logo web

Sinopsis & Review A+, Aturan Sekolah yang Membunuh Siswanya

Ditulis oleh Suci Maharani R
A+
3
/5
showpoiler-logo
PERHATIAN!
Artikel ini mengandung spoiler mengenai jalan cerita dari film/drama ini.

Jarang-jarang Falcon Pictures memproduksi sebuah drama seri. Tapi A+ (2023) memang worth to watch. Drama arahan Fajar Bustomi ini diadaptasi dari novel thriller berjudul sama karya Ananda Putri.

Versi novelnya memang hits banget, tak heran kalau versi dramanya juga sangat dinantikan banyak orang. Apalagi A+ (2023) dibintangi oleh deretan aktor muda populer, sebut saja Rey Bong, Antonio Blanco Jr, Nurra Datau, Ziva Magnolya hingga Livy Renata.

A+ (2023) mengisahkan usaha anak-anak kelas 12 mengejar posisi 3 teratas di setiap try out. Peringkat paralel ini bukan sekedar soal kepintaran, tapi berhubungan dengan kasta sosial dan biaya sekolah yang harus mereka bayar tiap bulannya.

Akibat dari peringkat paralel ini banyak siswa di SMA Bina Indonesia yang stres hingga nekat bunuh diri. Tak hanya itu, sistem gila ini sudah diberlakukan turun temurun dan mustahil untuk dihancurkan. Tapi apa yang membuat Bina Indonesia mempertahankan sistem peringkat ini?

Mau tahu ada misteri apa saja di balik sistem peringkat paralel di SMA Bina Indonesia? Kamu bisa mencari tahu sinopsis dan ulasan dramanya hanya di Showpoiler

Sinopsis

Sinopsis A+_

SMA Bina Indonesia adalah sekolah impian bagi para siswa dan orang tua. Bagaimana tidak, tiap tahunnya pemilik nilai Ujian Nasional (UN) tertinggi selalu dipegang oleh siswa dari SMA Bina Indonesia. Tak hanya itu, lulusan dari sekolah tersebut dengan mudah bisa masuk ke berbagai universitas di dalam maupun di luar negeri.

Tapi Ujian Nasional (UN) bukanlah masalah untuk para siswa SMA Bina Indonesia, justru deretan try out menjadi mimpi buruk bagi mereka. Kenapa bisa begitu? Ternyata SMA Bina Indonesia satu-satunya sekolah yang memakai sistem peringkat paralel untuk siswanya.

Peringkat ini bukan untuk menunjukkan siapa yang paling pintar, tapi siapa yang menempati kasta tertinggi di sekolah tersebut.

Kasta ini berhubungan dengan biaya belajar yang harus dibayarkan oleh para orang tua. Semakin tinggi peringkat yang didapat, maka semakin murah biaya yang harus mereka bayarkan.

Sebut saja peringkat tiga besar, mereka dibebaskan dari biaya belajar. Tapi bagi siswa yang menepati posisi paling bawah, harus membayarkan biaya sekolah yang fantastis. Mungkin sekitar 500 hingga 600 juta setiap bulannya dan hal ini sudah jadi rahasia umum bagi para siswa dan orang tua.

Tahun ini SMA Bina Indonesia kedatangan siswi baru bernama Kalypso Dirgantari (Nurra Datau) atau Kai. Gadis ini baru tahu, kalau sekolah sehebat SMA BIna Indonesia punya standar ranking yang aneh.

Dari keterangan sahabat yaitu Thalia (Bebby Hatami), para siswa kelas 12 mati-matian belajar untuk menempati posisi tiga besar di setiap try out. Di sekolah ada posisi tiga besar yang populer dikalangan para siswa, peringkat pertama ada Re Dirgantara (Antonio Blanco Jr) si cowok urakan tapi super jenius.

Posisi kedua ditempati oleh Kenan Aditya (Rey Bong) bintang basket sekolah yang dikenal tampan dan ramah. Posisi ketiga ada Adinda Aletheia (Ziva Magnolya) atau Ale, cewek judes yang dandanannya nyentrik banget.

Selain tiga besar, ada satu orang lagi yang menempati posisi ke empat tapi kastanya sama dengan para tiga besar. Gadis itu bernama Aurora Calista (Livy Renata) yaitu putri dari dewan sekolah sekaligus donatur utama. Aurora dikenal sebagai "living princess'' karena juara balet Internasional ini memang sangat kaya dan anggun.

Singkat cerita, di try out ketiga Kai berhasil menempati posisi pertama. Sontak hal ini membuat para siswa merasa heran dan terkejut. Tapi dibalik kebahagiaannya, Kai mendapatkan berita duka dari sahabat terbaiknya, Thalia memutuskan untuk bunuh diri.

Sinopsis 2 A+_

Gadis cantik yang selalu terlihat riang itu merasa stres, karena peringkat paralelnya turun drastis. Padahal kedua orang tuanya meminta Thalia untuk meningkatkan peringkatnya agar biaya sekolahnya lebih ringan.

Hal yang membuat Kai sakit hati, ternyata pihak SMA Bina Indonesia berusaha menutupi kasus ini dari awak media. Bahkan, mereka menjadikan orang tua Thalia sebagai kambing hitam dengan menyebut Thalia stres karena tidak memiliki support system yang baik.

Kenyataannya, kasus bunuh diri siswa SMA Bina Indonesia bukanla hal pertama. Hampir tiap tahun selalu saja ada kasus bunuh diri dengan alasan yang sama yaitu stres karena peringkat paralel yang didapat.

Tak terima dengan apa yang terjadi pada sahabatnya, Kai menantang kepala sekolah Nadia (Atiqah Hasiholan) untuk menghentikan peringkat paralel.

Usaha Kai untuk mengajukan gugatan kepada dewan sekolah tidaklah mudah, karena ia dihadapkan dengan banyak sekali rintangan. Untungnya Kai didukung oleh Re, Kenan, Ale dan Aurora yang juga merasa muak dengan sistem gila ini.

Dari penyelidikan para siswa jenius di SMA Bina Indonesia ini ternyata sekolah menyimpan sebuah rahasia busuk. Benarkah pihak sekolah terlibat dalam praktek korupsi, pencucian uang hingga penjualan manusia?

Drama Seri yang Patut Diperhitungkan

Drama Seri yang Patut Diperhitungkan_

A+ (2023) memang pantas disebut sebagai salah satu drama seri Indonesia yang berkualitas. Tak hanya berani mengambil tema thriller dan misteri yang jarang disentuh, tapi kualitas alur ceritanya juga cukup baik.

Skenarionya ditulis oleh Titien Wattimena, jujur saja saya sangat menyukai dialog yang digunakan oleh para cast di serial ini. Tidak terlalu modern dan tidak terlalu baku, komposisinya terasa sangat pas bagi saya.

Ketika para remaja berdialog, mereka menggunakan bahasa gaul sehari-hari yang cukup enjoyable. Sementara tatanan bahasa baku hanya muncul ketika mereka berdialog soal pelajaran atau berbicara dengan orang yang lebih tua.

Untuk alur ceritanya, jika ditonton oleh remaja memang cukup seru dan bikin penasaran. Tapi untuk saya pribadi, ada banyak sekali catatan soal alur ceritanya.

Saya paham bahwa Titien Wattimena dan Fajar Bustomi ingin alur yang mudah dipahami oleh anak muda. Tapi alurnya terlalu ringan, sehingga efek thrilling di drama A+ (2023) terasa kurang kuat. Lalu, soal pemilihan sub judul di tiap episodenya, bagi saya kurang pas dengan isi ceritanya.

Sebut saja di episode Re Dirgantara, Adinda Alethea dan Aurora Calista, buat saya plotnya mengenai tiga cast utama ini kurang dalam dan fokus. Alih-alih menceritakan keluh kesah hidup tiga siswa di posisi empat besar, justru ceritanya lebih fokus dengan misteri soal SMA Bina Indonesia.

Padahal kalau kisah soal Re, Ale dan Aurora bisa di perdalam, rasa tegang dan penasaran yang dirasakan penonton bisa lebih besar lagi.

Soal plot hole, saya mengakui bahwa durasi yang pendek membuat serial ini dipenuhi dengan plot hole yang sangat disayangkan. Hanya memiliki enam episode yang masing-masing durasinya hanya sekitar 45 menit, bagi saya A+ (2023) terasa kurang memuaskan.

Meski begitu, A+ (2023) jauh lebih berkualitas dibandingkan dengan drama-drama remaja yang hanya fokus pada kisah romansa. Drama ini punya banyak pembelajaran, baik soal persahabatan, ambisi hingga pentingnya sekolah untuk pada remaja.

Performa Aktor Muda yang Nanggung

Performa Aktor Muda yang Nanggung_

Mengisahkan usaha para siswa jenius di SMA Bina Indonesia untuk menghentikan sistem peringkat paralel, A+ (2023) dibintangi deretan aktor muda. Ada Antonio Blanco Jr sebagai Re, Aisha Nurra Datau sebagai Kai, Rey Bong sebagai Kenan, Ziva Magnolya sebagai Ale dan Livy Renata sebagai Aurora.

Beberapa nama aktor muda ini sering saya dengar, salah satunya adalah Rey Bong yang memang tampil luar biasa dan paling bagus performanya. Rey Bong berhasil menyuguhkan karakter Kenan dengan sangat baik, terutama soal pengendalian emosinya.

Lalu, ada Antonio Blanco Jr sebagai Re Dirgantara yang cukup mempesona kala memerankan karakter bad boy. Perlahan tapi pasti, Antonio berhasil memberikan kesan sendiri saat memerankan karakter siswa jenius yang harus melawan ibunya sendiri. Duality dari karakter Re Dirgantara terlihat cukup memuaskan.

Catatan harus saya berikan kepada tiga pemeran utama wanitanya. Aisha Nurra, Ziva Magnolya dan Livy Renata memang pendatang baru di industri seni peran. Sehingga tidak aneh kalau akting mereka memang naik turun secara drastis.

Aisha Nurra kurang bisa mengendalikan ekspresi wajah dan emosinya, sehingga karakter Kai yang diperankannya kadang terlihat terlalu memaksakan diri.

Untuk Ziva Magnolya, karakter cewek judes yang diperankannya terlihat cukup baik. Sayangnya, Ziva masih kurang luwes untuk mengendalikan emosinya. Salah satu scene terburuknya adalah ketika Ale dan ibunya bertengkar.

Lalu, menganai Livy Renata saya memuji usahanya untuk mengubah logat bicaranya. Usahanya memang tidak sia-sia, saya tidak melihat Livy sebagai seleb medsos tapi sebagai Aurora si ballerina. Hanya saja, Livy masih butuh banyak latihan soal akting, pengendalian emosi dan intonasi berbicara.

Sinematografi dan Skoringnya Memanjakan

Sinematografi dan Skoringnya Memanjakan Mata_

Kali ini saya akan memuji Fajar Bustomi karena ia berhasil keluar dari zona nyamannya. Menelisik dari film yang diarahkan oleh Fajar Bustomi, biasanya sense romantis selalu jadi fokus utamanya. Sehingga sinematografi dan skoringnya monoton, sebut saja di film 12 Cerita Glen Anggara (2022) dan trilogi Dilan.

Tapi di drama A+ (2023) Fajar Bustomi lebih berani untuk mengambil shot gambar dengan angle yang lebih variatif. Tiap episodenya selalu punya sinematografi yang memanjakan mata.

Ada tiga scene yang paling saya ingat, di episode keempat saya menyukai potongan gambar yang memperlihatkan keindahan tapi pantai. Sepanjang scene Kenan mengisahkan cerita dirinya dan kembarannya pada Kai di pantai, scene ini terasa sangat emosional dan estetik banget.

Scene lain yang bikin merinding adalah opening di episode dua, ketika Aurora memperlihatkan kemampuan menari baletnya. Tariannya memang tidak sebagus itu, tapi sentimental dari background music dan pergerakan kameranya, sehingga perasaan sedih yang dirasakan oleh Aurora tersirat dengan baik.

Masih soal balet, di penghujung episode kelima ada adegan ketika seorang penari balet memasuki panggung pertunjukkan. Suasana mencekam terasa sangat tinggi, perubahan warna lampu dari putih ke merah hingga hijau bikin suasananya berubah drastis.

Bagi saya, A+ (2023) menjadi drama seri Indonesia yang memiliki scoring terbaik., Tiap lagu yang diputar, selalu bisa memberikan kesan yang berbeda-beda dan pas.

A+ (2023) memang bukan drama terbaik jika membandingkan dengan drama genre serupa dari Korea Selatan atau Thailand. Tapi drama arahan Fajar Bustomi ini jauh lebih baik dan berbobot dibandingkan kebanyakan drama seri remaja di Indonesia.

Fokus utamanya soal pendidikan dan persahabatan, kedua ide tersebut dieksplor dengan baik meskipun ada beberapa catatan yang harus diperbaiki.

cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram