logo web

Sinopsis & Review Argantara (2022), Romantisasi Pernikahan Dini

Ditulis oleh Suci Maharani R
Argantara
1
/5
showpoiler-logo
PERHATIAN!
Artikel ini mengandung spoiler mengenai jalan cerita dari film/drama ini.

Argantara (2022) menjadi salah satu film yang membuka tahun 2022 dan cukup dinantikan. Bagaimana tidak, film ini menjadi comeback bagi Aliando yang sudah lama vakum dari dunia akting.

Aktor tampan ini dipasangkan dengan Natasha Wilona dalam adaptasi Wattpad populer. Sayangnya, film garapan Guntur Soeharjanto ini malam membuat banyak orang terutama orang tua khawatir.

Berlabel film remaja, Argantara (2022) mungkin akan membuat para anak muda kesemsem dengan adegan romantis dan karakter jagoan mirip Dilan dalam film Dilan 1990 (2018).

Namun yang jadi masalah, film produksi Hitmaker Studio ini terlalu meromantisasi pernikahan dini. Hal ini tentu berbahaya untuk remaja, karena bisa membuat mereka berpikir menikah muda itu enak dan mudah untuk dilakukan.

Lantas, alur cerita seperti apa yang berbahaya untuk remaja dalam film Argantara (2022)? Buat kamu yang penasaran, Showpoiler akan membagikan sinopsis dan ulasan mengenai filmnya. Kamu bisa mencari tahu informasi lengkapnya di bawah ini.

Sinopsis

review argantara_Sinopsis_

Lo sih nggak pake pengaman nggak apa-apa, kan udah nikah juga

-Ghea (film Argantara)

Masa-masa SMA seharusnya menjadi masa paling menyenangkan. Namun, hal ini malah membuat Syera (Natasha Wilona) merasa hidupnya dipenuhi dengan masalah.

Semua ini karena Argantara (Aliando Syarief), ketua geng motor Agberos yang juga suaminya. Pasti banyak yang penasaran, kenapa Syera dan Argantara bisa menikah di usia mereka yang baru menginjak 16 tahun? Semua ini berawal ketika orang tua Syera merasa harus membayar hutang budi pada keluarga Argantara.

Saat Syera masih kecil, ayah Syera mendapatkan donor ginjal dari ayah Argantara. Setelah beberapa tahun, ayah Argantara meninggal dunia karena mengalami gagal ginjal. Sebelum meninggal, keduanya sepakat membuat perjodohan untuk menikahkan anak-anak mereka.

Melihat kondisi sang ayah yang mulai sakit-sakitan, Syera terpaksa menerima perjodohan dengan salah satu murid paling nakal di sekolahnya itu.

Argantara dan Syera bagaikan dua kutub yang berlawanan. Ketika Syera dikenal sebagai salah satu siswi terbaik dengan segudang prestasi, Argantara dikenal sebagai siswa nakal yang selalu terlibat tawuran antar geng, bahkan sering bolak balik kantor polisi.

Tak ingin membuat sekolah dan kawan-kawannya serangan jantung, Syera dan Argantara memutuskan untuk merahasiakan pernikahan ini. Namun, pernikahan tidaklah seindah dan semudah yang dibayangkan oleh Syera.

Bisa dikatakan semua masalah selalu datang dari Argantara, ketua geng motor ini selalu saja pulang larut dan dalam keadaan babak belur. Argantara akhirnya mengisahkan, bahwa geng motornya memang memiliki permusuhan dengan geng motor lain bernama Baron.

Berawal dari adu balapan motor hingga ketua geng Baron telah membunuh salah satu sahabat terbaik. Sejak saat itu, Argantara tidak pernah segan untuk bertarung melawan Baron yang selalu agresif dan mencari-cari masalah.

Syera mengatakan, bahwa ia ingin Argantara berhenti menjadi siswa nakal. Sebagai kepala keluarga, Argantara juga memiliki angan-angan untuk menjadi suami yang baik.

Bahkan ketika Syera sangat terguncang mengetahui kehamilannya, Argantara justru jadi satu-satunya orang terlihat cukup siap. Ia sudah memimpikan masa depan bahagia selepas menyelesaikan pendidikannya.

Namun, impian yang diberikan Argantara untuk Syera tidak berjalan dengan baik, bahkan sejak awal. Setiap harinya, Argantara selalu membuat Syera lelah dengan berbagai keributan yang ia lakukan. Bahkan sikap agresif Argantara melihat kedekatan Syera dengan saudara tirinya Aldi (Teuku Rassya), malah menimbulkan keributan besar.

Ditambah lagi, berita mengenai pernikahan dan kehamilan Syera tiba-tiba tersebar luas di sekolah. Keduanya pun hampir saja dikeluarkan dari sekolah. Kesalahpahaman ini membuat Argantara dihadapkan dengan dua pilihan.

Sebelum ia bisa membahagiakan Syera, Argantara harus berhadapan dengan Aldi yang ternyata dalang utama dibalik keagresifan geng Baron.  

Romantisasi Pernikahan Dini dan Normalisasi Kenakalan Remaja 

Romantisasi Pernikahan Dini dan Normalisasi Kenakalan Remaja__

Argantara (2022) bagi saya cukup pantas sebagai kandidat terkuat film terburuk di tahun 2022. Film ini membuat kepala saya sakit, sejak awal hingga akhir.

Ada banyak hal yang membuat saya kurang nyaman, namun ada dua hal penting yang saya perhatikan. Romantisasi pernikahan dini dan normalisasi kenakalan remaja dan hal ini cukup berbahaya untuk ditonton oleh remaja.

Sekilas film garapan Guntur Soeharjanto ini memang ringan dan memiliki banyak celetukan spontan yang lucu, tapi isi ceritanya seakan memperlihatkan kalau menikah muda itu menyenangkan.

Romansa yang ditampilkan oleh Syera dan Argantara memang manis. Tinggal serumah dengan pria yang kita sukai, mulai dari membuka mata di pagi hari, hingga terlelap di pelukannya setiap malam. Hal indah inilah yang membuat Argantara (2022) berbahaya bagi para remaja.

Pasalnya, mereka berpikir kalau menikah muda itu mudah dan menyenangkan. Belum lagi soal normalisasi kenakalan remaja. Saya cukup kagum melihat masa depan Argantara dan Aldi masih cerah. Padahal, kenakalan remaja mereka bukan hanya tawuran, tapi sampai mengorbankan nyawa dan uang selalu jadi penyelamat.

Argantara (2022) justru tidak menampilkan bahayanya menikah dan hamil di usia muda bagi perempuan. Hamil di usia dini bisa membahayakan ibu dan bayi yang dikandungnya.

Realita soal pernikahan dini yang indah di awal, bisa jadi neraka ketika mereka tidak siap baik secara mental dan finansial. Tawuran juga menjadi jalan instan bagi anak muda untuk merusak masa depan mereka.

Blunder, Isi Film dan Statement Pihak Produksi Tidak Sejalan

Blunder, Isi Film dan Statement Pihak Produksi Tidak Sejalan__

Argantara (2022) bukanlah film yang saya nantikan di tahun ini. Namun, ada hal menarik yang diucapkan oleh Guntur Soeharjanto dalam sebuah wawancara.

Mengutip dari Kapanlagi, Rocky Soraya selaku produser dan sutradara Guntur Soeharjanto sepakat membantah promosikan “pernikahan dini”. Justru mereka ingin menunjukkan kalau menikah muda memiliki banyak resiko besar.

"Moral film ini adalah ketika 16 tahun dan menikah, kita belum siap sebetulnya untuk menjalani pernikahan itu karena ada banyak hal, apalagi punya anak" Inilah yang dikatakan oleh Rocky Soraya.

Sayangnya, saya tidak melihat kepedulian mereka soal pernikahan dini.

Argantara (2022) malah condong memperlihatkan betapa indah dan menyenangkannya pernikahan muda ala Wattpad. Apalagi statement kedua Rocky Soraya tidak kalah blunder.

"Tapi karena mereka sudah menikah, kita tidak mau memperlihatkan orang bercerai. Mereka harus menjadi dewasa secara cepat walau umurnya masih kecil. Jadi ketika penonton lihat ini, moral value-nya pernikahan muda itu susah ya ternyata.”

Dari sini saya bisa mengatakan, sepertinya tidak ada moral value yang ingin ditampilkan hanya komersial saja. Jika mereka ingin menunjukkan moral value, paling tidak ubahlah ending-nya jadi menyedihkan. Karena bukan rahasia lagi, kebanyakan pasangan pernikahan dini berakhir dengan perceraian.

Kenyataannya anak dari pernikahan dini selalu jadi korban. Lalu, soal orang tua yang selalu ikut campur dan mendikte pasangan pernikahan dini dan jadi salah satu sumber kehancuran rumah tangga mereka.

Aliando Syarief dan Natasha Wilona Terjebak di Proyek yang Salah

Aliando Syarief dan Natasha Wilona Terjebak di Proyek yang Salah__

Didapuk sebagai pemeran utamanya, saya akui bahwa chemistry dan akting dari Aliando Syarief dan Natasha Wilona cukup menjanjikan. Namun, saya merasa agak kasihan melihat dua aktor muda Indonesia ini.

Mereka memiliki bakat, tapi terjebak dalam sebuah film yang sangat buruk. Untuk Aliando Syarief, Argantara (2022) jadi comeback-nya pasca vakum selama beberapa tahun.

Dikutip dari Tribun News, Aliando menilai film ini memiliki cerita yang baik. Sementara untuk Natasha Wilona, saat membaca skripnya ia tahu kalau cinta dan nafsu memiliki batas yang tipis.

Ini juga kedua kalinya Natasha Wilona memerankan karakter gadis di bawah umur yang hamil. Pertama di Little Mom (2021), drama seri yang sempat saya sanjung karena memperlihatkan kekuatan wanita. Nyatanya drama ini berakhir dengan nilai moral “pernikahan selalu menjadi jalan keluar, ketika anak muda terlena dengan cinta hingga membuahkan anak.”

Sinematografi Lumayan, tapi Dialognya Dangkal

Sinematografi Lumayan, Tapi Dialognya Dangkal__

Tak hanya alur ceritanya, hal yang membuat saya kecewa juga berasal dari dialognya yang terasa dangkal. Saya mencatat banyak sekali dialog-dialog buruk, salah satunya seperti yang saya kutip di sinopsis.

Mau tahu dialog remeh apa lagi yang mereka masukkan dalam film ini? Lagi-lagi dialog ini datang dari Ghea yang diperankan oleh Annette Edoarda.

Contohnya “sel telur siapa yang akan dibuahi Aldi,” atau “rahim anget. Hingga celetukan siswa lainnya yang berkata “duh, jadi pengen nikah muda.”

Dialog yang tidak kalah vulgar dan nakal juga datang dari Aliando, contohnya “takut apa, takut hamil?.” Maksud saya, film ini memang adaptasi dari Wattpad, tapi sebaiknya kualitas dialognya yang dangkal ini bisa tetap ditingkatkan.

Satu-satunya yang membuat saya enjoy adalah sinematografi garapan Guntur Soeharjanto yang cukup memuaskan, hingga adegan pertarungan yang jadi klimaksnya muncul.

Kelap-kelip dari lampu berwarna kebiruan berhasil membuat saya pusing. Bayangkan saja, lebih dari 3 hingga 5 menit lighting seperti ini ditampilkan dan benar-benar bikin saya hilang fokus saking pusingnya.

Secara kualitas, jujur saja film ini lebih bagus untuk dijadikan series yang ditayangkan online, meskipun tidak akan ada perubahan drastis, karena moral value-nya tetap angan-angan kosong saja.

Sayang sekali hanya sedikit yang bisa saya nikmati selama menonton Argantara (2022). Film ini cukup membuat saya merasa kesal dari awal hingga akhir.

Sebenarnya banyak cerita Wattpad yang menampilkan kisah menarik. Jika melihat dari kepopuleran tanpa menelaah isi ceritanya, tidak aneh kalau adaptasi Wattpad bisa seburuk Argantara (2022). Saya juga menyayangkan bakat Aliando dan Wilona tertutup oleh film dengan moral value yang minim.

cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram