logo web

Sinopsis & Review The Book of Fish, Kisah Persahabatan Mengharukan

Ditulis oleh Desi Puji Lestari
The Book of Fish
4
/5
showpoiler-logo
PERHATIAN!
Artikel ini mengandung spoiler mengenai jalan cerita dari film/drama ini.

Diasingkan karena dituduh mempelajari ajaran Katholik, seorang cendekiawan kepercayaan raja, Jeong Yak Jeon, diasingkan ke pulau yang jauh. Selama di pengasingan, Yak Jeon bertemu seorang pemuda setempat yang cerdas dan tahu banyak mengenai ikan-ikan.

Pemuda bernama Chang Dae yang sehari-hari berprofesi sebagai nelayan itu memberinya ketertarikan pada dunia kelautan dan ikan.

Yak Jeon berencana menulis buku tentang ikan dengan bantuan Chang Dae, sebaliknya dia bersedia mengajari pemuda itu untuk memahami buku-buku.

Persahabatan keduanya pun mulai terjalin sebagai guru dan murid, hingga kemudian Chang Dae dihadapkan pada pilihan yang sulit. Bagaimana kisah persahabatan mereka? Sinopsis dan ulasan The Book of Fish (2021) bisa kamu simak berikut ini!

Sinopsis

Sinopsis

Tahun 1801, Raja Jeongjo (Jung Jin Young) menyambut Jeong Yak Jeon (Sol Kyung Gu) di kerajaan untuk melayaninya. Sang raja tidak peduli dengan kegemaran keluarga Yak Jeon mempelajari pelajaran barat.

Raja hanya ingin Yak Jeon bertahan hidup karena suatu saat dia akan membutuhkannya. Hal yang dimaksud dengan pelajaran barat rupanya adalah ajaran Kristus.

Tiga Jeong bersaudara, yaitu Jeong Yak Jeon, Jeong Yak Jong dan Jeon Yak Yong, dituduh membawa pelajaran setan yang bisa membahayakan negara. Oleh karena itu, sepeninggalan Raja Jeongjo yang belum genap setahun, para pejabat istana meminta mereka untuk dihukum.

Jeong Yak Jeon dan Yak Yong sudah ditangkap lebih dulu, sementara Jeong Yak Jong (Choi Won Young) menyerahkan diri dengan berani.

Dalam keadaan sudah terikat dan tidak berdaya, Yak Jong tetap dengan lantang meyakini dan mengatakan bahwa Iman Katholik adalah kebenaran mutlak. Dia tidak akan berganti keyakinan hanya karena dilarang.

Satu-satunya hal yang dia sesalkan adalah dua saudaranya, Yak Jeon dan Yak Yong (Ryu Seung Ryong), menolak iman yang dia yakini. Di antara Yak Jeon dan Yak Yong, hanya Yak Jeon yang memihak istana.

Yak Yong sendiri rela mati demi membela dua saudaranya, berbeda dengan Yak Jeon yang siap membasmi penganut Katholik dalam sepuluh hari.

Rupanya pilihan yang diambil Yak Jeon justru membingungkan pihak kerajaan. Mereka tidak bisa membenarkan Yak Jeon membunuh dua saudaranya, tetapi jika istana tidak membunuh Yak Yong, seribu eksekusi pun tidak berarti.

Pihak istana lantas mulai mencari keberadaan keponakan mereka yang bernama Hwang Sa Young. Dalam persembunyiannya, Hwang menulis sebuah surat berisi percakapan dengan Jeong bersaudara, yang malah dianggap sebagai pengkhianatan.

Mengetahui percakapan tersebut diketahui pihak istana, Yak Jeon protes. Pasalnya dalam surat tersebut jelas tertulis bahwa dia dan Yak Yong tidak setuju dengan Yak Jong, juga fakta bahwa Yak Yong bersumpah pada raja untuk meninggalkan Katholik.

Yak Jeon bisa mencium niat busuk para pejabat istana yang hanya ingin menghapus wasiat mendiang raja. Para pejabat istana lantas menyusun rencana lain dengan mengasingkan Yak Jeon ke Pulau Gunung Hitam; sebuah pulau yang jauh.

Para warga Pulau Gunung Hitam heran karena hari itu mereka melihat Gubernur Eom Bu Gil (Jo Woo Jin) datang ke pantai. Rupanya, Bu Gil datang untuk menyambut Yak Jeon.

Namun, setibanya Yak Jeon di sana, Bu Gil mengenalkannya sebagai pengkhianat pada para warga. Mereka langsung mengetahui gosip tentang ‘Pelajaran Barat’ yang dipelajari Yak Jeon.

Bu Gil kemudian meminta agar salah satu warganya bersedia menampung Yak Jeon. Di antara sekian banyak orang, seorang janda bernama Gageo (Lee Jung Eun), ditunjuk oleh Bu Gil.

Walau memperlihatkan raut wajah keberatan, terutama karena dia tinggal sendirian, Gageo mengikuti perintah Bu Gil. Sampai di rumah, Gageo ternyata cukup ramah. Dia bahkan menyiapkan makanan berupa irisan ikan mentah untuk Yak Jeon.

Ikan mentah yang disajikan Gageo merupakan hasil tangkapan pemuda bernama Park Chang Dae (Byun Yo Han). Chang Dae adalah pemuda yang cukup pintar di pulau itu. Dia sudah banyak membaca berbagai buku dan mulai kehabisan bacaannya.

Setelah tinggal beberapa lama di pulau itu, Yak Jeon tanpa sengaja bertemu dengan Chang Dae di pantai. Dalam sedikit percakapan, Yak Jeon bisa menebak bahwa pemuda yang menjelaskan padanya tentang anemone laut adalah Chang Dae.

Tak lama keduanya kembali bertemu. Kali ini Yak Jeon menawari Chang Dae untuk belajar bersamanya. Namun, alih-alih antusias, Chang Dae malah menolak dengan kasar. Dia tak ingin belajar dari pengkhianat dan tak ingin terpengaruh olehnya.

Perkataan Chang Dae membuat Yak Jeon marah sekaligus termenung. Pada pertemuan berikutnya, Chang Dae tanpa terduga menyelamatkan Yak Jeon yang berusaha bunuh diri pasca putus asa dengan situasi.

Yak Jeon lantas mendapatkan kesempatan untuk membalas budi dengan membantu Chang Dae keluar dari penjara karena sudah melawan Bu Gil.

Hubungan keduanya yang semula tak begitu akur pun mulai membaik secara canggung. Yak Jeon semakin terpesona dengan pengetahuan Chang Dae mengenai ikan-ikan dan kepintarannya.

Yak Jeon terinspirasi untuk menulis buku tentang kelautan dan ikan-ikan yang dilengkapi dengan gambar. Dia berencana mengajak Chang Dae berkolaborasi, tepatnya bertransaksi.

Yak Jeon ingin belajar tentang ikan dan dia bersedia mengajari Chang Dae memahami tulisan pada buku-buku yang sulit dipahami. Lantas, akankah kerjasama mereka dapat berhasil dan saling menguntungkan?

Persahabatan Sastrawan dan Nelayan yang Mengharukan

Persahabatan Sastrawan dan Nelayan yang Mengharukan

Sebuah film historical dengan latar tahun 1800-an, The Book of Fish (2021) suguhkan tema menarik tentang persahabatan dan kehidupan.

Dengan pengantar yang sensitif mengenai masuknya ajaran Katholik di tengah-tengah konfusianisme, film ini punya plot yang sederhana; tidak berat tetapi sangat bermakna, berfilosofi tetapi dieksekusi sedekat mungkin.

Yak Jeon adalah seorang sastrawan dan orang terpelajar yang diasingkan ke pulau jauh karena dituduh mendalami ajaran Katholik.

Ketika itu ajaran di luar kebiasaan, dianggap ajaran setan dan membahayakan. Hidup di pengasingan dan khatam dengan akal busuk para pejabat, Yak Jeon memilih mempelajari tentang ikan dan kelautan.

Yak Jeon kemudian bertemu seorang pemuda setempat yang pintar dan cakap mengenai hal itu. Keduanya lalu bertukar kelebihan dan persahabatan pun terjalin sebagai guru dengan muridnya.

Siapa sangka dari sana mereka saling belajar tentang kehidupan. Dari persahabatan mereka, emosi-emosi berupa perasaan haru dan kehangatan dominan disuguhkan.

Gambarkan Pemerintah yang Mirip Lintah

Gambarkan Pemerintah yang Mirip Lintah

Setup cerita film The Book of Fish (2021) tidak bertele-tele. Dalam durasi hampir dua jam, kisah mereka dirangkum dalam beberapa fase. Dari yang semula saling menjadi guru untuk masing-masing, keduanya berubah menjadi guru untuk anak-anak di sana.

Hampir tidak ada konflik meledak-ledak, hingga tiba di bagian akhir, tensi semakin meningkat ketika guru dan murid itu berbeda pendapat.

Chang Dae yang semakin pintar akhirnya mendapat kesempatan mengikuti ujian negara dan naik derajat dari orang rendahan menjadi pejabat.

Dari sini agenda lain yang ingin disampaikan The Book of Fish (2021) mulai terlihat lebih jelas. Film karya sutradara Lee Joon Ik ini tidak semata ceritakan tentang persahabatan, melainkan sekaligus menggambarkan pemerintah yang mirip lintah.

Sentuhan Hitam Putih Nan Cantik dan Dramatis

Sentuhan Hitam Putih Nan Cantik dan Dramatis

Pemilihan konsep hitam putih sebagai identitas The Book of Fish (2021), tampaknya memang sudah dipilih dengan matang. Jika kamu tidak terbiasa karena kurang nyaman dengan visualnya yang tanpa warna, The Book of Fish (2021) tawarkan keindahan lain.

Sinematografinya luar biasa cantik dengan warna hitam dan putih yang justru menambah kesan dramatis. Dengan latar kehidupan masyarakat rendahan di pulau terpencil, pemilihan warna hitam putih sangat jenius karena kesan miskin dan lusuh jadi tertangkap lebih jelas.

Bagaimana cerita film ini sebenarnya cukup suram, tersimbolkan oleh dua warna itu. Sampai dengan hal ini, The Book of Fish (2021) terlihat dikonsep sangat matang.

The Book of Fish (2021) sebuah karya luar biasa yang memotret persahabatan antara dua orang berbeda kelas sosial dan pemerintahan yang serakah.

Premisnya boleh jadi terdengar biasa saja, tetapi eksekusi dan elemen-elemen dalam film ini membuatnya sangat istimewa. Belum lagi pemainnya, Sol Kyung Gu dan Byun Yo Han juga sangat berkualitas. Masih belum nonton? Segerakan!   

cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram