logo web

Review The Hunger Games: The Ballad of Songbirds & Snakes

Ditulis oleh Syuri K.N.
The Hunger Games: The Ballad of Songbirds & Snakes
3.9
/5
showpoiler-logo
PERHATIAN!
Artikel ini mengandung spoiler mengenai jalan cerita dari film/drama ini.

Setelah film trilogi The Hunger Games ditutup dengan Mockingjay Part 2 pada tahun 2015, delapan tahun kemudian alias tahun 2023, akhirnya kita tahu backstory tentang asal muasal Hunger Games. Sebagai salah satu tributes—fandom THG—saya tentunya sangat excited dengan film The Ballad of Songbirds & Snakes.

The Ballad of Songbirds & Snakes merupakan prequel dari keseluruhan trilogi The Hunger Games. Ceritanya berpusat pada kehidupan Coriolanus Snow sewaktu muda. Bagi penonton THG pasti tahu, dong, siapa Snow?

Ya, benar, Snow adalah presiden tiran dari negara Panem. Nah, lewat film ini, kita bisa tahu masa lalu Snow, alasan mengapa dia jadi begitu kejam, dan bagaimana Hunger Games yang sudah lebih kita ketahui dari triloginya itu dibentuk. Langsung saja, yuk, kita bahas sinopsis dan ulasan film ini!

Sinopsis

The Hunger Games The Ballad of Songbirds & Snakes y_

Film dibuka dengan Coriolanus "Coryo" Snow dan sepupunya, Tigris, yang mencari makanan di area puing-puing bangunan Capitol. Saat itu, Capitol—ibu kota Panem yang hanya berisi orang-orang kaya raya—telah luluh lantak atas aksi pemberontakan warga Distrik. Ini membuat warga Capitol yang tak pernah kelaparan, jadi merasakannya.

Time skip hingga Snow (Tom Blyth) berusia 18 tahun, di mana dia menjadi murid di Academy, SMA elit di Capitol. Snow berusaha menjadi siswa terbaik dan mengincar Plinth's Prize, hadiah berupa uang yang sangat besar, karena sebenarnya Snow tidak memiliki kehidupan yang baik.

Keuangan keluarganya merosot setelah kematian ayahanda, Jenderal Crassus Snow, yang tewas dalam perang. Jika mendapatkan Plinth's Prize, maka dia akan bisa membayar sewa apartemen mewah keluarganya yang dia pertahankan demi menjaga status sosialnya, dan membeli makanan layak untuk neneknya dan Tigris.

coriolanus Snow academy

Akan tetapi, harapan Snow pupus ketika tahun ini tidak ada Plinths' Prize. Dua puluh empat siswa terbaik Academy yang tadinya menjadi kandidat Plinths' Prize malah 'dipaksa' menjadi mentor untuk para tribute pada perhelatan Hunger Games yang ke-10. Snow pun berusaha keras untuk membuat tribute-nya menang, siapa pun dia nanti.

Snow sudah berharap mendapatkan tribute dari Distrik yang kuat, seperti Distrik 1 atau 2. Alih-alih, dia malah menjadi mentor untuk seorang gadis bertubuh kurus bernama Lucy Gray Baird (Rachel Zegler), yang berasal dari distrik miskin, yakni coal mining Distrik 12.

Karena yakin Lucy tidak akan bisa memenangkan Hunger Games melalui kekuatan fisik, Snow putar otak dan membuat Lucy menjadi sosok yang 'dicintai' warga Capitol. Snow juga menanamkan implementasi baru untuk Hunger Games tahun ini, sebagai upayanya untuk membuat ajang survival tersebut kembali menarik minat penonton.

coriolanus Snow academy

Beberapa ide Snow di antaranya membuat para tributes tampak seperti manusia yang sama—walau tidak setara—dengan warga Capitol, membuka perjudian (alias para warga Capitol kini bisa bertaruh mana tributes yang akan menang), dan sebagainya.

Ide Snow sangat brilian, bahkan rencananya untuk membuat orang-orang terpikat pada Lucy berhasil dengan mudah. Capitol mencintai Lucy yang jujur dan berani, juga karena dia pandai bernyanyi dan bermain gitar. Maka, terjadilah hubungan timbal balik antara Snow dan Lucy selama games berlangsung.

Karena daya tangkap Lucy yang cepat, serta rencana-brilian-namun-licik Snow, Lucy keluar sebagai pemenang Hunger Games. Tapi, dengan segera pihak Capitol mengetahui Snow bermain curang dengan menyediakan racun untuk digunakan Lucy pada tributes lainnya, serta trik Snow dengan sapu tangan dan ular yang membuat Lucy selamat.

the ballad of songbirds and snakes dean

Maka, Snow tidak memenangkan Plinths' Prize, melainkan dideportasi ke Distrik 8 dan harus bekerja sebagai Peacekeeper rendahan. Akan tetapi, Snow menyogok pihak yang berwenang dan meminta dipindahkan ke Distrik 12, dengan harapan dia bisa bertemu Lucy lagi, karena tak dapat dipungkiri bahwa keduanya saling jatuh cinta.

Tak sendiri, sahabat Snow yaitu Sejanus Plinth (Josh Andres Rivera) juga mengekor Snow ke Distrik 12, karena dia merasa berhutang budi pada Snow yang telah menyelamatkan nyawanya. Sejanus juga ingin membuat 'perubahan nyata' pada ketidakadilan yang terjadi di Panem dan berpikir lebih bisa melakukannya jika dia berada di luar Capitol.

Setelah beberapa hari berada di Distrik 12, akhirnya Snow menemukan Lucy. Mereka bisa kembali bersama dengan lebih leluasa daripada ketika waktu di Capitol. Cinta mereka berkembang pesat di distrik tersebut. Tapi, tentunya itu semua tidak berlangsung lama.

lucy

Keadaan menjadi kacau setelah aktivitas pemberontakan oleh segelintir orang Distrik 12 meningkat. Sejanus rupanya bekerja sama dengan mantan kekasih Lucy, Bill Taupe Clade, untuk mengeluarkan beberapa orang dari penjara kemudian kabur dari Distrik 12.

Namun, rencana tersebut tidak berjalan lancar, ditambah dengan Snow yang sebelumnya diam-diam melaporkan kegiatan 'pemberontakan' Sejanus ke Dr. Volumnia Gaul (Viola Davis), dalang di balik perhelatan Hunger Games setiap tahunnya. Dengan panik, Snow membunuh anak mayor, yang merupakan kekasih Bill Taupe saat ini.

Sementara itu, salah seorang pemberontak membunuh Bill Taupe, yang membuat Lucy Gray dan Sejanus panik luar biasa. Namun, Snow memastikan kalau mereka akan baik-baik saja. Tak lama berselang, akhirnya diketahui juga niatan para pemberontak Distrik 12 untuk kabur ke Utara.

snow lucy

Semua berkat rekaman suara yang dikirim Snow pada Dr. Gaul. Karena hal ini, Gaul semakin menyukai Snow, sementara Sejanus dianggap pengkhianat dan dihukum gantung. Lucy khawatir kalau nasibnya dan Snow akan berakhir sama dengan Sejanus, dan mereka pun berjanji bertemu di Hanging Tree untuk kabur dari distrik.

Ketika sampai di kabin tempat persembunyian Kaum Covey—suku asli Lucy Gray sebelum menjadi Distrik 12—Snow menemukan senjata yang dia gunakan untuk menembak Mayfair Lipp, anak mayor, mantan teman Lucy, sekaligus kekasih baru Bill Taupe.

Snow hanya tinggal memusnahkan senjata itu agar DNA pelaku pembunuhan Mayfair, yaitu dirinya, tidak ditemukan. Akan tetapi, Lucy mendadak bersikap aneh. Dia bahkan meninggalkan Snow seorang diri di kabin dengan berdalih mau mencari Katniss, nama yang Lucy berikan untuk kentang rawa yang biasa digali oleh Kaum Covey.

snow gun

Setiap detik terlewati membuat Snow semakin paranoid. Dia mulai bertanya-tanya, apakah Lucy mengkhianatinya, apakah gadis bersuara merdu itu akan meninggalkannya di kabin seorang diri, apa Lucy akan melaporkannya sebagai pembunuh Mayfair? Maka, Snow yang marah pun mulai mencari keberadaan Lucy.

Dengan permainan petak umpet yang Lucy lakukan, juga dengan trik ular di balik selendang ibunya yang Snow berikan pada Lucy, Snow yakin Lucy ingin dia mati. Maka, Snow menembak burung-burung Jabberjay yang meng-copy irama lagu Lucy.

coriolanus Snow academy w_

Naas, salah satu peluru berhasil mengenai Lucy, namun tubuh gadis itu tidak pernah Snow temukan. Snow pun kembali ke Distrik 12 untuk mengobati gigitan ular yang sengaja disiapkan Lucy untuknya.

Sempat Snow berdoa agar tindakannya tersebut tidak diketahui pihak manapun, karena akan membahayakan nyawanya. Eh, atasannya malah memberi tahu kalau Snow dipanggil kembali ke Capitol atas perintah Dr. Gaul, dan dimulailah kehidupan Coriolanus Snow yang dingin dan keji hingga membentuk sosok Presiden Snow yang kita kenal.

Para Pemain Baru

thg

Dalam film ini semua cast-nya baru, bahkan Donald Sutherland sebagai President Snow yang kita ketahui di The Hunger Games pun tidak kembali ke layar lebar, hanya potongan suaranya saja yang dimunculkan di akhir film.

Karena film ini adalah prekuel, tentunya tidak ada satu pun karakter di film trilogi The Hunger Games yang muncul di film ini. Walau begitu, tidak kembalinya aktor-aktor lama tidak mengubah esensi kesakralan film, kok!

Semua aktor dan aktris bekerja dengan sangat baik, apalagi main character-nya, Coryo Snow (Tom Blyth) dan Lucy Gray Baird (Rachel Zegler). Walau, sayangnya pula, tidak bisa disangkal bahwa The Hunger Games yang ada Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence) tetap lebih ikonik daripada prekuelnya ini.

Namun, saya pikir film ini memiliki minus juga dalam satu sisi. Walau berdurasi cukup panjang, yaitu 2 jam 38 menit, sayangnya film ini kurang bisa menjelaskan backstory setiap karakter protagonisnya dengan lebih lengkap. Atau, mungkin sengaja agar karakternya dibuat misterius, ya? Saya kurang tahu karena saya belum membaca versi bukunya.

Karena saya hanya menonton filmnya, dan karakter barunya terlalu banyak, saya cukup kesulitan mengingat nama, wajah, dan peran mereka di dalam cerita. Terkadang saya juga dibuat bingung dengan karakterisasi beberapa tokoh, apakah mereka 'jahat' atau justru 'baik'.

Tapi, sebagaimana di dunia nyata, saya pikir Suzanne Collins selaku penulis bukunya ingin membuat setiap karakter ciptaanya abu-abu, tidak hanya hitam atau putih.

Kejatuhan Snow

Coriolanus Snow tigris

Jika ditelusuri dari The Hunger Games Wiki Fandom, bisa diketahui kalau keluarga Snow sudah turun temurun menjadi pemimpin Panem. Bahkan, ayah Snow sendiri merupakan jenderal yang disegani dan ditakuti.

Akan tetapi, setelah kematian orang tuanya, juga pemusnahan Distrik 13, keluarga Snow tersisa yaitu nenek dan sepupunya, Tigris, tenggelam dalam kemiskinan. Rupanya Distrik 13 dibentuk dengan 'uang' keluarga Snow, dan dengan Distrik 13 dianggap sebagai basecamp para pemberontak, pemerintah Panem membungihanguskan distrik tersebut yang membuat keluarga Snow kehilangan segalanya.

Walau sudah tidak memiliki harta benda seperti dulu, Snow berusaha mempertahankan nama keluarganya agar tidak dipandang sebelah mata oleh orang-orang Capitol. Makanya, Snow bersama sang nenek dan Tigris tetap tinggal di kondominium mewah, berpakaian ala bangsawan, padahal untuk makan saja susah.

Maka itu, Snow mengincar Plinth Prize, penghargaan moneter yang biasa diberikan setiap tahunnya oleh Strabo Plinth, taipan amunisi yang berasal dari Distrik 2. Naas, pada masa tersebut Plinth's Prize ditiadakan karena orang-orang tidak ada yang mau menonton Hunger Games lagi.

Makanya, dibentuk lah mentor, yaitu orang-orang Capitol yang ditunjuk untuk 'membenahi' para tributes sebelum terjun ke arena. Dan, mentor yang pertama kali ditunjuk adalah 24 siswa terbaik Academy, termasuk Snow yang menjadi mentor untuk Lucy Gray dari Distrik 12.

Snow mati-matian membuat Lucy jadi pemenang Hunger Games ke-10 agar dia mendapatkan hadiah Plinth untuk menebus tagihan condo dan biaya kehidupan keluarganya. Akan tetapi, karena ketahuan 'curang', Snow bukannya dapat hadiah sebagai mentor Hunger Games terbaik tapi malah dideportasi ke distrik untuk menjadi Peacekeeper.

Kelas Sosial dan Persahabatan Antara Snow - Plinth

sejanus plinth_

Buat penonton The Hunger Games pasti sudah menyadari adanya perbedaan kelas sosial antara warga Distrik dan Capitol. Akan tetapi, ternyata di dalam Capitol pun ada kesenjangan sosial, loh! Hal ini bisa dilihat dari keluarga Snow dan Plinth.

Snow sebenarnya keturunan petinggi, akan tetapi karena kematian ayahnya yang seorang jenderal, dan fasilitas yang keluarga Snow miliki di Distrik 13 lepas karena distrik itu mengumumkan kemerdekaan mereka, Snow dan keluarganya yang tersisa tidak memiliki uang maupun power lagi.

Snow bahkan harus menahan rasa laparnya berhari-hari karena tidak punya makanan, dan hanya bisa membeli pakaian 'layak' di blackmarket. Sementara keluarga Plinth sebenarnya warga Distrik 2, mereka pindah ke Capitol karena mampu membelinya. Mereka memanfaatkan perang pertama yang pecah antara Capitol dan Distrik.

Keluarga Plinth mendapat keuntungan besar selama Pemberontakan Pertama karena menyediakan sebagian besar persenjataan yang digunakan dalam perang melawan Distrik 13. Karena berpihak pada Capitol, serta kekayaan yang baru mereka dapatkan dari menjual senjata, keluarga Plinth mendapatkan kewarganegaraan Capitol.

Mirisnya, walau Sejanus dari distrik paling kaya pun, dia tetap orang distrik. Orang-orang pure blood Capitol sebenarnya memandang rendah keluarga Plinth, akan tetapi tidak berani mengatakannya secara gamblang karena Plinth jauh lebih kaya daripada kebanyakan keluarga di Capitol.

Strabo Plinth tidak tahu Snow lah yang menjadi alasan utama Sejanus digantung di Distrik 12. Strabo malah menjadikan Snow sebagai pewarisnya karena dia tidak memiliki keturunan lagi. Dia mendanai biaya pendidikan dan gaya hidup Snow, mengakhiri kemiskinan yang membelenggu Snow sejak Pemberontakan Pertama. Ironis, bukan?

ballad

The Ballad of Songbirds & Snakes sangatlah menarik. Setelah membaca dan menonton The Hunger Games trilogi, saya tidak memiliki simpati sama sekali pada Snow. Akan tetapi, setelah mengetahui backstory-nya, saya setidaknya jadi mengerti alasan Snow menjadi presiden tiran.

Terkadang penjahat itu tidak terlahir, tapi dibentuk, dan itu yang terjadi pada Snow (kurang atau lebih). Walau, pada akhirnya seperti yang dikhawatirkan Tigris, Snow benar-benar termakan oleh kejahatan dan tidak bisa berhenti untuk melakukannya, seperti ayahnya dulu.

Pernyataan Highbottom, "That's the sound of Snow falling." menjadi kenyataan. Tapi, itu bukan Snow yang turun dari kekuasaan, melainkan Snow yang turun dari kesusilaan manusia. Hal ini juga disadari oleh Tigris yang mengatakan bahwa Coryo menjadi mirip dengan ayahnya, yaitu pemimpin yang keji.

Saya sangat penasaran dengan kehidupan Snow setelah film ini, juga dengan keadaan Lucy Gray yang dibuat menghilang secara misterius, jadi saya mengharapkan adanya sekuel dari prekuel ini. Overall, saya puas dengan filmnya, bagaimana denganmu?

cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram