logo web

Sinopsis & Review Film A Man Called Otto, Film yang Menyentuh Hati

Ditulis oleh Dhany Wahyudi
A Man Called Otto
3.2
/5
showpoiler-logo
PERHATIAN!
Artikel ini mengandung spoiler mengenai jalan cerita dari film/drama ini.

Otto memang suka menggerutu, bersikap sinis dan kurang ramah kepada tetangganya, tapi sebenarnya dia memiliki hati yang baik. Semua mulai berubah karena kehadiran tetangga baru yang selalu meminta pertolongannya.

Masih terus berduka karena kematian istrinya, berkali-kali dia berusaha mengakhiri hidupnya sendiri, namun selalu gagal. Bisakah Otto keluar dari rasa dukanya dan meneruskan hidup?

A Man Called Otto adalah film drama komedi karya Marc Forster yang dirilis oleh Sony Pictures pada 13 Januari 2023. Merupakan adaptasi novel karya Fredrik Backman, film ini juga adalah remake dari film produksi Swedia berjudul A Man Called Ove (2015) yang pernah menjadi nominator Best Foreign Language Film di ajang Academy Awards.

Dengan sumber cerita yang sudah diakui kualitasnya oleh para kritikus dan pembaca novelnya, akankah Tom Hanks mampu menyentuh hati kita dengan kisah inspiratif ini? Simak review berikut untuk mengetahui lebih dalam tentang film yang diproduseri oleh Tom Hanks dan istrinya ini.

Sinopsis

sinopsis a man called otto_

Otto Anderson adalah pria berusia 63 tahun yang baru ditinggal wafat istrinya enam bulan silam. Dia selalu menggerutu dan bersikap sinis kepada para tetangganya. Dia memilih pensiun dari perusahaan baja tempatnya bekerja, menghentikan semua layanan untuk rumahnya, seperti listrik dan telepon.

Di rumah, dia mempersiapkan tali yang baru saja dibelinya di supermarket untuk mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Namun Otto terganggu dengan tetangga baru yang hendak memarkirkan mobil. Dia kemudian membantu Tommy dan Marisol memarkirkan mobil.

Kembali ke rumah, Marisol dan Tommy mengetuk pintunya dan memberikan makanan sebagai hadiah perkenalan. Setelah menghabiskan makanan dengan nikmat, Otto mulai melanjutkan rencananya.

Saat melakukannya dan mulai tercekik, Otto melihat bayangan kilas balik kisah pertemuannya dengan Sonya, mendiang istrinya. Namun plafon yang menjadi tumpuan tali rapuh dan membuatnya jatuh.

Otto kemudian ziarah ke makam Sonya dan bercerita tentang kejadian hari ini. Ia pun mencoba cara bunuh diri yang lain, yaitu menghirup asap knalpot yang dimasukkan ke dalam mobilnya di garasi.

Saat mulai sulit bernapas, Otto melihat bayangan kilas balik saat dia dan Sonya pergi makan malam di restoran. Otto jujur bahwa dia gagal masuk militer dan tidak punya pekerjaan.

Rencana bunuh dirinya terhenti lagi karena Marisol mengetuk pintu garasinya. Dia minta tolong kepada Otto untuk mengantarnya ke rumah sakit menyusul Tommy yang baru saja jatuh dari atap.

Meski enggan, Otto akhirnya mau mengantar Marisol dan kedua putrinya. Dia sempat memukul badut yang melakukan sulap dengan koin favoritnya saat sedang membaca buku cerita kepada dua putri Marisol.

Tidak kehabisan ide, Otto kemudian pergi ke stasiun. Dia hendak melompat ke rel pada saat kereta melintas. Namun pria tua di sebelahnya terlihat sempoyongan dan terjatuh ke rel.

Otto langsung turun menyelamatkan pria itu, sementara orang lain di stasiun merekam peristiwa tersebut. Namun setelah menaikkan pria itu ke tepi stasiun, Otto masih terdiam di atas rel ketika kereta mendekat.

Dia melihat bayangan kilas balik saat baru lulus kuliah sebagai sarjana teknik dan melamar Sonya. Otto tersadar dengan suara orang yang mengulurkan tangannya agar cepat naik. Aksi Otto menjadi viral di media sosial.

Otto kemudian memelihara kucing liar yang sering diam di dekat rumahnya setelah Jimmy terkena alergi akibat menampung kucing itu sebelumnya. Otto kemudian menawarkan diri mengajari Marisol mengemudikan mobil.

Marisol sempat panik di jalan, namun berhasil ditenangkan oleh Otto. Mereka kemudian menikmati kue sus di café kenangan Otto dan Sonya.

Otto menghardik anak muda pengirim koran karena pekerjaannya itu dianggap mengotori lingkungan. Namun anak muda itu adalah salah satu murid istrinya dahulu yang sangat menghargai sikap gurunya itu kepadanya.

Otto terkenang akan sifat istrinya yang baik hati. Dia memaafkan Malcolm, nama anak muda itu, dan membantunya memperbaiki sepedanya.

Suatu hari seorang jurnalis media sosial meminta waktu Otto untuk diwawancarai, namun dia menolak dan meninggalkannya di garasi.

Marisol menawarkan bantuan untuk membersihkan rumah dan membereskan barang-barang milik Sonya. Namun Otto tidak mau dan marah karena terlibat adu debat dengan salah satu karyawan perusahaan properti yang hendak membeli komplek perumahan mereka.

Otto nyaris pingsan karena detak jantungnya yang tidak beraturan dan melemah. Dia meninggalkan Marisol di luar yang khawatir akan keadaannya.

Otto mencari cara lain untuk bunuh diri, yaitu menembakkan senapan ke kepalanya. Dia sudah mempersiapkan semua, namun rencana ini gagal lagi karena kehadiran Malcolm yang meminta izin untuk menginap karena diusir oleh ayahnya.

Otto kemudian mendengar rencana Dye & Merika, perusahaan properti yang ingin merebut salah satu rumah di komplek itu dari pemiliknya dengan cara memindahkan mereka ke panti jompo atas alasan kesehatan.

Otto mengumpulkan data dan dokumen terkait lalu pergi ke rumah Marisol untuk meminjam telepon. Tapi Marisol tidak mengizinkan dan justru marah kepadanya.

Otto kemudian menjelaskan kepada Marisol tentang kisahnya dengan Sonya berikut juga pertikaiannya dengan perusahaan Dye & Merika tersebut. Merasa hatinya tersentuh, Marisol memberikan ponselnya dan Otto kemudian menghubungi jurnalis media sosial yang pernah datang ke rumahnya.

Saat orang-orang dari Dye & Merika datang hendak menjemput paksa Reuben dan Anita, tetangga Otto, seluruh tetangga membela dengan merekam kejadian ini lewat ponsel mereka.

Dan, salah satu dari mereka terdesak dengan pertanyaan bertubi-tubi yang menuduhnya ingin mengambil alih hak kepemilikan rumah mereka secara paksa. Otto dan para tetangga menang dari para pegawai Dye & Merika tersebut.

Selagi para tetangga merasa bahagia bisa menolong rekan mereka, Otto berjalan pulang hendak memberi makan kucingnya. Namun tiba-tiba dia terjatuh dan tak sadarkan diri.

Apa yang terjadi pada Otto? Akankah dia selamat dari penyakitnya? Saksikan terus film yang menyentuh hati ini hingga akhir untuk mengetahui apa yang terjadi pada Otto. Siapkan tissue untuk menghapus air mata, ya!

Premis Klise dengan Naskah yang Apik

Premis Klise dengan Naskah yang Apik_

Premis A Man Called Otto sekilas memang terkesan klise. Kisah seorang pria tua yang sinis kepada semua orang mengalami perubahan sikap karena rangkaian kejadian dengan orang-orang terdekatnya ini terdengar sangat familiar.

Mungkin yang paling terdepan muncul dalam ingatan adalah kisah A Christmas Carol yang sudah seringkali dibuat ulang filmnya dalam berbaga versi.

Lalu, apa yang membedakan kisah Otto ini dengan Ebenezer Scrooge di A Christmas Carol? Banyak kesamaannya, namun ada juga perbedaannya.

Satu faktor yang menjadi perbedaan mendasar adalah dialog yang tersusun rapi di dalam jalan ceritanya. Setiap kalimat yang terucap di dalam adegan-adegannya terasa kuat, menyegarkan, sekaligus menghujam hati.

Kalimat sinis yang dilempar oleh Otto kepada para tetangganya tidak hanya berdasarkan kekesalan belaka, tetapi juga memiliki alasan yang kuat dan masuk akal.

Contohnya saat dia menghina Tommy yang tidak bisa memarkirkan mobil, Otto membantunya memarkirkan sambil menggerutu. Dan atas dasar kejadian ini, Otto bersedia mengajari Marisol mengemudikan mobil daripada diajari oleh suaminya sendiri.

Hal-hal kecil seperti ini banyak bertaburan di sepanjang film dan mampu menyelipkan perasaan hangat di hati kita saat menontonnya. Dialog yang disuguhkan juga terkesan mendalam, meski tidak menggunakan kalimat yang puitis.

Saat Otto menceritakan kisah cintanya di masa lalu kepada Marisol, sembari mengenang Sonya dia berkata, “Everything in my world was black and white, until I met her. She was the color.” Tidak puitis, namun cukup menggambarkan betapa berartinya Sonya bagi Otto dalam hidupnya.

Dan masih banyak kalimat seperti tadi dihadirkan oleh David Magee sebagai penulis naskah. Dia sangat apik membangun cerita dengan narasi yang rapi, bahkan selipan adegan kilas baliknya terhubung dengan baik ke jalan cerita utama dan mengikat satu sama lain.

Meski sedikit kurang autentik terkait detail nuansa hingga pewarnaannya, namun setiap adegan kilas baliknya memiliki cerita yang sangat kuat yang mampu menyentuh hati terdalam kita.

Mulai dari adegan pertemuan yang sangat manis, makan malam penuh kejujuran, semangat menggapai masa depan dengan lulus kuliah, hingga memiliki rumah dengan problematika bertetangga, semua sangat berarti.

Terutama ketika Otto menceritakan kisah tragis yang menghancurkan hatinya dan tak bisa dilupakan olehnya. Saat mendengarnya, mungkin ekspresi kita akan sama dengan yang ditampakkan Marisol.

Hati kita seperti sedang berada dalam kondisi cuaca yang berawan menjelang hujan dengan rintik gerimis mulai membasahi tanah. Pelan tapi pasti, hati terasa basah dan melembab.

Akting Memikat Para Pemerannya

Akting Memikat Para Pemerannya_

Tom Hanks adalah aktor senior yang tidak perlu diragukan lagi kualitas aktingnya. Terutama jika dia tampil di film drama komedi sederhana seperti A Man Called Otto ini.

Karakter pria tua yang tenggelam dalam duka dan menyebabkan dia berhak marah kepada siapa pun seperti Otto ini dibawakannya dengan sangat apik dan mengesankan.

Setiap dia menggerutu dengan kalimat yang pedas, mampu membuat kita tersenyum mendengarnya, dan di beberapa adegan justru tertawa dibuatnya.

Rasa tidak sukanya kepada hal-hal yang tidak sesuai aturan dan di luar norma kerapihan selalu bisa menjadi pemancing senyum kita. Namun secara tidak sadar, kita dibuat memahami karakter Otto secara cepat. Bahkan adegan pembukanya sudah menggambarkan itu.

Hati Otto yang coba dibuka olehnya kemudian meleleh dengan sendirinya berkat kebaikan dan sikap hangat Marisol beserta keluarganya.

Hal ini terasa meyakinkan dan mengalir lancar berkat penampilan yang sagat apik dari Mariana Trevino yang menjadi scene stealer di film ini. Aktingnya terasa natural dan menggambarkan sosok ibu tangguh yang rendah hati.

Semua emosi dalam film ini terkumpul pada karakter Marisol yang diperankannya. Akting komikal di awal film dengan segala kecerewetannya, kehangatan tatap dan senyum keibuan, hingga kemarahannya karena diabaikan oleh Otto, semua berhasil dia tampilkan dengan sangat meyakinkan.

Bisa dibilang, performa akting Mariana Trevino adalah kualitas terbaik yang ada di film berdurasi 2 jam 6 menit ini. Satu adegan yang bisa menggambarkan kehandalan aktingnya adalah saat berada di rumah sakit.

Marisol diberikan informasi oleh dokter tentang penyakit Otto, yaitu hypertrophic cardiomyopathy. Dokter bilang bahwa “hatinya” terlalu besar. Marisol meresponnya dengan tertawa karena melihat sosok Otto yang sangat baik yang sering diistilahkan memiliki hati yang besar. Dijamin, kita akan ikut tertawa melihatnya.

Pesan Moral yang Menyentil Generasi Terkini

Pesan Moral yang Menyentil Generasi Terkini_

A Man Called Otto tidak hanya menggelar cerita perubahan sikap seseorang menjadi lebih baik dan kisah tragis yang menjadi sebab sifat sinis tokoh utamanya, namun film ini juga cukup berhasil menyelipkan pesan moral secara proporsional.

Dari sekian banyak hal yang disuguhkan di dalam ceritanya, terlintas beberapa pesan moral yang berupa sentilan untuk generasi masa kini. Salah satunya adalah penggunaan ponsel dan media sosial. Saat terjadi kecelakaan di stasiun, tidak ada satupun orang yang sebagian besarnya terlihat berusia muda yang menolong pria tua itu.

Mereka malah sibuk mengeluarkan ponsel masing-masing dan merekamnya. Bahkan ada beberapa diantaranya melakukan live untuk para followers-nya. Kejadian seperti inilah yang banyak terlihat di zaman sekarang.

Bukannya menolong korban kecelakaan, mereka malah sibuk mendokumentasikan kejadian. Dan Marc Forster sangat cerdas dalam menyajikannya sekaligus menjadi pembeda dari film aslinya.

Selain itu, Otto yang biasa merendahkan orang lain dan menganggap mereka bodoh, termasuk kepada Marisol, terkesima ketika melihat dua ijazah sarjana terpampang di dinding rumah ibu dua anak yang sedang mengandung itu.

Kita yakin bahwa Otto memandang rendah profesi ibu rumah tangga, jika dibandingkan dengan istrinya yang seorang guru. Dan Marisol, dengan dua gelar sarjana dari dua universitas berbeda, terbukti bukanlah ibu rumah tangga biasa.

Otto sangat menghargai Marisol karenanya. Hal ini menjadi sentilan lain bagi wanita yang lebih mementingkan karir daripada keluarga yang banyak terjadi di masa kini, terlebih lagi jika dia memiliki gelar akademis.

Tapi tidak bagi Marisol yang justru memilih mengasuh anak-anaknya dengan menjadi ibu rumah tangga purna waktu. Bukan berarti dia mengabaikan gelar akademis yang disandangnya, tapi dia memilih skala prioritas yang terbaik baginya, yaitu keluarga.

Dan terbukti dia berhasil mendidik kedua putrinya, Luna dan Abby, yang tampak pintar, ramah, dan cukup kasih sayang.

A Man Called Otto memang memiliki kisah yang klise, namun dengan kekuatan naskah dan bangunan cerita yang baik, serta sentilan untuk generasi terkini yang proporsional, menjadikan cerita film ini mengalir dengan lancar. Apalagi ditambah dengan performa apik dari duet Tom Hanks dan Mariana Trevino yang tampil padu.

Namun film ini memiliki sedikit kekurangan, beberapa di antaranya secara teknis. Adegan kilas balik terkesan kurang autentik dengan kostum yang kurang detail dan pewarnaan yang kurang menggambarkan masa kejadiannya.

Selain itu, di beberapa adegan memperlihatkan kontinuitas yang tidak terjaga. Salah satunya adalah adegan saat Otto membacakan buku cerita kepada Luna dan Abby. Pergerakan tubuh Christiana Montoya dan Alessandra Perez terlihat selalu berubah setiap kali sudut pandang berpindah.

Bisa jadi karena mengambil adegan bersama anak kecil bukan perkara mudah, dimana mereka masih belum bisa diarahkan. Dan satu faktor lagi yang terasa kurang di film ini adalah tidak adanya puncak konflik dengan tensi emosi yang tinggi.

Seharusnya peristiwa penjemputan paksa Reuben dan Anita adalah klimaksnya, namun justru dieksekusi dengan sangat ringan dan cepat berlalu.

Padahal perusahaan properti Dye & Merika ini sudah menjadi sosok antagonis ketika menolak membuat jalan bagi penyandang disabilitas. Selain itu, kisah “kudeta” yang dilakukan Reuben juga tidak digambarkan dengan jelas.

Tapi secara keseluruhan, A Man Called Otto tampil apik dan kuat di berbagai sisi. Dengan performa Mariana Trevino yang mencuri perhatian, seharusnya aktris Meksiko ini bisa mendapat penghargaan, atau setidaknya masuk nominasi pun sudah pantas. Tapi sayang, film ini tidak berhasil masuk bursa Oscar.

Meski begitu, rasanya sangat rugi apabila kita melewatkan film yang memiliki deretan lagu yang lembut sebagai soundtrack-nya ini.

Apabila kalian ingin melembutkan hati yang keras atau sedang merasa kesal dalam hidup, maka film ini adalah tontonan yang cocok bagi kalian. Jangan tunggu lebih lama lagi, langsung saja tonton film ini sekarang. Dan bersiaplah untuk disentuh hatinya. Selamat menyaksikan!

cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram