logo web

Inilah 7 Hal Menarik tentang Film Buya Hamka Vol. 1

Ditulis oleh Suci Maharani R

Film Buya Hamka adalah film biografi yang menceritakan tentang perjalanan hidup salah satu ulama besar Indonesia, yaitu Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal dengan nama Buya Hamka.

Film ini menjadi kolaborasi dari Falcon Picture dan Starvision Plus yang didukung oleh Majelis Ulama Indonesia. Menjelaskan sejarah-sejarah penting, film arahan Fajar Bustomi ini memiliki durasi yang panjang, sampai-sampai harus dibagi dalam tiga volume.

Buya Hamka Vol. 1 (2023) menjadi pembuka yang berhasil membuat banyak orang kagum. Salah satunya melihat make up prostetik yang digunakan oleh Vino G. Bastian saat memerankan Buya Hamka versi tua.

Usut punya usut, makeup prostetik ini menghabiskan biaya hingga 3 miliar. Tak hanya soal makeup, sebenarnya masih ada beberapa hal menarik mengenai film Buya Hamka Vol. 1 (2023). Mau tahu ada apa saja? Biar nggak penasaran lagi, kamu bisa mencari tahunya di bawah ini.

Baca juga: Review & Sinopsis Buya Hamka Vol. 1, Kisah Hidup Sastrawan Ternama

1. Durasinya Panjang, Filmnya Terbagi Jadi Tiga Volume

Durasinya Panjang, Filmnya Terbagi Jadi Tiga Volume

Ingin menampilkan sejarah hidup Buya Hamka secara gamblang, ternyata durasi yang dibutuhkan untuk mengisahkannya sangat panjang. Ketika film biasa memiliki durasi maksimal 120 menit atau 2 jam, maka Buya Hamka (2023) membutuhkan waktu hingga 7 jam secara total.

Sebagai sutradara, Fajar Bustomi memiliki alasan khusus kenapa filmnya memiliki durasi yang sangat panjang. Setelah penulisan skenario selama 4 tahun, rasanya sayang banget kalau kisah-kisah menarik dalam hidup Buya Hamka ini harus dipangkas begitu saja.

Pada awalnya, kisah hidup Buya Hamka ini dikerucutkan hingga total durasinya maksimal 5 jam saja. Setelah berdiskusi panjang, akhirnya pihak produksi sepakat untuk membagi film ini dalam tiga volume yang total durasinya sekitar 7 jam.

2. Film Termahal Sepanjang Sejarah

Film Termahal Sepanjang Sejarah

Menjadi proyek ambisius bagi Falcon Pictures, pembuatan film Buya Hamka Vol. 1 (2023) memang tidak main-main. Menurut Chand Parwez, biaya produksi yang dikeluarkan untuk membuat film ini berkisar sekitar 50 hingga 70 miliar.

Angka fantastis ini dinilai wajar, karena film arahan Fajar Bustomi ini menghabiskan waktu produksi hingga sembilan tahun lamanya. Produser Falcon Pictures, Frederica juga menambahkan kalau biaya ini bukan masalah bagi mereka.

Buya Hamka Vol. 1 (2023) bukanlah film yang bertujuan untuk bisnis saja. Bagi mereka, film ini memiliki misi untuk menyampaikan semangat hidup dan juang Buya Hamka kepada masyarakat. Kedua produser ini juga kompak menyebutkan, meski animo masyarakat sangat tinggi, upaya balik modal agaknya terasa sulit.

3. Makeup Prostetik Vino G. Bastian Capai Miliaran

Makeup Prostetik Vino G. Bastian Capai Miliaran

Biaya produksi yang fantastis ini salah satunya dihabiskan untuk makeup prostetik yang digunakan oleh Vino G. Bastian. Memerankan karakter Buya Hamka muda hingga tua, Falcon Pictures dan Starvision Plus ingin memberikan gambaran terbaik kepada masyarakat.

Makanya Vino G. Bastian harus menghabiskan waktu selama beberapa jam untuk memakai make up prostetik. Makeup ini dikerjakan langsung tim makeup effect and FX prosthetics yang semuanya berasal dari Bali. Hasilnya memang tidak mengecewakan.

Penampilan Vino G. Bastian sebagai Buya Hamka tua di opening Buya Hamka Vol. 1 (2023) berhasil bikin penonton terpukau. Makeup-nya terlihat sangat detail dan tidak akan ada yang percaya bahwa sosok tersebut diperankan oleh Vino G. Bastian.

4. Bikin Surau dan Kincir Air Sendiri

Bikin Surau dan Kincir Air Sendiri

Totalitas tidak hanya bisa kamu lihat dari make up prostetik Vino G. Bastian Saja. Falcon Pictures dan Starvision Plus juga nekat membuat set sendiri. Tidak bisa menemukan lokasi yang pas untuk syuting, Fajar Bustomi tidak menyerah begitu saja.

Alih-alih mengubah set dengan yang lain, sang sutradara malah nekat membuat set Surau dan kincir angin sendiri. 30 hari dibutuhkan oleh tim produksi untuk membangun set surau dan kincir air tempat Buya Hamka dan siswa lainnya berwudhu.

Pengambilan gambar di set ini dilakukan selama 7 hari dan selama itu ada saja rintangan yang harus mereka lewati. Mulai dari derasnya air sungai, sampai-sampai poros kincir sempar bergeser, sampai beberapa crew art nekat menyelam untuk memutar kincir air secara manual.

Fyi, set surau dan kincir air ini memang sangat penting. Set ini menunjukkan tempat Buya Hamka muda menimba ilmu. Ia belajar mengaji dan pencak silat bersama dengan beberapa siswa. Dari sini pula, Buya Hamka muda mendapatkan pemikiran penting.

5. Membuat Set Kapal Uap yang Mirip dengan Aslinya

Membuat Set Kapal Uap yang Mirip dengan Aslinya

Tak hanya membuat suar dan kincir angin saja, Falcon Pictures dan Starvision Plus juga nekat membuat rancangan kapal uap yang beroperasi di zaman Belanda. Sang sutradara yaitu Fajar Bustomi mengatakan, bahwa salah satu momen penting dalam hidup Buya Hamka adalah ketika ia nekat berhaji tahun 1982.

Buya Hamka menaiki sebuah kapal uap yang mempertemukannya dengan serangkaian kisah menarik. Awalnya pihak produksi berpikir kapal uap jenis apapun bisa digunakan. Tapi setelah memeriksa sejarah dan set, ternyata tidak ada kapal uap yang cocok bagi mereka.

Set kapal uap zaman Belanda ini sangat penting, sebagai saksi bisu dari harapan Buya Hamka menuju Mekah. Setelah berdiskusi, akhirnya pihak produksi sepakat untuk membuat kapal uap tiruan yang mirip dengan aslinya.

Tak main-main, mereka mencari tahu informasi mengenai desain kapal langsung ke perusahaan Belanda. Pembangunan set berukuran 520 m² ini juga menghabiskan waktu hingga 45 hari dan dikerjakan oleh 20 set builder di sebuah studio.

Melihat usaha produksi film Buya Hamka (2023), rasanya tidak aneh kalau film ini disebut sebagai film termahal sepanjang sejarah Indonesia.

6. Ada Pesan Tolak Poligami

Ada Pesan Tolak Poligami

Sepertinya bukan hal aneh kalau film religi Indonesia selalu lekat dengan pesan-pesan mengenai poligami. Bahkan topik tersebut belakangan populer banget dan kerap di bawa ke layar lebar.

Faktanya, Buya Hamka juga memiliki dua istri, namun ia tidak pernah berpoligami. Buya Hamka menikahi istri keduanya, pasca satu tahun Siti Raham meninggal dunia.

Pesan mengenai penolakan poligami juga disampaikan dengan gamblang dalam film Buya Hamka Vol. 1 (2023). Dalam satu scene-nya, Buya Hamka didatangi oleh seorang bapak dan putrinya yang bernama Ola (Yoriko Angeline).

Bapak Ola berkata, bahwa ia ingin menitipkan putrinya yang sudah siap menjadi istri kedua untuk Buya Hamka. Mendengar hal ini rasa terkejut tidak bisa Buya tutupi. Buya secara tegas menolak ide tersebut. Baginya, menjadi adil bukanlah hal yang bisa dilakukan oleh manusia.

Satu-satunya sosok paling adil di dunia ini hanyalah Allah SWT. Makanya Buya Hamka menolak permintaan ayah Ola, justru ia meminta agar Ola terus bersekolah dan menjadi wanita yang pintar di masa depan.

Menjadi film trilogi, kisah hidup Buya Hamka (2023) memang sangat menarik untuk ditonton. Film arahan Fajar Bustomi ini berhasil menyampaikan semangat hidup dan juang Buya Hamka dengan sangat baik.

Tak hanya itu, romansanya dengan Siti Raham dan kecintaan Buya Hamka membuat cerita roman menjadi salah satu hal terindah dalam film ini.

cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram