logo web

Sinopsis & Review The Redeem Team, Upaya Meraih Medali Emas Olimpiade

Ditulis oleh Dhany Wahyudi
The Redeem Team
4
/5
showpoiler-logo
PERHATIAN!
Artikel ini mengandung spoiler mengenai jalan cerita dari film/drama ini.

Setelah gagal di Olimpiade 2004, tim bola basket pria Amerika Serikat dibentuk lagi dari nol. Para bintang NBA dikumpulkan dengan harapan meraih medali emas yang terlepas pada Olimpiade sebelumnya.

Dengan kehadiran Kobe Bryant dan LeBron James, mereka harus bisa mengukuhkan kembali nama besar negara dan dominasi mereka di cabang bola basket.

The Redeem Team adalah film dokumenter karya Jon Weinbach yang dirilis oleh Netflix pada 7 Oktober 2022. Menggelar perjalanan tim bola basket pria Amerika Serikat sejak dibentuk di atas puing kegagalan tim sebelumnya hingga sukses meraih medali emas Olimpiade 2008.

Di film dokumenter ini, kita akan menyaksikan aksi dua bintang NBA, Kobe Bryant dan LeBron James, serta pemain lain yang memberikan kontribusi terbaiknya bagi tim ini. Sudah siap melihat mereka beraksi? Simak review berikut sebelum menontonnya!

Sinopsis

the redeem team-3_Sumber: Netflix

Setelah kecewa dengan kegagalan timnya di Olimpiade 2004, federasi bola basket Amerika Serikat menunjuk Jerry Colangelo untuk menjadi direktur tim.

Dia kemudian mengangkat pelatih kepala tim bola basket Duke University, Mike Krzyzewski, sebagai pelatih kepala di tim nasional ini. Jerry juga meminta kepada para pemain yang dipilihnya nanti untuk berkomitmen kepada tim dan negaranya.

4 pemain dari tim sebelumnya dibawa kembali. Mereka adalah Carlos Boozer, LeBron James, Dwayne Wade, dan Carmelo Anthony. Mereka datang masih dengan perasaan kecewa dari kekalahan di Olimpiade sebelumnya dimana mereka kurang memberikan kontribusi kepada tim.

Mike adalah lulusan akademi militer dan pernah bertugas di kemiliteran selama 5 tahun. Dia membawa disiplin ala militer dan semangat patriotisme ke dalam tim. Mike menanamkan prinsip kepada para pemainnya untuk membawa ego masing-masing sebagai bintang ke dalam satu payung kebersamaan sebagai sebuah tim.

Mereka berlatih bersama di Las Vegas pada tahun 2006. Kedekatan antar pemain mulai terbangun dan rasa percaya diri pun mulai tumbuh. Mereka mempersiapkan diri untuk mengikuti FIBA World Championship 2006 di Jepang.

Di fase grup, mereka berhasil memuncaki klasemen dengan mengalahkan 5 tim lainnya dengan meyakinkan. Tim bola basket pria Amerika Serikat ini membenamkan perlawanan Puerto Riko 111-100, Cina 121-90, Slovenia 114-95, Italia 94-85, dan Senegal 103-58. Dan mereka lolos ke fase berikutnya.

Di fase 16 besar, mereka menaklukkan Australia 113-73. Lalu menghantam Jerman 85-65 di perempat final. Sayang, langkah mereka terhenti di semifinal oleh Yunani dengan skor 95-101. Mereka kecewa dengan hasil ini. Tapi LeBron James bilang memang mereka belum begitu siap dan juga belum waktunya menang.

Mike kemudian memasukkan Kobe Bryant untuk menyuntikkan pengalaman dan semangatnya kepada tim. Pada saat itu, Kobe dikenal sebagai pemain yang egois dan penyendiri. Tapi anggapan miring rekan setimnya berubah ketika melihat Kobe sangat antusias dalam latihannya.

Dia rela jatuh bangun hanya untuk mendapatkan bola. Dia tidak merasa bahwa dirinya adalah bintang besar yang harus dilayani.

Kedekatannya dengan LeBron James pun berjalan lancar. Terlebih lagi karena LeBron suka bercanda yang membuat Kobe seringkali tertawa. Chemistry dua bintang utama NBA ini mampu memotivasi para pemain lainnya. Mereka pun siap turun di FIBA Americas Championsip 2007 untuk mendapatkan tiket ke Olimpiade berikutnya.

Sekali lagi, tim bola basket pria Amerika Serikat ini menunjukkan dominasinya dengan keluar sebagai pimpinan klasemen di fase grup. Mereka melibas Kolombia 112-69, Kepulauan Virgin 123-59, Kanada 113-63, dan Brasil 113-76.

Di babak perempat final, mereka sekali lagi menjadi pemuncak klasemen. Mereka mengalahkan Meksiko 127-100, Puerto Riko 117-78, Uruguay 118-79, dan Argentina 91-76.

Kemudian di semifinal mereka berhadapan lagi dengan Puerto Riko yang mereka lumat dengan skor 135-91. Dan mereka keluar sebagai juara dan berhak tampil di Olimpiade 2008 setelah mengalahkan Argentina 118-81.

4 bulan menjelang keberangkatan mereka ke Beijing, Dwayne Wade mengalami cedera dan menjalani dua kali operasi. Dia masuk pusat rehabilitasi dan tidak bermain lagi untuk Miami Heat di sisa musim NBA yang berlangsung.

Keraguan akan kehadirannya di tim Olimpiade ditepis dengan semangatnya untuk pulih lebih cepat. Dan akhirnya dia ikut serta dalam tim yang berangkat ke Beijing.

Popularitas Kobe Bryant sangat tinggi pada saat perhelatan Olimpiade 2008 ini. Penggemarnya dalam jumlah besar selalu hadir setiap tim turun dari bus, bahkan menunggu di depan hotel hanya untuk melihat sang idola.

Performa tim di atas lapangan pun tidak mengecewakan. Di fase grup, mereka melumat Cina 101-70, Angola 97-76, dan Yunani 92-69 dengan perlawanan yang sengit. Lalu mereka mengalahkan juara dunia Spanyol 119-82 dimana Kobe menabrak rekan satu timnya di LA Lakers, Pau Gasol. Dan terakhir membantai Jerman 106-57.

Mereka dengan mudah melewati Australia di babak perempat final dengan skor 116-85, lalu berhadapan dengan Argentina di semifinal yang memiliki pemain paling disegani di NBA, Manu Ginobili. Pertandingan berlangsung seru hingga Manu ditarik keluar karena cedera.

Awalnya mereka meremehkan Argentina yang melanjutkan pertandingan tanpa Manu. Tapi justru Argentina berhasil menyusul ketertinggalan. Masuknya Dwayne Wade dan Carmelo Anthony yang tampil gemilang membantu mereka mengalahkan Argentina dengan skor 101-81.

Dan di final mereka kembali bertatap muka dengan Spanyol. Tensi pertandingan meninggi, saling kejar poin terus terjadi. Berhasilkah tim bola basket Amerika Serikat memenangi pertandingan dan meraih medali emas Olimpiade? Tonton terus keseruan film ini hingga akhir, ya!

Berawal dari Keruntuhan Dominasi Amerika

the redeem team-4_Sumber: Netflix

Sejak perhelatan Olimpiade menyajikan cabang olahraga bola basket, tim pria Amerika Serikat hadir mendominasi. Sejak tahun 1936 hingga 1968, mereka selalu keluar sebagai juara dan membawa pulang medali emas. Di era tersebut, tidak ada yang bisa mengalahkan mereka.

Memasuki era 1970-an hingga 1980-an, prestasi mereka turun-naik. Uni Soviet dua kali menjadi juara dan Yugoslavia juga pernah meraih medali emas di Olimpiade 1980. Sementara itu, mereka juga dua kali tampil sebagai juara pada Olimpiade 1976 dan 1984.

Di film dokumenter berdurasi 1 jam 37 menit ini, diperlihatkan juga kepedihan yang mereka alami di Olimpiade 1972 ketika mereka dengan mengejutkan kalah tipis secara kontroversial dari Uni Soviet.

Mereka mengira pertandingan telah usai, namun wasit masih melanjutkan pertandingan dan lemparan terakhir Uni Soviet membuat mereka kalah 50-51.

Pertandingan penuh kontroversi berbau politik ini menjadi salah satu pelecut semangat mereka untuk meraih medali emas dan menebus banyak kekalahan mereka di masa lalu. Apalagi putra salah satu pemain di Olimpiade 1972 itu menjadi salah satu pelatih di tim Olimpiade 2008 ini.

Sekilas juga diperlihatkan kejayaan tim bola basket pria Amerika Serikat di era 1990-an yang tiga kali berturut-turut menjadi juara Olimpiade dengan komposisi pemain bintang NBA.

Tim ini dijuluki “Dream Team”, dengan Magic Johnson dan Michael Jordan di dalamnya. Kesuksesan ini mengangkat citra NBA sebagai liga bola basket berkualitas yang memiliki nilai komersil yang tinggi.

Berbagai alasan keruntuhan dominasi mereka di Olimpiade 2004 juga dikemukakan. Menjadi Olimpiade pertama setelah peristiwa 9/11 dan invasi Amerika ke Jazirah Arab, tim Olimpiade ini berisi pemain-pemain kelas dua karena para bintang menolak untuk tampil.

Semua terjadi karena alasan keselamatan diri karena takut akan adanya ancaman dari negara lain yang membenci Amerika Serikat.

Bahkan, seluruh atlet Amerika Serikat di Olimpiade itu tidak ditempatkan di asrama seperti biasanya, melainkan di sebuah kapal pesiar di bawah penjagaan militer yang ketat.

Beberapa alasan inilah yang menyebabkan mental mereka tidak siap untuk menjadi juara. Oleh karena itu, beban besar ada di pundak tim bola basket pria Olimpiade 2008 yang dijuluki “The Redeem Team” ini.

Resep dan Cara Membangun Mental Juara

the redeem team-5_Sumber: Netflix

Menyatukan para pemain bintang dalam satu tim adalah kesulitan terbesar pelatih kepala dan manajer tim olahraga manapun.

Mereka harus bisa masuk ke dalam pikiran dan mental masing-masing pemain agar bisa menepikan ego mereka, sehingga bisa meleburkan diri bermain sebagai tim. Kendala ini adalah tugas besar Mike Krzyzewski sebagai pelatih kepala.

Tidak henti-hentinya dia menyuntikkan semangat agar motivasi para pemainnya selalu tinggi. Salah satu yang membuat ego mereka luluh adalah ketika Mike menghadirkan veteran perang yang terluka dalam tugas negaranya.

Salah satu veteran berkata kepada para pemain, “Kami rela mengorbankan jiwa di negara lain agar kalian bisa bermain dengan aman dan menjadi bintang di negara sendiri.” Dwayne Wade adalah pemain yang sangat terpengaruh oleh kalimat ini. Dia selalu mengingatnya dan menjadikannya sebagai motivasi utama dalam perjalanan menjadi juara.

Di film ini juga diperlihatkan pengaruh Kobe Bryant dalam membangkitkan semangat dan merekatkan ikatan di dalam tim. Dia datang sebagai bintang dengan ego yang besar. Tapi kemauan untuk membaktikan diri bagi negara membuatnya rela jatuh bangun dalam latihan, seolah dia bukanlah seorang pemain besar.

Lalu di saat rekan-rekannya menghabiskan malam dengan datang ke klab malam, Kobe justru memilih latihan di gym lebih pagi sendirian. Ketika pemain lain melihatnya, mereka pun langsung mengikuti kebiasaan Kobe ini yang menjadikan mereka memiliki kesiapan fisik juga ikatan yang erat.

Tidak hanya di luar lapangan dedikasinya terlihat menonjol, saat pertandingan pun mentalnya yang kuat mampu menyuntikkan semangat berapi-api bagi timnya.

Bahkan dia sampai menabrak rekan setimnya di LA Lakers yang menjadi lawannya saat mereka berjumpa dengan Spanyol. Melihat ini, pemain lain pun bereaksi positif dengan tampil lebih baik dan penuh semangat.

Kebintangan Kobe Bryant di Olimpiade 2008 memberi pengaruh besar bagi anggota tim Amerika Serikat di cabang olahraga lain. Di waktu senggang, Kobe dan rekan setimnya turut menonton pertandingan mereka yang memompa semangat mereka dalam bertanding. Hal ini tidak dilakukan pada perhelatan Olimpiade sebelumnya.

Sarat Motivasi Pembangun Jiwa

the redeem team-6_Sumber: Olympics.com

Film dokumenter The Redeem Team ini memiliki struktur narasi yang apik dalam bertutur. Sehingga kita dapat memahaminya dengan baik dan emosi kita ikut terbawa di dalam alur ceritanya.

Perasaan kecewa dan rendah diri saat awal bergabung mampu diubah menjadi perpaduan yang rekat dalam membentuk sebuah tim yang kompak dan bermental juara.

Semua melalui berbagai macam proses dan waktu yang tidak singkat. Pelatih kepala sampai harus menerapkan berbagai macam metode agar para bintang ini bisa menyatu dan bermain sebagai tim, bukan sebagai individu dengan titel kebintangannya.

Banyak hal yang bisa kita ambil pelajaran dari film ini, terutama proses pembentukan mental juara. Apa yang ditampilkan di film ini mengingatkan kita akan nilai dasar dalam olahraga, yaitu semangat penuh sportifitas dan determinasi. Kedua hal inilah yang bisa membentuk tim manapun meraih kejayaan dalam waktu yang lama.

Film ini juga sarat akan kesan nostalgia yang membawa kita pada masa kejayaan Kobe Bryant di puncak karirnya. Kita bisa melihat dengan jelas sosok idola ini dari dekat, seolah kita berada di sisinya saat dia menceritakan pengalamannya.

Gambaran pemain penyendiri yang selalu diam, berubah secara bertahap menjadi pemain tim yang murah senyum dan penuh semangat kebersamaan.

Dan kita pun bisa melihat aksi para bintang NBA ini dari berbagai sisi. Kelengkapan liputan di masa itu, ditampilkan secara dinamis dengan ritme yang tidak monoton sehingga kita betah menyimaknya hingga usai.

Adegan pertandingannya pun mampu memacu semangat kita. Bahkan kita bisa dibuat khawatir ketika mereka dalam situasi tertekan dan harus menentukan strategi yang tepat untuk keluar dari kesulitan. Dan akhirnya keharuan kita pecah seketika saat mereka berhasil menjadi juara.

The Redeem Team menjadi sebuah film dokumenter dengan kualitas yang baik. Bangunan ceritanya tertata rapi, liputan latihan dan pertandingan diramu penuh emosi, dan wawancara dengan para pemainnya semakin menguatkan kesan sentimentil filmnya.

Sudah siap bernostalgia dengan perjalanan dan aksi Kobe Bryant serta rekan-rekannya dalam meraih medali emas Olimpiade 2008? Film ini bisa ditonton di Netflix sekarang juga. Wajib disimak dan jangan sampai dilewatkan, ya!

cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram