showpoiler-logo

Sinopsis & Review Rasuk (2018), Roh Penasaran Mencari Raga Baru

Ditulis oleh Suci Maharani R
Rasuk
2
/5
showpoiler-logo
PERHATIAN!
Artikel ini mengandung spoiler mengenai jalan cerita dari film/drama ini.

Bagi para pendaki gunung, mitos mengenai “Karma Rinjani” sepertinya sudah tidak aneh lagi. Mitos ini juga yang mempengaruhi empat sekawan, saat menginap disebuah villa bernama “Karma Rinjani”.

Mereka tidak tahu bahwa liburannya kali ini tidak akan membuatnya merasa bahagia, pasalnya kali ini mereka malah diganggu oleh roh penasaran.

Kisah tadi bisa kamu dapatkan saat menonton film horor indonesia yang berjudul Rasuk (2018). Film yang dibintangi oleh Shandy Aulia ini diadaptasi dari kisah yang ditulis oleh Risa Saraswati.

Sayangnya film yang diproduksi oleh MD Entertainment dan Dee Company ini bisa dikatakan kurang memuaskan. Meski mendapatkan 900.000 penonton, film ini mendapatkan rating rendah yaitu 4.1/10 di iMDb.

Penasaran dong, kira-kira kejadian mistis apa saja yang terjadi kepada Shandy Aulia dan ketiga temannya di villa Karma Rinjani? Untuk mengetahui kisah lengkapnya, kamu bisa membaca sinopsis dan review filmnya di bawah ini.

Baca juga: Inilah 6 Film Risa Saraswati Terbaik yang Wajib Ditonton!

Sinopsis

Sinopsis_
  • Tahun Rilis: 2018
  • Genre: Horor, Drama
  • Sutradara: Ubay Fox
  • Pemeran: Shandy Aulia, Miller Khan, Denira Wiraguna, Gabriella Desta, Josephine Firmstone
  • Produksi: MD Pictures, Dee Company

Langgir merasa sangat tidak nyaman untuk hidup bersama dengan ibu serta ayah dan adik tirinya. Bukan karena mereka memperlakukannya dengan buruk, tapi Langgir masih belum bisa menerima sosok lain sebagai pengganti ayahnya.

Semenjak kecelakaan yang menewaskan sang ayah, Langgir kehilangan kebahagiaan dalam hidupnya. Di usianya yang semakin dewasa, Langgir berteman dengan tiga gadis lainnya yang disebut “Putri Sejagat”.

Tapi kumpulan gadis-gadis kaya dan cantik ini, tetap saja tidak bisa membuat Langgir menikmati hidupnya. Gadis ini hanya tahu, ia sudah tidak ingin lagi hidup dan berharap untuk bisa mengikuti jejak sang ayah ke alam baka.

Untungnya ada Abimanyu, yang selalu mengingatkan Langgir untuk bersyukur dan menghargai kawan-kawannya. Sebenarnya Langgir bukannya tidak senang berteman dengan Lintang, Rosita dan Sekar, baginya mereka sekumpulan gadis manja.

Tapi Abimanyu selalu berkata, Langgir tidak pernah menghargai orang yang menyayanginya dengan tulus. Suatu hari Lintang mengajak teman-temannya untuk pergi ke vila bernama Karma Rinjani milik pamannya.

Awalnya Linggir tidak mau ikut berlibur bersama dengan teman-temannya, tapi kejadian di rumahnya sangat memuakkan. Langgir memutuskan untuk ikut berlibur bersama “Putri Sejagat”, namun liburan ini malah berakhir menyedihkan.

Langgir kecewa saat mendengar Abimanyu dan Inggrid mengaku berpacaran, gadis ini sangat marah. Langgir merasa kawan-kawannya itu adalah seorang pengkhianat dan malam itu juga Langgir memutuskan untuk pergi dari penginapan.

Tapi keegoisan dan emosinya malah membawa langgir bertemu dengan sosok yang sangat menakutkan. Siapa sangka, sosok Kusuma Sari yang telah membantu mereka keluar dari hutan ternyata bukanlah manusia sepertinya.

Malam itu Langgir bertemu dengan sosok wanita yang mirip dengan Kusuma Sari, tapi wajah perempuan itu sangat menakutkan. Langgir yang kaget terperosok hingga jatuh ke sebuah lubang misterius, ia terperangkap di sana sendirian.

Di tempat lain, Abimanyu yang sedang mencari keberadaan Langgir di hutan juga bertemu dengan sosok perempuan berwajah menakutkan itu.

Sementara Inggrid yang awalnya sedang bersolek, tiba-tiba saja melihat sosok wanita menyeramkan itu dihadapannya. Inggrid kerasukan hingga berbuat hal-hal yang tidak masuk akal.

Setelah Inggrid sadar, hantu perempuan itu merasuki tubuh Lintang dan meneror gadis lainnya. Untungnya sebelum Lintang mencelakai teman-temannya lebih parah lagi, Pak Cecep menolong mereka.

Tapi usai kejadian ini, rahasia dari anggota Putri Sejagat mulai terbongkar satu persatu. Ternyata kehidupan sempurna dari ketiga orang ini tidak nyata, mereka semua palsu.

Sekar berniat untuk mencari bantuan agar ia dan kawan-kawannya bisa keluar dari vila tersebut. Tapi di perjalanan Sekar melihat sebuah pemandangan aneh, Pak Cecep sedang melakukan ritual.

Tidak hanya itu, Sekar juga bertemu dengan ibu Rosita dan sekuat tenaga Sekar berusaha untuk menyelamatkannya. Tapi Pak Cecep berhasil mengejar mereka, alhasil Sekar tidak memiliki jalan lain selain membunuhnya.

Di tempat lain, Abhimanyu yang diselamatkan oleh seorang ustadz mengetahui kisah menyeramkan dari villa Karma Rinjani.

Ia khawatir dengan keadaan teman-temannya dan benar saja, mereka kini berhadapan dengan Langgir yang kerasukan. Tubuh gadis ini dirasuki oleh sukma Kumala Sari, kini Langgir mencari tumbal untuk melampiaskan dendam dan kebencian yang dirasakannya.

Premisnya Baik, Tapi Eksekusi Alurnya Berantakan

Premisnya Baik, Tapi Eksekusi Alurnya Berantakan

Ingin mengisahkan mitos “Karma Rinjani”, sebenarnya Rasuk (2018) memiliki premis cerita yang bagus. Sayangnya saya kurang menyukai alur ceritanya, karena alurnya terasa saling bertindihan.

Dari kisah pembuka hingga memasuki akhir film, esensi ceritanya kurang bisa tersampaikan kepada penonton. Bagi saya, kisah Langgir beserta kawan-kawannya dan kisah Kumala Sari tidak memiliki benang merah.

Sejak awal film ini mengangkat kisah hidup Langgir Janaka yang diperankan oleh Shandy Aulia. Tapi kisah hidup Langgir yang menyedihkan juga kurang terpancarkan di film ini.

Tidak ada plot yang menunjukkan bahwa Langgir dibenci oleh ibunya karena sang ayah tewas kecelakaan. Malah karakter ibu Langgir terlihat baik-baik saja, tidak ada pertentangan serius dalam hubungan mereka.

Berbagai plot tidak masuk akal terus berdatangan di tengah-tengah filmnya. Salah satunya adalah adegan “Putri sejagat” yang tersesat di hutan belantara yang menyeramkan.

Pikirkan saja, jarak villa yang tertulis di plang kayu hanya 300 meter. Tapi para gadis ini terjebak di hutan seharian dan mereka terlihat begitu tenang, barulah di malam hari mereka mulai panik.

Saya juga berharap ada adegan tambahan mengenai kehidupan Kumala Sari, bukan dialog yang mengisahkan gadis itu. Memberikan beberapa menit untuk membangun kisah hidup Kumala Sari beserta keluarganya dari awal, akan menguatkan premis ceritanya. hanya

Sinematografi Keren, tapi Penyunting Lagunya Buruk

Sinematografi Keren, Tapi Penyunting Lagunya Buruk

Sejak menit pertama film ini diputar, jujur saja saya sangat terpukau dengan sinematografinya yang sangat cantik. Adegan ketika Shandy Aulia memakai dress berwarna putih dan duduk diatas sebuah batu, pemandangan dihadapannya sangat indah.

Kita bisa melihat area pegunungan yang sangat indah, apalagi saat adegan sunset diperlihatkan. Pemandangan tersebut benar-benar memanjakan mata saya, meski saya tidak tahu maksud dari scene pembuka ini apa.

Beralih saat Langgir, Inggrid, Sekar dan Lintang pergi ke vila melalui hutan, mereka juga memperlihatkan keasrian yang ada. Jalan setapak, pepohonan rindang dan tumbuhan rambat yang ada disekitar hutan, bikin suasana semakin horor.

Sudut pengambilan gambar dan tekniknya juga cukup mumpuni, maksudnya tidak ada gambar yang terasa mengganggu atau kagok.

Sutradara dan kameramen cenderung memilih untuk mengambil gambar yang luas, dibanding mengandalkan gambar-gambar close up. Hal ini bisa dikatakan sangat aman, sehingga penonton bisa melihat secara luas apa saja yang terjadi.

Terakhir saya ingin mengomentari soal penyunting suara dan musiknya, yang cukup memuaskan. Maksudnya untuk adegan jump scare, efek suaranya tidak terlalu mengagetkan malah terkesan lemah.

Selain itu tidak adanya aksen budaya, seperti suara alat musik khas Jawa Barat yang seharusnya dimasukan. 

Development Karakter Kurang Maksimal

Development Karakter Kurang Maksimal

Hal yang paling mengecewakan lainnya, saya kurang menyukai cara development karakter yang ada di film ini. Ada banyak sekali karakter-karakter krusial di film Rasuk (2018), tapi mereka tidak memiliki pengembangan yang baik.

Tidak hanya untuk satu atau dua karakter saja, tapi semua karakternya terasa kagok dan tidak memiliki background story yang kuat.

Contohnya karakter “Putri Sejagat”, bagi Langgir ketiga temannya memiliki kehidupan sempurna. Tapi di mata saya, mereka terlihat seperti sekelompok gadis narsis dan manja saja.

Tidak ada yang namanya kesempurnaan, toh dari dandan saja mereka sama seperti gadis pada umumnya. Soal kekayaan, tempat mereka ngumpul terlihat sangat sederhana dan jauh dari kata mewah.

Tapi ditengah-tengah plotnya para gadis ini saling membuka masalah dan rahasia masing-masing. contohnya Sekar, yang mengisahkan dirinya adalah anak buangan yang ditemukan orang tuanya di tong sampah.

Jujur saja plot ini sangat telenovela sekali, apakah penulis tidak memiliki plot menyedihkan lainnya? Lalu soal penyakit Lintang, gadis yang memiliki penyakit tumor ini terlihat sangat fine.

terakhir soal aktingnya, saya akan berkata bahwa Rasuk (2018) memberikan kualitas akting yang biasa saja. Bagi saya tidak ada satupun karakter yang menarik perhatian, semuanya kurang ekspresif dan kurang bisa menunjukkan rasa tegang mereka.

Shandy Aulia sebagai pemeran utama, hanya terlihat seperti gadis annoying yang sibuk mengutuk hidupnya yang sebenarnya baik-baik saja. Rasuk (2018) sebenarnya memiliki premis yang cukup menarik, mengenai mitos “Karma Rinjani” yang misterius.

Tapi alur yang dipilih rasanya kurang bisa menunjukkan kengerian dari mitos tersebut, bagi saya terlalu banyak plot yang kurang klop satu sama lain. Saya akan berkata film ini kurang worth untuk ditonton, karena naskah dan detail alurnya sangat berantakan.

cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram