logo web

Sinopsis & Review Hell Fest, Pembunuhan di Festival Halloween

Ditulis oleh Yanyan Andryan
Hell Fest
2.8
/5
showpoiler-logo
PERHATIAN!
Artikel ini mengandung spoiler mengenai jalan cerita dari film/drama ini.

Hell Fest merupakan film horor bergaya pembunuhan “slasher” yang ditayangkan pada layanan streaming Netflix. Film ini sendiri dikerjakan oleh sutradara asal Amerika yang bernama Gregory Plotkin.

Hell Fest pun menjadi film kedua yang ia garap setelah sebelumnya berhasil mengerjakan film Paranormal Activity: The Ghost Dimension (2015).

Film ini menyoroti sekelompok remaja yang memutuskan menghabiskan malam pada festival Halloween di sebuah taman. Malam tersebut seharusnya berjalan menyenangkan untuk mereka, akan tetapi berubah menjadi sesuatu yang berbahaya saat seorang bertopeng yang tidak kenal memburu nyawa mereka satu persatu.

Seperti halnya film-film slasher, Hell Fest pastinya menampilkan adegan pembunuhan kejam penuh darah, dan sadis.

Tetapi, apakah film ini berhasil memberikan keseruan layaknya film slasher populer seperti Scream (1996), Child’s Play (1998), maupun Nightmare on Elm Street (1984)? Untuk itu mari kita simak ulasan selengkapnya di bawah ini.

Sinopsis

Hell Fest

Pada acara Hell Fest, seorang wanita remaja tengah berlari ketakutan karena dikejar-kejar oleh pria bertopeng yang ingin membunuhnya. Wanita itupun akhirnya tidak bisa melarikan diri, dan harus tewas mengenaskan di tangan pria bertopeng.

Pria tersebut kemudian dikenal dengan sebutan “The Other,” seorang pembunuh berantai yang memangsa korban saat perayaan Halloween.

Beberapa waktu kemudian, Natalie bersama dengan teman-temannya, Brooke, Taylor, dan Gavin pergi ke taman hiburan untuk merayakan festival Halloween di sana. Mereka lalu memutuskan masuk ke wahana rumah hantu. Di tempat itu, Natalie, Brooke, dan Taylor, melihat seorang wanita yang ketakutan dikejar oleh The Other.

Saat sang gadis itu tewas ditusuk oleh The Other di depan mata mereka, ketiganya hanya menganggap bahwa itu adalah bagian dari pertunjukan yang ada di rumah hantu. Tetapi, Natalie merasa ada yang janggal dengan peristiwa tersebut, namun ia pergi berlalu, dan meninggalkan The Other di tempat itu.

Ketika keluar dari rumah hantu, sosok The Other mulai membuntuti mereka. Lagi-lagi, Taylor masih belum menganggapnya sebagai sebuah ancaman yang serius, dan hanya melihatnya sebagai bentuk hiburan semata dari festival Halloween.

Mereka selanjutnya mulai bersenang-senang, dan mencoba semua wahana permainan pada festival tersebut.

Suatu ketika, Natalie, dan Gavin, berjalan berduaan untuk saling mengenal satu sama lain. Keduanya lalu masuk ke dalam bilik foto untuk berfoto sebagai kenang-kenangan. Di momen itu, The Other muncul dan mengambil foto selfie mereka dari bilik tersebut. Ulah The Other dilihat oleh Brooke, dan ia pun segera mengejarnya.

Sayangnya, Brooke tidak bisa menemukan pria bertopeng itu karena menghilang secara cepat. Mereka lalu berkumpul untuk masuk ke dalam wahana bermain yang lain. Tetapi, Gavin memutuskan tidak ikut karena ingin mengambil sebuah boneka yang ingin dia berikan kepada Natalie.

Ketika Gavin berada di sebuah gudang untuk mencuri boneka, ia terkejut karena bertemu dengan The Other.

Pada kesempatan itu, The Other memukul kepala Gavin dengan palu, dan membunuhnya secara sadis. Setelah dari tempat itu, pria bertopeng tersebut selanjutnya langsung berada di lokasi Natalie bersama teman-temannya.

The Other kemudian berhasil menjebak Natalie di kamar mandi, namun ia berhasil menyelamatkan diri dari serangannya.

Selepas dari situ, The Other berhasil membunuh Taylor dengan cara yang lebih sadis. Natalie, dan Brooke pun menyadari bahwa pria bertopeng tersebut benar-benar seorang pembunuh berantai sungguhan.

Keduanya lalu harus menyelamatkan diri sebisa mungkin karena orang-orang tidak percaya bahwa mereka sedang ketakutan, dan meminta bantuan.

Meski Klise, Tetapi Menyenangkan

Meski Klise, Tetapi Menyenangkan

Sebelum mengerjakan film keduanya ini sebagai sutradara, Gregory Plotkin bekerja sebagai seorang editor dengan menyunting beberapa film horor, thriller, drama, hingga film bergaya slasher yang berjudul Happy Death Day (2017).

Lewat beragam pengalamannya itu, khususnya di dunia horor, dia mencoba membuat Hell Fest lewat sudut pandang misteri yang ia bangun sesuai imajinasinya.

Naskah Hell Fest sendiri dibuat oleh tiga orang yakni Seth M. Sherwood, Blair Butler, dan Akela Cooper. Bersama ketiganya, film ini memberikan alur cerita yang cukup klise, tidak rumit, namun masih tetap menyenangkan untuk dinikmati.

Arahan dari Plotkin pun rasanya terbilang sederhana, namun ia bisa menghasilkan urutan sinematografi yang tetap terlihat menegangkan.

Selama kurang lebih 90 menit, Hell Fest sebenarnya mampu tampil segar, dan seru bagi para penggemar film slasher.

Lewat anggaran produksi yang tidak terlalu besar, sekitar 5 juta dollar, film ini bisa dibilang cukup berhasil membangun setting taman hiburan sebagai tempat yang benar-benar mencekam. Tempat tersebut dibuat sangat efektif, dan bisa memberikan semua rasa takut.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, premis film ini memang klise, dan rasanya hampir sudah ada di sejumlah film serupa. Tetapi, konsep cerita tersebut nyatanya masih tetap menarik, dan mudah untuk disukai.

Di sini, The Other menjadi sosok pembunuh berantai yang sangat keji, dan misterius. Ia sangat cerdas karena berbaur dengan para pengunjung lainnya menggunakan topeng.

Festival Halloween dalam film ini pun berubah menjadi malam penuh darah, dan tragedi. The Other secara karakter mampu menghantui Natalie, dan teman-temannya. Seperti sosok Mike Myers di franchise film Halloween, The Other pun tampil menakutkan, dan melakukan pemburuan seorang diri untuk membunuh para remaja.

Latar Tempat dan Para Karakter Mengesankan

Latar Tempat, dan Para Karakter Mengesankan

Konsep taman hiburan yang dibangun memang berhasil mendukung atmosfer kengerian di film ini. Di saat para pengunjung lainnya terlihat sangat bergembira, Natalie begitu ketakutan harus bersembunyi dari satu tempat ke tempat lainnya untuk menghindari sang pembunuh berantai.

Suasana pun pada akhirnya menjadi ironis, berbanding terbalik dengan apa yang harus dihadapi oleh Natalie.

Dari segi pemainnya, Amy Forsyth sebagai Natalie mendapatkan sorotan penuh, dan juga memainkan karakternya secara baik. Ia tidak tampil “mengganggu” seperti karakter-karakter perempuan di film slasher yang selalu berteriak histeris setiap berhadapan dengan pembunuh berantai.

Sosoknya cukup berani, meski awalnya merasa ketakutan terhadap The Other.

Para pemain lainnya mulai dari Reign Edwards (Brooke), dan Bex Taylor-Klaus (Taylor) masing-masing tampil solid. Lalu, Roby Attal yang berperan sebagai Gavin sayangnya tidak bisa tampil banyak, karena ia menjadi korban pertama yang dibunuh oleh The Other pada menit-menit awal cerita.

Sebagai sosok pembunuh yang misterius, dan kejam, penampilan The Other patut diberi acungan jempol. Meski tidak bisa mengalahkan kepopuleran sosok pembunuh berantai yang ikonik seperti Leatherface, Mike Myers, Freddy Krueger, dan pria bertopeng di film Scream, sosoknya ini masih bisa memberikan performa yang mengesankan.

Terlepas dari itu, sayangnya film ini masih terasa kurang sadis sebagai film bergenre slasher. Di menit pembuka, pembunuhan terjadi brutal, dan bahkan ketika Gavin tewas pun masih tetap terasa kejam.

Selepas itu, pembunuhan berikutnya malah terkesan biasa saja, dan sungguh disesalkan Hell Fest tidak mampu mengeksekusi kesenangan film slasher yang seharusnya gore, dan liar.

Bisa Berpotensi Jadi Film Slasher yang Besar

Bisa Berpotensi Jadi Film Slasher yang Besar

Secara keseluruhan, Hell Fest mampu menjadi tontonan slasher yang menyenangkan, dan berjalan seru. Lewat premis yang klise, film ini mampu menawarkan jalan cerita yang tidak monoton, dan tetap bisa memberikan ketegangan pembunuhan berantai yang kejam.

Di sisi lain, Hell Fest memang terasa kurang kreatif selama adegan pembunuhannya, dan tidak sadis sama sekali.

Bagi kalian yang menginginkan momen pembunuhan brutal penuh darah ala film Scream, dan franchise Saw, mungkin akan sedikit kecewa terhadap film ini.

Meski begitu, Hell Fest tidaklah buruk karena semua aspek horor slasher setidaknya masih terasa sepanjang jalan ceritanya. Film ini pada intinya bisa dibilang tampil sebagai film slasher yang “halus,” dan nyaman untuk dilihat.

Hell Fest memang masih belum bisa menandingi film slasher populer seperti franchise Halloween, Child's Play, maupun A Nightmare on Elm Street.

Namun, jika film ini dilanjutkan untuk beberapa sekuel ke depan dengan The Other kembali sebagai karakter antagonis utamanya, Hell Fest rasanya berpotensi bisa jadi besar dan sukses seperti film-film tersebut. Singkat kata, selamat menonton!

cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram