logo web

Sinopsis & Review Black Adam (2022), Antihero dari Kahndaq

Ditulis oleh Dhany Wahyudi
Black Adam
2.9
/5
showpoiler-logo
PERHATIAN!
Artikel ini mengandung spoiler mengenai jalan cerita dari film/drama ini.

Ribuan tahun terkubur di bawah puing kerajaan kuno Kahndaq, Teth Adam terbangun di saat mahkota Sabbac berhasil ditemukan dan menjadi rebutan.

Langkahnya coba dihadang oleh Justice Society of America, yang tidak ingin dirinya membuat kerusakan yang pernah dilakukannya di masa lalu. Dan ketika juara dari neraka hadir, mereka semua harus berjuang demi keselamatan umat manusia.

Black Adam adalah film superhero karya Jaume Collet-Serra yang dirilis oleh Warner Bros Pictures pada 21 Oktober 2022. Berdasarkan karakter superhero sekaligus villain dari DC Comics, film ini menjadi spin-off dari film Shazam! (2019) sekaligus film ke-11 dari DC Extended Universe.

Memiliki akar kekuatan yang sama dengan Shazam, apa yang membedakan film ini dengan superhero DC Comics lainnya? Dan benarkah tidak ada makhluk bumi yang bisa mengalahkannya? Simak review berikut untuk mendapat ulasan lengkap dari film ini, sekaligus menjawab rasa penasaran kalian.

Baca juga: Urutan Timeline Film DC Untuk Guide Movie Marathon-mu

Sinopsis

black adam_Sinopsis_

Pada zaman dahulu, 5.000 tahun sebelum masa kini, berdiri sebuah kerajaan di wilayah Timur Tengah bernama Kahndaq. Sekitar tahun 2.600 SM, Kahndaq di bawah kekuasaan Raja Ahk-Ton yang memperbudak rakyatnya untuk mencari Eternium, sebuah batu mineral dengan kekuatan super.

Eternium adalah bahan pembuatan mahkota Sabbac. Ketika batu itu ditemukan oleh salah satu penggali, ketidakadilan terjadi di mana penggali itu dibunuh oleh tentara kerajaan.

Seorang anak pra remaja berusaha mengambil batu Eternium itu sebagai bentuk perlawanannya terhadap ketidakadilan. Tapi kemudian dia hendak dieksekusi saat Eternium sudah dijadikan mahkota.

Keajaiban datang sesaat sebelum anak itu dieksekusi. Dia tiba-tiba menghilang dan muncul sebagai sosok pria dewasa dengan kekuatan super. Dengan kekuatannya, dia meluluhlantakkan kota Kahndaq dan sekaligus menguburnya di bawah puing-puing istana.

Di masa kini, Kahndaq dikuasai oleh Intergang, kelompok bersenjata yang telah menjajah kawasan itu selama 27 tahun. Sekelompok ahli arkeologi pimpinan Adrianna Tomaz berusaha melacak keberadaan mahkota Sabbac dengan maksud mengamankannya dari tangan-tangan jahat.

Penyelidikan mereka mengarah ke sebuah bukit batu di luar kota. Mereka masuk melewati gua dan menemukan mahkota tersebut.

Seketika pasukan bersenjata menyerbu dengan niat merebut mahkota itu. Dalam kondisi terjepit, Adrianna melafalkan tulisan di atas kuburan Teth Adam yang kemudian membangkitkannya. Teth Adam kemudian menghabiskan seluruh pasukan.

Namun Ishmael, rekan Adrianna yang berkhianat, masih hidup dan menginformasikan kepada pasukan lain tentang mahkota Sabbac yang kini ada di tangan Adrianna. Aksi Teth Adam mencuri perhatian Amanda Waller yang kemudian menugaskan Justice Society of America (JSA) untuk menangkapnya.

Hawkman kemudian mengumpulkan timnya untuk berangkat ke Kahndaq. Mereka adalah Cyclone dengan kekuatan mengatur angin serta suara dan Atom Smasher dengan kekuatan bisa membesarkan tubuh seperti raksasa. Termasuk pula Doctor Fate, superhero senior dengan kekuatan bisa melihat masa depan dan sihir yang dahsyat.

Mereka langsung berkonfrontasi dengan Teth Adam, tapi tidak ada dari mereka yang bisa mengalahkannya. Doctor Fate menyadari bahwa Adrianna memiliki mahkota Sabbac dan memintanya untuk menjembatani mereka dengan Teth Adam.

Perseteruan mereka terhenti ketika Amon, putra Adrianna, diculik oleh Ishmael. Teth Adam langsung memburu satu persatu pengendara motor terbang yang diduga membawa Amon di dalamnya. Tapi, dia gagal menemukannya.

Hawkman datang dengan dua pengendara lain yang masih hidup. Teth Adam langsung menginterogasinya dengan cara membawanya terbang.

Berhasil mendapatkan informasi tentang lokasi persembunyian Ishmael, mereka mendatangi benteng canggih di tengah gurun itu.

Adrianna bermaksud menukar mahkota Sabbac dengan Amon. Tapi setelah mahkota itu di tangan Ishmael, dia tetap akan menembak Amon. Teth Adam langsung bergerak, sementara anggota JSA lain melindungi Adrianna dan Amon.

Kekuatan super Teth Adam memusnahkan semua orang di benteng itu, kecuali para anggota JSA dan yang mereka lindungi. Jasad Ishmael hangus dan mahkota Sabbac dibawa oleh JSA.

Teth Adam kemudian melepaskan kekuatan supernya sembari bercerita tentang kejadian sebenarnya dari petaka di masa lalu. Dia pun kemudian ditahan di penjara khusus dalam kondisi mati suri.

Tapi ternyata, kematian Ishmael justru membawanya ke neraka dan dia mendapat kekuatan super sebagai juara neraka, Sabbac. Dia pun kembali ke bumi dan berusaha merebut tahta Kahndaq dengan pasukan setan di belakangnya.

Para superhero JSA langsung bertindak dan menghadapi Sabbac. Sayangnya, dia terlalu kuat bagi mereka. Hanya Teth Adam yang bisa melawannya. Apa yang harus mereka lakukan untuk menghentikan niat jahat Sabbac? Tonton terus keseruan film ini hingga akhir, ya!

Jangan beranjak dulu setelah film berakhir, karena masih ada satu adegan lagi di antara credit title yang pasti membuat kalian terkejut. Teth Adam yang kini mengubah identitasnya menjadi Black Adam, tidak mau mengikuti aturan dari Amanda Waller. Black Adam bilang bahwa tidak ada satupun orang bumi yang bisa mengalahkannya.

Amanda melanjutkan bahwa dia akan mengirimkan orang yang bukan dari bumi. Dari balik kabut, terlihat sesosok superhero sedang melangkah maju. Dia berkata, “Black Adam! Kita harus bicara.” Kalian bisa tebak siapa superhero itu?

Shazam dalam Versi Kelam

black adam_Shazam dalam Versi Kelam_

Black Adam menyuguhkan origin story karakter superhero yang diceritakan berasal dari zaman kuno. Saat raja jahat berkuasa dan menindas rakyatnya, mereka butuh sesosok pahlawan. Champion (juara) adalah istilah yang digunakan di film berdurasi 2 jam 4 menit ini.

Kala sosok itu hadir pada diri seorang anak pria pra remaja bernama Hurut, rakyat tersentuh dan terinspirasi olehnya. Dan ketika hendak dieksekusi mati, dia tiba-tiba hilang.

Rupanya dia diberi kekuatan super oleh sekelompok penyihir yang melafalkan kata “Shazam!” dan mengembalikannya ke dunia untuk menegakkan keadilan.

Bagi fans sejati DC Comics mungkin tidak heran dengan akar cerita ini, karena memang Black Adam adalah leluhur Shazam dari bangsa Mesir Kuno.

Tapi bagi kita, penonton biasa yang pernah menyimak film Shazam! (2019) sebelumnya, mungkin akan berpikir bahwa kekuatan yang dimiliki oleh Black Adam pasti sama dengan Shazam. Lalu apa bedanya?

Memang kekuatan yang mereka miliki sama, tapi karakternya jelas berbeda. Black Adam adalah sosok anti-hero yang hanya ingin menegakkan keadilan menurut pahamnya saja dan tidak mau tunduk pada aturan lain. Dia terlahir dari kekuatan amarah dan balas dendam yang membuatnya tampil seperti Shazam dalam versi kelam.

Berbeda dengan cerita dari komiknya, Kahndaq di film ini sepertinya berada di wilayah Timur Tengah, bukan di Mesir. Situasinya lebih dekat kepada gambaran salah satu kota di Irak.

Apalagi diceritakan Kahndaq dijajah oleh Intergang selama 27 tahun, semakin melekatkan gambaran situasi politiknya dengan salah satu negara penghasil minyak terbesar dunia tersebut.

Dari latar belakang lokasi ini, muncul kesalahan fatal film yang menampilkan Dwayne Johnson sebagai Black Adam. Aktor mantan juara gulat ini tidak memiliki darah Arab sama sekali, begitu pun penampilan fisiknya. Kurang kuatnya faktor etnis ini cukup membuat kita sedikit kehilangan arah.

Tapi secara akting, Dwayne Johnson menampilkan performa akting yang luar biasa sebagai superhero pilihannya ini. Tidak hanya berakting, dia juga bertindak sebagai salah satu produser film ini. Alhasil, totalitasnya sangat terlihat jelas.

Karakternya memang kelam, penuh aura balas dendam, tapi dia mampu mencairkan suasana dengan selera humor yang cukup bisa membuat kita tersenyum. Dialognya dengan Pierce Brosnan yang berperan sebagai Doctor Fate tertata dengan baik dan menghadirkan chemistry yang segar antara mereka.

Performa Apik dengan Karakterisasi Dangkal

black adam_Performa Apik dengan Karakterisasi Dangkal_

DC Comics memiliki pola yang berbeda dalam menampilkan para superhero-nya dibandingkan Marvel. Mereka memang punya deretan superhero utama dengan film masing-masing, seperti Superman dan Batman. Namun untuk memperkenalkan superhero baru dalam semestanya, DC Comics tidak seapik Marvel.

DC Extended Universe dibangun dengan film solo Superman, Man of Steel (2013), yang menjadi pondasi kokoh bagi semesta ini. Sayang, dalam perjalanannya, semesta ini sering kali mengumpulkan para superhero atau villain-nya dalam satu film, namun tidak didukung pengenalan yang baik, sehingga terkesan hambar.

Suicide Squad (2016) dan Justice League (2017) adalah contohnya. Tapi untungnya, dua film ini telah diperbaiki lewat The Suicide Squad (2021) dan Zack Snyder’s Justice League (2021) yang kembali menajamkan semesta andalan DC Comics ini.

Film Black Adam hadir di antara dua konsep ini, menampilkan kisah superhero solo dengan dukungan beberapa superhero lainnya. Naskah yang ditulis oleh Adam Sztykiel, Rory Haines, dan Sohrab Noshirvani cenderung formulaic, karakternya tampil satu dimensi, meninggalkan banyak lubang dan mudah ditebak.

Banyak pertanyaan yang hadir di benak kita saat menonton film ini. Salah satunya adalah untuk menghadapi villain sekuat Black Adam, Hawkman justru membawa dua superhero yang baru pertama kali beraksi, terutama Atom Smasher.

Mungkin untuk mengundang kelucuan, yang memang cukup berhasil, tapi justru membuat kita ragu akan kapabilitas JSA dalam memilih anggotanya dalam bertugas.

Dan ketika kita melihat aksi empat anggota JSA ini, benak kita akan langsung membandingkan mereka dengan superhero lain dari Marvel. Hawkman terlihat seperti Falcon dari Mesir Kuno dan Doctor Fate mirip dengan Doctor Strange dalam kebijaksanaan dan kekuatannya.

Sedangkan Cyclone mirip Storm dari X-Men dalam versi tarian indah penuh warna. Dan Atom Smasher seolah menggabungkan kekuatan Hulk dengan sifat kekanakan Spider-Man versi Tom Holland dalam kostum yang mirip Deadpool.

Entah siapa yang terlebih dahulu antara para superhero berbeda penerbit ini yang hadir duluan, tapi di film ini kita jelas melihat kesamaan antara mereka.

Karakter-karakter di film ini tampil hanya dalam satu dimensi. Naskah tidak memberikan kedalaman serta latar belakang yang cukup bagi setiap karakternya, kecuali Black Adam tentunya.

Kita tidak tahu latar belakang kehidupan Adrianna, sehingga kita cukup bingung untuk menentukan maksudnya melacak keberadaan mahkota Sabbac dan mengambilnya.

Justru aksinya ini nyaris menimbulkan petaka lama terulang lagi di dunia modern. Meski begitu, akting Sarah Shahi cukup baik dan meyakinkan, apalagi dia memiliki darah keturunan Persia.

Jangan ditanya pula para superhero JSA yang minim latar belakang, sehingga membuat kita kurang bisa lekat dengan kehadiran mereka. Alur ceritanya berjalan normal dan mudah ditebak. Satu-satunya twist yang membuat kisahnya tampil beda adalah tentang identitas sebenarnya Teth Adam.

Kita awalnya mengira bahwa dia adalah penjelmaan Hurut yang hilang saat dieksekusi. Memang benar dia yang diberikan kekuatan super oleh kelompok penyihir, tapi ternyata dia memberikan kekuatannya kepada ayahnya yang menggunakannya untuk membalas dendam atas kematian istrinya.

Plot cerita ini cukup menyentuh dan membuat kita mengerti apa yang dirasakan oleh penjaga Kahndaq tersebut.

Sinematografi dan Adegan Aksi Rasa Komik

black adam_Sinematografi dan Adegan Aksi Rasa Komik_

Bagi pembaca komik Black Adam, kalian pasti akan sangat kegirangan melihat visualisasi yang ditampilkan oleh sutradara Jaume Collet-Serra di filmnya ini. Baru pertama kali membesut film adaptasi komik, tampaknya dia sudah cukup piawai menghadirkan apa yang menjadi ekspektasi para pembaca setia komiknya.

Pertarungan Black Adam dengan musuh-musuhnya, termasuk dengan para superhero JSA, sangat seru dan cepat, namun masih bisa dinikmati sehingga mata tidak lelah.

Begitu juga dengan sinematografinya yang sangat kental dengan nuansa komik. Mulai dari pewarnaan rasa gurun pasir Arabia hingga pergerakan kamera yang terkesan dinamis.

Meski Black Adam tidak ditopang oleh naskah yang baik, walau tidak buruk juga, tapi semua kekurangan ini bisa ditutupi oleh betapa rapinya efek visual yang ditampilkan.

Sebagai bagian dari DC Extended Universe, ada beberapa adegan yang mirip dengan sentuhan slow-motion khas Zack Snyder. Terutama saat Black Adam melempar musuhnya, mirip dengan salah satu adegan di film 300 (2006).

Pertikaian antara superhero di sini juga membuka ingatan kita dari film Zack Snyder’s Justice League (2021), di mana Superman berusaha ditaklukkan oleh rekan-rekannya. Di beberapa adegan awal juga ada yang memiliki kemiripan dengan Prince of Persia: The Sands of Time (2010). Mungkin karena memiliki latar lokasi yang serupa.

Pada akhirnya, Black Adam tidak menawarkan sesuatu yang baru dalam genre superhero. Tapi kehadirannya bisa memperkuat rencana kelanjutan DC Extended Universe yang penuh keraguan, dimana beberapa produksi filmnya yang sedang berjalan dibatalkan.

Semoga sekuelnya nanti bisa tampil lebih dahsyat, mungkin saat berhadapan dengan Shazam kelak. Atau jika tidak ada superhero bumi yang bisa mengalahkannya, rasanya Superman adalah lawan yang sepadan. Bagi fans DC Comics, film ini wajib ditonton, ya!

Kategori:
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram