logo web

Sinopsis & Review A Private War, Potret Nyata Jurnalis Perang

Ditulis oleh Dhany Wahyudi
A Private War
3.8
/5
showpoiler-logo
PERHATIAN!
Artikel ini mengandung spoiler mengenai jalan cerita dari film/drama ini.

Marie Colvin yang berjiwa pemberontak dan seolah tidak mengenal rasa takut adalah salah satu jurnalis perang paling terkenal di muka bumi.

Dia tidak segan turun ke garis depan medan peperangan demi menyampaikan suara rakyat yang butuh didengar oleh dunia. Tapi pekerjaan berisiko tinggi ini telah mengorbankan fisik, mental, hingga nyawanya.

A Private War adalah film drama biografi berlatar belakang perang karya Matthew Heineman yang dirilis oleh Aviron Pictures pada 16 November 2018. Cerita film ini berdasarkan sebuah artikel yang dimuat di majalah Vanity Fair pada tahun 2012 karya Marie Brenner dengan judul “Marie Colvin’s Private War”.

Menggelar perjuangan Marie Colvin mencari berita di negara-negara konflik, film ini menuai banyak pujian. Seperti apakah kualitas film yang menyajikan 11 tahun terakhir dari kisah hidup jurnalis Amerika ini? Simak review berikut dari film yang masuk di dua nominasi Golden Globe Awards ini.

Baca Juga: 10 Film Rosamund Pike Terbaik yang Harus Ditonton

Sinopsis

A Private War_

Sri Lanka, 2001. Marie Colvin dikawal pasukan pemberontak Macan Tamil menembus hutan untuk sampai ke desa Vanni. Dia menulis berita tentang kondisi penduduknya yang menderita kelaparan dan berbagai macam penyakit yang disebabkan oleh blokade dari pemerintah.

Saat hendak keluar dari hutan, Marie dan pasukan Macan Tamil ditembaki oleh militer pemerintah di perbatasan. Akibat sebuah ledakan bom yang ditembakkan didekatnya, Marie mengalami luka yang berat pada mata sebelah kirinya.

Akibatnya, sejak itu dia selalu menggunakan penutup mata seperti yang biasa bajak laut kenakan. Ide dari temannya ini sempat dia tertawakan saat acara makan malam di rumahnya, tapi setelah berpikir lebih dalam, dia menyetujuinya dan menggunakannya.

Setelah sembuh, dia disambut layaknya pahlawan perang dan diberi penghargaan. Tapi yang tidak publik ketahui tentangnya ialah dia menderita post-traumatic stress disorder (PTSD). Akibatnya dia berpisah dengan suaminya dan tidak mendapat izin dari kantor beritanya untuk bekerja sementara waktu.

Irak, 2003. Marie berhasil masuk ke kota Fallujah yang dikawal ketat oleh militer pemerintah. Dia bertemu fotografer Inggris Paul Conroy yang kemudian dia ajak bergabung dalam tugasnya.

Mereka melakukan penggalian di lokasi yang diduga sebagai tempat militer Irak mengubur warga yang melawan pemerintah. Sedikit bersitegang dengan tentara yang berjaga, mereka berhasil menemukan banyak bukti.

Puluhan jasad yang sudah tinggal tulang belulang berhasil mereka angkut. Nama Marie semakin diakui berkat liputannya itu yang membongkar kekejian rezim Saddam Hussein.

Tapi, stress menyerang mentalnya semakin dalam dan dia harus masuk pusat rehabilitasi untuk mengobatinya. Sean Ryan, editornya di The Sunday Times, menjamin posisinya tetap aman dan bisa bertugas setelah sembuh.

Selepas rehabilitasinya usai, Marie kembali meliput perang di Afghanistan pada tahun 2009 dan melihat semakin banyak keganasan perang yang menelan banyak korban jiwa.

Marie kemudian menjalin hubungan dengan Tony Shaw yang ditemuinya di sebuah pesta sekembalinya ke London. Kecanduannya kepada minuman keras membuat sahabatnya khawatir.

Libya, 2011. Marie dan Paul meliput kejahatan perang yang dilakukan oleh Muammar Gaddafi kepada rakyatnya sebagai balasan atas terjadinya pemberontakan.

Mereka mendapati Norm Coburn, rekan fotografer mereka, tewas terkena ledakan RPG. Ketika mereka berhasil menemui Gaddafi, pemimpin Libya itu menyalahkan Al-Qaeda sebagai dalang dari semua ini.

Suriah, 2012. Marie dan Paul mencari berita tentang pemberontakan di negara itu dan kekejian yang dilakukan pemerintahan Bashar Assad. Militer tidak lagi mengarahkan serangan kepada pihak pemberontak saja, melainkan juga kepada warga sipil dan para jurnalis.

Dalam sebuah serangan yang dilakukan militer, Marie memaksa untuk tetap tinggal di gedung yang mereka gunakan untuk berlindung agar bisa mengirimkan laporan hasil liputannya. Bersama Paul dan beberapa rekan tersisa, Marie melakukan laporan langsung yang disiarkan di CNN.

Bisakah Marie dan rekan-rekannya keluar dari tempat itu dengan selamat? Tonton film penuh realita perang dan pesan kemanusiaan ini hingga usai dan temukan jawabannya di akhir film.

Baca Juga: Daftar Film Perang Terbaik Sepanjang Masa

Sosok Nyata Marie Colvin

Sosok Nyata Marie Colvin_

A Private War menggambarkan perjuangan Marie Colvin dalam berbagai perang yang dihadapinya. Bukan hanya perang bersenjata saja, Marie juga menghadapi perang dengan dirinya sendiri.

Sejak terkena ledakan di Sri Lanka yang membuat mata kirinya cedera, Marie mengidap trauma yang sangat sulit untuk disembuhkan. Tapi dia tetap bersikeras untuk terjun ke medan perang lain demi meliput berita.

Meskipun Marie berusaha menutupi traumanya dengan menenggak minuman keras dan bercinta, bayangan akan kekerasan perang selalu ada di depan matanya.

Tapi Marie tidak pernah menyerah dengan keadaannya. Dia adalah sosok penuh dedikasi di bidang pemberitaan. Niatnya hanya satu, menyampaikan suara dari mereka yang selalu dibungkam oleh kekejian perang.

Tidak seperti jurnalis perang lainnya yang mencari berita tentang pergerakan dua pihak yang bertikai, Marie lebih menyorot korban dari perang yang terjadi.

Dia duduk dan berbicara dengan para wanita yang kehilangan suaminya, orang tua yang kehilangan anaknya, dan warga sipil lain yang kehilangan orang-orang tersayangnya akibat perang.

Bahasa yang digunakannya sangat menyentuh hati, kata-kata sederhana yang tersusun rapi membuat para pembacanya ikut merasakan seperti apa yang dia lihat. Itulah kelebihan Marie Colvin yang diakui oleh dunia, terutama di bidang jurnalisme.

Karir jurnalismenya lebih panjang daripada apa yang ditampilkan di dalam film berdurasi 1 jam 50 menit ini. Meski berasal dari Amerika, Marie bekerja di The Sunday Times yang berkantor di London sejak tahun 1985.

Marie adalah orang pertama yang berhasil mewawancarai Muammar Gaddafi di tahun 1986 setelah terjadi Operasi El Dorado Canyon yang dilancarkan oleh militer Amerika di Libya.

Maka, jangan heran apabila pertemuan Marie dan Gaddafi yang ditampilkan di dalam film terkesan ada keakraban di antara mereka.

Meskipun wilayah Timur Tengah adalah spesialisasinya, tapi Marie juga pernah meliput di wilayah konflik lain, seperti Chechnya, Serbia, Sierra Leone, Zimbabwe, Sri Lanka dan Timor Timur.

Performa Terbaik Rosamund Pike

Performa Terbaik Rosamund Pike_

Memang A Private War bukan kali pertama Rosamund Pike mengerahkan totalitas aktingnya dalam sebuah film. Gone Girl (2014) masih dianggap sebagai performa terbaik dari deretan performa apiknya di dunia film saat ini.

Namun dia membawakan peran sebagai Marie Colvin dengan sepenuh hati. Faktor utama kehandalan aktingnya di film dengan sinematografi indah dan akurat khas film dokumenter ini ialah suaranya.

Tidak hanya mengubah warna suara, dari pengucapan dan intonasinya juga sangat jauh berbeda dari karakter-karakter yang pernah dibawakannya, terutama dari dirinya sendiri.

Rosamund Pike adalah orang Inggris yang kental dengan aksen British-nya, tapi tidak di film ini. Suaranya begitu bulat dengan aksen New York yang akurat.

Selain itu, dia juga berhasil menggambarkan kondisi orang yang mengalami trauma dengan bahasa tubuhnya. Ekspresi bingung dan khawatir yang ditampakkannya setiap kali halusinasi muncul tergambar dengan baik.

Karena penampilannya ini, Pike masuk nominasi Best Actress di ajang Golden Globe Awards dan Satellite Awards. Bisa dibilang, performa aktingnya di film ini adalah salah satu yang terbaik dalam karir filmnya.

Beberapa Fakta yang Tidak Akurat

Beberapa Fakta yang Tidak Akurat_

Di sepanjang film, dari Sri Lanka, Irak, Afghanistan, Libya hingga ke Suriah, kita disuguhkan penggambaran korban perang. Setiap detail tahun dan lokasi kejadian diceritakan secara akurat berdasarkan jurnal Marie sendiri dan penuturan dari Paul Conroy.

Tapi ternyata, ada beberapa fakta yang melenceng tentang penggambaran kehidupan Marie secara pribadi. Menurut penuturan jurnalis perang Janine di Giovanni, kehidupan pribadi Marie yang sebenarnya tidak sama dengan yang digambarkan di dalam film.

Janine bilang bahwa di The Sunday Times tidak ada sosok yang perhatian kepada Marie. Bahkan editornya hanya mementingkan berita untuk dijual, bukan reporter yang meliputnya. Hal ini sebenarnya sudah dipaparkan di dalam film sebagai salah satu konfliknya.

Lalu, Janine bilang lagi bahwa Marie memiliki banyak teman di London, tapi tidak ada satupun yang memiliki sifat dan kehidupan seperti karakter Chloe. Mayoritas temannya adalah penggila pesta.

Kekasih terakhirnya juga tidak seperti yang diperankan Stanley Tucci, penuh perhatian dan kasih sayang. Justru menurut Janine, kekasihnya itu menimbulkan stress yang lebih besar pada Marie.

Dalam kehidupannya, Marie pernah menikah dua kali. Patrick Bishop diceritakan di dalam film, sedangkan suami keduanya, Juan Carlos Gumucio, tidak diceritakan sama sekali.

Beberapa hal ini sebenarnya bisa mengurangi keautentikan cerita filmnya. Hanya saja kemudian Janine memuji akting Rosamund Pike dalam membawakan karakter Marie secara akurat.

A Private War berhasil menampilkan penggambaran sosok Marie Colvin dengan sangat baik, terutama karena kekuatan akting Rosamund Pike. Film ini juga sukses menyentuh hati dengan kronologis cerita yang membuat kita memahami perjuangan dan penderitaan Marie dalam melakukan pekerjaannya.

Dengan segala kualitas ini, tentunya film ini menjadi film yang wajib ditonton. Bagi penyuka film biografi, kalian boleh menonton juga film dokumenter Bearing Witness (2005) yang menampilkan Marie Colvin dan Janine di Giovanni. Jangan tunggu lebih lama lagi, segera tonton film ini sekarang, ya!

cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram