi sutradara, para pemeran film yang banyak menyimpan hal tersirat dalam kisahnya ini tampil sangat cemerlang dan berhasil membawakan karakter masing-masing dengan mendalam.

Jesse Clemons, meski memiliki menit tampil yang paling sedikit, tapi bisa menjadi perajut kisah bagi karakter lainnya. Kodi Smit-McPhee sebagai Peter tampil lugu, sedangkan Kirsten Dunst sebagai ibunya tampil maksimal dalam memamerkan akting penuh emosi, terutama saat terintimidasi oleh Phil dan efek setelahnya.

Dan Benedict Cumberbatch menjadi yang paling powerful meski dia lebih banyak diam, tapi tatapan mata dan raut wajah dinginnya ternyata menghadirkan kesan angker yang membuat takut dan segan bagi siapa pun.

Dan jangan lupakan juga musik gubahan salah satu personil band Radiohead, Jonny Greenwood, yang membuat tensi dan ritme setiap adegan dalam film sangat terasa.

Jika nanti nama-nama di atas tampil sebagai kandidat Oscar, kita tidak perlu heran, karena memang mereka tampil maksimal sesuai porsi masing-masing.

The Power of the Dog menasbihkan kembali Jane Campion sebagai salah satu sineas terbaik di generasinya yang turun gunung untuk memuaskan dahaga para moviegoers akan film berkualitas.

Menghadirkan deretan cast dengan akting cemerlang, sinematografi dan musik yang indah, menjadikan film ini terasa komplit dan siap bertarung untuk mendapatkan posisinya di berbagai ajang penghargaan film nanti.

Pesan moral dari kisah film ini ialah sebaiknya kita harus bisa menjaga mulut kita, karena ucapan yang terlontar dari mulut kita yang mungkin bagi kita hanyalah hal sepele dan lelucon belaka, tapi bagi sebagian orang yang berhati lembut yang mudah tersakiti, bisa menimbulkan dendam yang mengendap lama sekali dan susah untuk dihilangkan.

Sudah siap untuk menyimak kisah yang bisa mempertajam perasaan kita akan hal yang tersirat? Tonton di Netflix sekarang juga!

cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram