logo web

Sinopsis & Review Ant-Man and the Wasp: Quantumania (2023)

Ditulis oleh Dhany Wahyudi
Ant-Man and the Wasp: Quantumania
2.8
/5
showpoiler-logo
PERHATIAN!
Artikel ini mengandung spoiler mengenai jalan cerita dari film/drama ini.

Akibat eksperimen yang dilakukan oleh Cassie, seluruh anggota keluarga Pym terbawa masuk ke alam kuantum. Bertemu dengan berbagai makhluk penghuni alam itu, mereka mulai menyadari ada kekuatan jahat yang besar berkuasa di dalamnya, yaitu Kang the Conqueror.

Ant-Man and the Wasp: Quantumania adalah film superhero karya Peyton Reed yang dirilis oleh Walt Disney Pictures pada 17 Februari 2023. Merupakan film ketiga Ant-Man yang juga menjadi film ke-31 di Marvel Cinematic Universe, film ini masih dibintangi oleh para pemeran dari dua film sebelumnya.

Baca juga: Sinopsis & Review Ant-Man (2015), Aksi Superhero yang Bisa Mengecil

Sebagai film pembuka Phase Five, banyak harapan yang ditunggu oleh penggemarnya atas film ini. Apakah Ant-Man and the Wasp: Quantumania berhasil memenuhi ekspektasi itu? Simak review berikut untuk mendapatkan ulasan menyeluruh tentang film yang syutingnya lebih banyak dikerjakan di Studio Pinewood London ini.

Sinopsis

Ant-Man and the Wasp Quantumania_sinopsis_

Setelah Avengers mengalahkan Thanos, Scott Lang menjadi sosok populer yang dikenal oleh banyak orang, meski masih ada yang salah menduganya sebagai Spider-Man. Bahkan dia menulis buku laris berjudul Look Out for the Little Guy yang berisi versi berbeda kisah Avengers mengalahkan Thanos dari sudut pandangnya.

Dia baru tahu bahwa Cassie, yang kini sudah remaja, telah memiliki kostum Ant-Man sendiri setelah menjemputnya dari tahanan kepolisian. Setelah makan malam keluarga, Cassie menunjukkan karya teknologi buatannya yang bisa mengirim sinyal ke alam kuantum.

Janet meminta Cassie untuk tidak meneruskannya yang mengundang tanda tanya dari anggota keluarga lainnya. Sebelum sempat menjawab, alat ciptaan Cassie bereaksi dan menyedot mereka semua ke alam kuantum. Mereka pun terpecah menjadi dua kelompok.

Hank, Janet dan Hope menemui berbagai kelompok penghuni alam itu yang sudah mengenal baik Janet sebelumnya. Mereka bahkan diberikan pesawat yang bisa mereka bawa untuk mengarungi alam kuantum.

Sementara Scott dan Cassie bertemu dengan sekelompok penghuni alam kuantum lainnya yang sedang merencanakan pemberontakan kepada Kang the Conqueror, penguasa alam kuantum.

Secara panjang lebar, Janet menjelaskan siapa sosok Kang sebenarnya, yaitu seorang penjelajah waktu yang memiliki rencana untuk menghancurkan seluruh alam.

Scott dan Cassie berhasil ditangkap oleh MODOK, rupa baru Darren Cross di alam kuantum. Dia dijadikan senjata mematikan oleh Kang.

Menjadi tahanan, Kang meminta Scott untuk mengambil bola reaktor yang merupakan inti tenaga bagi pesawatnya agar bisa keluar dari alam kuantum. Mencoba melawan, kekuatan Kang jauh lebih besar daripada Ant-Man. Scott pun menyetujuinya demi keselamatan jiwa Cassie yang menjadi tahanan Kang.

Scott harus melalui Badai Kemungkinan yang menduplikasi dirinya menjadi banyak. Hal ini terjadi juga pada Hope yang datang untuk menjemput Scott. Berhasil menyatukan pikiran para kembarannya, Scott dan Hope mendapatkan bola reaktor tersebut.

Sementara itu, Cassie berhasil kabur dari penjara dengan Jentorra, pemimpin pemberontakan. Mereka berjuang bahu-membahu melawan kekuatan pasukan Kang yang berjumlah besar, sekaligus menghalangi Kang supaya tidak bisa keluar dari alam kuantum ini.

Saat dalam kondisi terdesak, Hank datang dengan pasukan semut yang berhasil menggulung kekuatan Kang. Membuka portal untuk kembali, satu persatu dari mereka masuk ke dalamnya. Namun Kang muncul yang membuat Ant-Man harus bertarung lagi melawannya.

Berhasilkan Ant-Man mengalahkan Kang sebelum portal itu tertutup lagi? Ataukah Kang berhasil lolos ke alam dunia dan membuat petaka baru?

Saksikan terus keseruan aksi Ant-Man dalam usahanya menghalangi Kang mewujudkan rencana jahatnya hingga akhir. Dan seperti biasa, jangan beranjak dulu karena masih ada dua adegan post-credit yang akan membuat kita tercengang.

Kental Nuansa Keluarga

Ant-Man and the Wasp Quantumania_Kental Nuansa Keluarga_

Sama seperti dua film sebelumnya, Ant-Man and the Wasp: Quantumania masih tetap mempertahankan nuansa keluarga yang kental, terutama hubungan Scott Lang dan Cassie.

Kini beranjak remaja, Cassie sering berselisih paham dengan Scott yang masih berusaha menjadi ayah yang baik. Tanpa sepengetahuan Scott, Cassie sudah memiliki kostum Ant-Man sendiri dan eksperimen terkait alam kuantum.

Lewat eksperimen Cassie inilah masalah film ini bermula. Dengan segera kita akan menghabiskan durasi film sepanjang 2 jam 5 menit ini di alam kuantum.

Sebelum masuk ke sana, Janet mengekspresikan rasa takut yang besar dan bilang bahwa alam kuantum sangat berbahaya. Sebenarnya, bukan alamnya yang berbahaya namun ada sosok jahat berkekuatan besar menguasai alam tersebut.

Dan kita akan mendapat penjelasan secara mendetail tentang sosok Kang the Conqueror ini dari Janet, yang justru sempat membuat ritme film terasa mengendur.

Meski terpisah, lima anggota keluarga besar Pym tetap memiliki porsi yang cukup untuk beraksi dan menampilkan kemampuan terbaik mereka. Tentu saja kali ini Scott dan Cassie mendapat durasi yang lebih banyak dibandingkan yang lainnya.

Hope datang di saat yang tepat untuk menyelamatkan Scott di tengah Badai Kemungkinan. Dia pun yang pertama menggunakan kostum superhero-nya.

Sementara Hank dan Janet, meski tidak menggunakan kostum, mengerahkan kekuatan lain yang berperan besar dalam meruntuhkan kekuasaan Kang di alam kuantum.

Hank tetap bisa memanipulasi semut yang di alam itu semuanya berukuran raksasa. Sementara tanpa diduga, Janet yang hidup di alam kuantum selama 30 tahun membuktikan kapasitas dirinya sebagai ahli diplomasi. Namun, tetap saja dia tidak berdaya di hadapan Kang yang pernah dibantunya memperbaiki bola reaktor.

Kekuatan super dari lima anggota keluarga Pym ini sedikit banyak mengingatkan kita akan aksi superhero lain di film animasi The Incredibles (2004).

Terlalu banyak kesamaan dengan film superhero lainnya pun membuat alur cerita film ini terasa standar, meski skala film ini lebih besar dari dua film sebelumnya. Tapi karena berada di alam kuantum, semua masih terasa kecil.

Penggambaran Alam Kuantum yang Spektakuler

Review Ant-Man Quantumania_Penggambaran Alam Kuantum yang Spektakuler_

Sesuai judulnya, sebagian besar cerita film ini berada di alam kuantum. Jika sebelumnya kita diperlihatkan secara sekilas bahwa alam kuantum itu sepi tak berpenghuni dengan pernak-pernik aneh berwarna-warni, maka persepsi kita coba diubah oleh tim produksi dan efek visual film ini.

Menurut produser Kevin Faige, dia tidak membatasi imajinasi para kru film yang terlibat di dalamnya. Walhasil, kita akan dibuat takjub dengan segala hal aneh sekaligus lucu dan menyeramkan yang ditampilkan di film ini.

Setidaknya syaraf geli kita akan tergelitik dengan kehadiran MODOK dan Veb, makhluk seperti slime yang sibuk memikirkan jumlah lubang setiap makhluk. Dan tentu saja, keanehan alam kuantum ini menjadi sumber kelucuan yang dimaksimalkan oleh Paul Rudd.

Satu yang paling mengundang tawa adalah ketika Scott ikut memikirkan jumlah lubang pada tubuh manusia untuk menjawab pertanyaan Veb. Tapi hal ini terasa mengulang adegan dari film-film serupa bergenre petualangan di alam lain, hanya saja dengan lelucon berbeda.

Namun sayangnya, porsi humor di film ketiga ini tidak sebanyak dua film sebelumnya, apalagi tidak dihadiri oleh tiga teman Scott, terutama Luis. Ketidakhadirannya membuat film ini terasa kering dan memiliki level hiburan terendah jika dibandingkan dua film pendahulunya.

Namun, kembali ke penggambaran alam kuantum, tentu kita akan dibuat tercengang. Ternyata alam ini dihuni oleh berbagai makhluk dalam rupa yang aneh. Mereka tertindas oleh Kang yang membangun kekaisaran dengan rencana besar untuk memusnahkan seluruh alam, termasuk alam kuantum.

Efek visualnya tersaji dengan baik dan rapi, terutama dalam pertempuran besar menjelang penghujung film. Permainan skala ketika Ant-Man membesarkan dan mengecilkan tubuhnya, terjaga dengan baik dan believable.

Tapi mungkin kita akan sedikit pusing melihat kecepatan pergerakan mereka yang membuat mata lelah. Hal sama yang membuat film Transformers: Revenge of the Fallen (2009) dicibir.

Dengan bujet produksi yang besar, terutama untuk polesan efek visual, film ini juga memakan biaya perpindahan lokasi syuting di berbagai negara. Padahal di dalam film, sepertinya hanya dua tempat yang menjadi latar lokasi cerita, yaitu kota San Francisco dan alam kuantum yang pastinya dikerjakan di dalam studio.

Tapi kabarnya, tim produksi sempat terbang ke Turki untuk melakukan syuting di Cappadocia. Dalam film, apakah kalian tahu adegan mana yang Cappadocia menjadi latar lokasinya? Sulit sekali kita menemukannya.

Hal ini juga dianggap sebagai pemborosan belaka karena sebagian besar syutingnya dihabiskan di Studio Pinewood, London. Bahkan Industrial Light & Magic menggunakan teknologi virtual yang digunakan di serial The Mandalorian.

Artinya, seharusnya biaya produksi menjadi lebih murah karena tidak ada teknologi baru yang dikembangkan. Dan karena itu pula, penggambaran alam kuantum di film ini terlihat seperti topografi salah satu planet yang ada di serial Star Wars tersebut.

Tapi setidaknya, ada satu adegan yang cukup menarik, yaitu ketika Scott masuk ke Badai Kemungkinan. Duplikasi Ant-Man hingga mencapai ribuan jumlahnya mampu membuat kita terperangah.

Awalnya mereka saling bertengkar karena merasa Ant-Man yang asli, namun berkat keinginan yang sama untuk menyelamatkan Cassie, mereka bahu-membahu menolong Scott asli menyelesaikan tugasnya.

Sekilas memang visualisasi adegan ini mirip dengan yang pernah dihadirkan di film Constantine (2005) atau World War Z (2013), namun Peyton Reed berhasil menampilkannya dengan lebih spektakuler.

Dari sisi sinematografi, Bill Pope yang dipercaya sebagai sinematografer, tidak mampu memaksimalkan keahliannya dengan pekatnya efek CGI di film ini.

Akting Prima Jonathan Majors

Review Ant-Man Quantumania_Akting Prima Jonathan Majors_

Dari sisi akting, para pemerannya tetap tampil prima dan beberapa di antaranya berhasil mencuri perhatian. Paul Rudd tetap menampilkan kharisma Scott Lang seperti di dua film sebelumnya dan Kathryn Newton tampil apik sebagai Cassie remaja yang kemungkinan akan memiliki jalan panjang di Marvel Cinematic Universe kelak.

Dari keluarga Pym, peran Hank dan Hope sedikit dikurangi untuk memajukan Janet yang memang memiliki pengalaman di alam kuantum.

Michelle Pfeiffer berhasil menampilkan ekspresi ketakutan dan kecemasannya terkait sosok Kang yang bengis. Sehingga ketika Kang muncul di layar, kita sudah sangat yakin dengan betapa jahatnya sang penjelajah waktu ini.

Dan tentu saja, Jonathan Majors yang dipercaya memerankan Kang the Conqueror, tampil dalam performa paling apik dan berhasil meyakinkan kita akan betapa busuknya niat jahat yang sudah direncanakannya.

Meski sebenarnya karakter ini tidak berbeda dengan para supervillain lainnya, baik latar belakang maupun motivasi jahatnya, namun Kang menjadi menakutkan berkat akting prima sang aktor.

Dari gaya berbicara dengan intonasi yang pelan namun intimidatif, seperti yang ditampilkan Marlon Brando di film The Godfather (1972), gerakan kecilnya pun bisa membuat karakter lain di sekitarnya menjadi was-was.

Kang bisa membuat siapapun terpental hanya dengan menggerakkan jari telunjuknya saja. MODOK dan Ant-Man sudah merasakannya.

Meski hanya menceritakan latar belakangnya dalam satu kalimat, namun kita bisa melihat adanya rasa sedih, kesendirian dan dendam menumpuk di mata Kang. Inilah kualitas akting terbaik yang ditampilkan oleh Jonathan Majors.

Jadi sangat wajar apabila sekarang ini karier Jonathan Majors terus meningkat dan dipercaya berakting di film-film besar.

Begitu juga Marvel yang menempatkannya sebagai musuh besar para Avengers kelak di Phase Six dalam film Avengers: The Kang Dynasty (2025). Dan lewat film ini, kita baru diperkenalkan sebagian kecil kekuatan besar yang dimilikinya.

Ant-Man and the Wasp tampil tidak maksimal meski sudah hadir dalam skala cerita lebih besar dibandingkan dua film sebelumnya. Performa akting para pemerannya tetap apik dan berhasil membawakan karakter masing-masing dengan prima, terutama Jonathan Majors sebagai Kang the Conqueror.

Namun, ada beberapa elemen film superhero yang lupa untuk ditampilkan, padahal penting bagi film seperti ini. Salah satunya adalah tidak ada keterlibatan masyarakat bumi yang terancam.

Meski pertempuran yang digelar berskala besar, namun semua terjadi di alam kuantum, di mana tidak ada manusia yang tinggal di dalamnya. Sehingga kita tidak merasakan betapa bahayanya ancaman Kang the Conqueror.

Film superhero menjadi menarik apabila supervillain menebar teror kepada umat manusia dan ini sudah menjadi elemen wajib yang harus dihadirkan. Masih ingat kenapa film Superman Returns (2006) dianggap gagal? Karena Lex Luthor tidak mengancam penduduk bumi secara langsung dalam aksi terornya.

Mungkin agak sedikit terlambat, elemen ini baru dimunculkan di akhir film dalam pikiran Scott Lang yang dibuat seperti lelucon pemancing tawa. Entah disengaja atau tidak, namun hal ini tidak mengubah persepsi kita akan semua yang sudah ditampilkan di dalam filmnya.

Apakah kita pantas kecewa? Sebagian besar penggemar Marvel mungkin akan merasakannya. Tapi mari kita berpikir positif saja, bahwa film ini hanyalah jalan pembuka dan jembatan penghubung baru di Phase Five MCU ini.

Setidaknya, film ini memperkenalkan Kang secara pantas, terutama kekuatan besar dan rencana jahat yang dimilikinya. Dan kita harapkan film-film MCU selanjutnya bisa tampil lebih baik dan terhindar dari kegagalan di banyak film dalam Phase Four kemarin.

Jadi bagaimana, sudah siap masuk ke alam kuantum untuk menemani Ant-Man menghadapi Kang the Conqueror? Langsung tonton film ini sekarang juga, ya! Selamat menyaksikan.

Kategori:
Tag:
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram