logo web

Sinopsis & Review Barbie, Ketika Mainan Masuk ke Dunia Nyata

Ditulis oleh Suci Maharani R
Barbie
4.8
/5
showpoiler-logo
PERHATIAN!
Artikel ini mengandung spoiler mengenai jalan cerita dari film/drama ini.

Ide untuk membawa Barbie ke versi live-action ternyata bukan sekedar mencari untung saja. Nyatanya, film arahan Greta Gerwig ini berhasil memukau dan mengejutkan banyak orang. 

Tidak hanya membawa para gadis bernostalgia dengan berbagai edisi Barbie yang pernah diluncurkan oleh Mattel. Barbie (2023) berhasil membuat para penontonnya terbuai dan merasakan indahnya Barbieland lewat visualisasinya yang indah. 

Tak hanya itu, kamu akan terkejut ketika Barbie justru memberikan pelajaran hidup kepada manusia. Apakah ini nyata?

Buat kamu yang bertanya, apakah worth menonton Barbie (2023) bersama pasangan? Sepertinya wajib banget membaca sinopsis dan ulasan filmnya. Temukan jawabannya hanya di Showpoiler!

Sinopsis

Barbie - Sinopsis 1_

Barbieland adalah dunia bagi para Barbie, boneka yang dibuat oleh sebuah perusahaan di dunia nyata yang bernama Mattel. Disana, para Barbie hidup dengan rukun dan bahagia. 

Di dunia ini Barbie adalah pusatnya. Mereka mengambil alih berbagai pekerjaan, seperti presiden, jurnalis, hingga pekerja bangunan. Lalu, seluruh Barbie itu setara. Meski warna kulit dan penampilan mereka berbeda-beda, semua Barbie tetap sama. Mereka adalah wanita yang hebat dan menginspirasi. 

Tak hanya Babie, di Barbieland juga hidup para Ken dan satu Allan (Michael Cera). Mereka adalah boneka Barbie versi pria. Para Ken di dunia ini juga hidup dalam kesetaraan. Namun, para Ken bukanlah tokoh sentral melainkan pelengkap dalam hidup Barbie. 

Suatu hari, hal aneh tiba-tiba menimpa Barbie (Margot Robbie). Pagi itu Barbie terbagun dari tidurnya, karena terkejut mendengar morning song.

Barbie juga merasa mulutnya agak bau dan matanya meninggalkan kotoran. Hal aneh lainnya, Barbie merasa jika air yang digunakannya saat mandi terlalu dingin dan rasa makanannya tidak enak.

Barbie - Sinopsis 2_

Tapi yang membuatnya bingung, Barbie tiba-tiba terjatuh saat terbang. Puncaknya, kedua tumit kaki Barbie tiba-tiba menapak dengan sempurna ke tanah. hal ini tidak pernah dirasakan oleh Barbie dan para Barbie lainnya. 

Melihat hal tersebut, para Barbie melihatnya dengan tatapan takut dan aneh. Kini Barbie bukan lagi Barbie stereotip, melainkan Barbie yang tidak sempurna. Para Barbie menyarankan, agar Barbie bertemu dengan Weird Barbie (Kate McKinnon) untuk mengetahui penyebabnya. 

Ya, dibalik indahnya Barbieland ternyata ada juga sosok Barbie yang tidak sempurna seperti Weird Barbie. Semua yang terjadi pada Weird Barbie berasal dari pemiliknya.

Weird Barbie pun berkata, semua keanehan yang terjadi pada Barbie berhubungan dengan pemiliknya di dunia nyata. Pemilik Barbie merasa sedih dan hal ini mempengaruhinya.

Jika Barbie ingin kembali jadi Barbie stereotip yang sempurna, maka ia harus pergi ke dunia nyata dan menemukan pemiliknya. Awalnya Barbie pergi ke dunia nyata sendirian, hingga Ken (Ryan Gosling) tiba-tiba muncul di mobilnya. Akhirnya mereka pun pergi ke dunia nyata bersama-sama.

Barbie - Sinopsis 3_

Sesampainya di dunia nyata, Barbie dan Ken berhasil mencuri perhatian berkat penampilan mereka yang nyentrik. Tak hanya itu, ternyata dunia nyata memiliki konsep yang terbaik dari Barbieland. Disini, para pria sangat dihormati, tidak heran kalau Ken terbuai dengan indahnya patriarki. 

Sementara Barbie, ia mendatangi seorang gadis bernama Sasha (Ariana Greenblatt), gadis yang dikiranya sebagian pemiliknya. Namun, perkataan Sasha kepada Barbie membuatnya sedih dan menangis.

Di saat yang bersamaan, beberapa orang dari perusahaan Mattel mendatangi Barbie. Para komisaris Mattel takut, jika Barbie kedatangannya ke dunia nyata akan membuat dua dunia berantakan.

Di sisi lain, Barbie yang masih penasaran dengan keanehannya, makanya ia memilih untuk kabur dari Mattel. Dalam pelarian ini Barbie bertemu lagi dengan Sasha. Ia juga bertemu dengan ibunya Sasha, Gloria (America Ferrera), salah satu pegawai Mattel yang menyelamatkannya.

Mencari tempat aman, Barbie mengajak Sahsa dan Gloria melarikan diri ke Barbieland. Namun, sesampainya disana, Ken mengubah Barbieland menjadi Ken World, dimana seluruh Barbie tunduk pada praktek patriarki dan toxic masculinity yang dibawanya dari dunia nyata.

Melihat dunianya yang sempurna perlahan hancur, apakah Barbie akan terus diam?

Bernostalgia Lewat Visualnya yang Sempurna

Bernostalgia Lewat Visualnya Yang Sempurna_

Saya yakin banyak orang yang berpikir, Barbie (2023) hanyalah live-action komersial seperti Disney atau film superhero DC dan Marvel. Jujur saja, saya pun tidak memiliki harapan lebih dari sekedar film yang membuat banyak orang "fomo."

Tapi setelah menonton filmnya hingga habis, saya dimanjakan dengan kualitas filmnya yang luar biasa. Kita mulai dari visual. Secara keseluruhan saya menyukai ide Greta Gerwig yang membuat Barbieland sesuai dengan standar originalnya. 

Dream house yang digunakan Barbie juga tidak memakai rumah asli, melainkan sebuah set buatan. Rumah tanpa dinding bergaya suburban cul de sac, dengan desain warna pink yang mencolok memang lekat dengan Barbie.

Soal wardrobe dan makeup, mereka terlihat sangat sempurna. Tapi detail kecil seperti Barbie mandi tanpa air yang turun dari shower. Lalu, Barbie makan dan minum tapi alat makan yang mereka gunakan tidak menyentuh mulut.

Hal ini tidak pernah saya sangka dan berhasil meyakinkan penonton, bahwa yang kita lihat memang kisah Barbie versi nyata bukan Barbie di buat jadi sosok nyata.

Visualisasi Barbieland buatan Greta Gerwig berhasil bikin saya dan para penonton di bioskop bernostalgia. Rasanya seperti saya adalah bagian dari Barbie World, yang semasa kecil diimpikan. 

Untuk pengambilan gambar dan sinematografi, saya pikir tidak ada kata lain selain “Sempurna." Tiap scene terasa mahal, bahkan warna-warna mencolok pun terlihat indah.

Lalu, soundtrack dan skoring filmnya, ada banyak lagu yang menyenangkan. Dua Lipa dengan Dance the Night-nya terasa sangat fun. Tapi lagu yang dinyanyikan Ryan Gosling, I Just Ken, jadi kejutan yang cheesy tapi sangat menghibur.

Lagunya tidak sempurna tanpa koreografi yang indah dan jenaka. Saya tidak tahu siapa yang membuatnya, tapi saya ucapkan "good job." Saya juga ingin ucapkan terimakasih kepada Greta Gerwig, karena berhasil membuat para pecinta Barbie merasakan indah dan manisnya Barbieland.

Ken, Gambarkan Toxic Masculinity dan Patriarki

Ken, Gambarkan Toxic Masculinity dan Patriarki_

Tak hanya memperlihatkan sisi manusiawi dari Barbie. Greta Gerwig dan Noah Baumbach juga mengeksplor sosok Ken yang diperankan oleh Ryan Gosling. 

Ketika melihat sosok Ken, saya pikir development karakternya akan stuck di sosok pria yang narsistik, romantis dan manis. Bahkan, di paruh pertama filmnya sosok Ken diperlihatkan dengan gaya yang sangat cheesy

Paruh pertama sangat fokus pada ide soal Ken dan toxic masculinity. Ken yang diperankan oleh Ryan Gosling, berusaha menjadi yang lebih baik dari Ken yang diperankan oleh Simu Liu. Contohnya seperti, Ken tidak boleh merasa takut dan Ken harus selalu percaya diri di hadapan Barbie. 

Tapi yang bikin saya terkejut, melihat perkembangan karakter Ken di paruh ketiga filmnya. Kembali ke Barbieland, Ken memimpin dunia dengan menjalankan praktek patriarki. Ia berhasil mempengaruhi seluruh Barbie, sehingga mereka tunduk di bawah perintah para Ken. 

Bagi saya, ide soal patriarki ini menjadi sentilan bahwa sesuatu yang berlebihan selalu berakhir dengan buruk. Jika menelisik alasan Ken terobsesi dengan patriarki, hal ini memang wajar terjadi. Alasannya, karena di Barbieland busur dunianya dipegang oleh para barbie atau wanita.

Ide ini juga jadi tamparan untuk dunia, praktek patriarki seperti ini seharusnya sudah dihilangkan dari masyarakat. Pria dan wanita bisa memimpin bersamaan, karena keduanya superior tapi di bagian yang berbeda-beda.

Adaptasi Liar, tapi Punya Track yang Jelas

Adaptasi Liar, Tapi Punya Track yang Jelas_

Greta Gerwig dan Margot Robbie berhasil membuat Barbie (2023) jadi film yang original tapi lepas dari kekangan. Bagaimana bisa? 

Dari visual semuanya dibuat semirip mungkin dengan versi boneka. Tapi dari alur cerita, duet antara Greta Gerwig dan Noah Baumbach sangat liar. 

Saya pribadi melihat bahwa Barbieland dibuat seperti mitologi, bahwa berbagai keajaiban di Barbieland adalah imaginasi dari manusia, hal inilah yang membuat Barbie dan Ken hidup. Tapi perlahan-lahan keajaiban berubah jadi bencana, ketika realita kehidupan di dunia nyata masuk.

Barbie yang awalnya sempurna, kini merasakan berbagai masalah wanita biasa, seperti bau mulut hingga selulit. 

Caranya mengeksekusi alur cerita Barbie (2023), sangat cerdas. Gerwig sendiri berkata, bahwa ia ingin membuat film yang out of the box dan liar, sehingga orang-orang akan berkata “film ini gila.”

Barbie adalah makhluk tidak bernyawa, lalu membawanya ke dunia nyata saja sudah termasuk liar. Tapi Gerwig tidak ingin filmnya melewati batas, makanya ia menyisipkan beberapa sense black-comedy.

Soal dialog, pertama-tama mungkin terasa sangat cheesy. Tapi lama ke lamaan, dialognya makin intense dan berisikan pesan moral. Uniknya, berbagai celetukan yang ditampilkan juga sangat pas dan selalu berhasil bikin penonton tertawa.

Greta Gerwig juga ingin menunjukkan, bahwa Barbie (2023) tidak fokus pada isu feminis. Ia tidak menjadikan Barbie sebagai standar kecantikan, tapi sebagai bias dari keluh kesah para wanita dan standar kehidupannya di masyarakat.

Barbieland adalah impian bagi para wanita untuk mendapatkan kesetaraan. Makanya mahkamah, hingga pekerjaan berat pun diisi oleh Barbie dan tidak ada satupun sosok Ken di dalamnya.

Margot Robbie adalah Barbie yang Sempurna

Margot Robbie Adalah Barbie Yang Sempurna_

Di salah satu adegannya, Weir Barbie yang diperankan Kate McKinnon mengatakan bahwa Margot Robbie terlalu sempurna untuk berkata “ia tidak cantik.”

Saya juga mengakui hal tersebut, Margot Robbie terlihat sangat luar biasa sebagai Barbie. Saya tidak hanya berbicara soal kecantikan dan visualnya yang benar-benar ideal sebagai Barbie. 

Tapi akting dan penjiwaan karakter yang diberikannya, Margot Robbie adalah sosok yang sempurna untuk memerankan Barbie. 

Sepanjang filmnya berjalan, saya tidak melihat Margot Robbie sebagai Harley Quinn di Suicide Squad (2016) atau Naomi Lapaglia di The Wolf of Wall Street (2013). Bahkan, saya tidak bisa melihatnya sebagai Margot Robbie. Dalam film, ia adalah Barbie yang sedang mencari jati dirinya. 

Ekspresi wajahnya, caranya berbicara, hingga body language-nya terlihat seperti Barbie. Tidak ada kesan kaku atau proses adaptasi, sejak detik awal, Margot Robbie sudah menjadi Barbie yang sempurna untuk filmnya. 

Ia berhasil membawa kisah fairytale ke realitas menyedihkan. Rasa bingung, sedih dan marah diekspresikan dengan sangat baik. Belum lagi kemistrinya dengan Ryan Gosling, hingga Ariana Greenblatt dan America Ferrera, sangat indah. 

Tribut untuk Ruth Handler

Tribut Untuk Ruth Handler_

Buat kamu yang belum tahu, selain Mattel, ada sosok lain dibalik terciptanya Barbie. Siapa lagi kalau bukan Ruth Handler, yaitu sosok yang menciptakan Barbie untuk pertama kalinya. 

Sedikit spoiler, di ending film Barbie (2023) para penonton akan dipertemukan dengan sosok Ruth Handler. Kehadirannya menjadi penutup film yang sempurna, karena berhasil memutuskan keabsurdan dan kebuntuan mengenai Barbie.

Ruth berkata, bahwa Barbie memang diciptakan untuk tidak memiliki ending. Barbie bukanlah standar agar para wanita terlihat sama sepertinya, karena tidak ada yang bisa terlihat sempurna selain Barbie itu sendiri. Sosok ini akan terus berkembang, sebagai perwakilan dari kehidupan perempuan di dunia. 

Ruth juga mengatakan, Barbie memiliki arti, tidak hanya untuk anak-anak tapi untuk orang tua terutama sang ibu. Itulah kenapa Ruth menamai boneka ini berdasarkan nama putrinya, Barbara ke Barbie. 

Barbie menjadi harapan bagi orang tua, agar putri mereka bisa tumbuh menjadi sosok paling sempurna sesuai dengan impiannya. Sementara bagi si anak, boneka ini adalah simbol kasih sayang dari orang tuanya.

Fyi, Ruth Handler telah meninggal dunia di usia 85 tahun, pada 27 April 2002. Ia meninggal setelah melakukan dua kali operasi mastectomy, karena menderita kanker payudara.

Buat kamu yang bertanya apakah Barbie (2023) cocok untuk ditonton bersama pasangan, saya katakan sangat cocok. Film ini tidak hanya membuat para gadis bernostalgia, tapi pria mendapatkan berbagai pesan moral mengenai toxic masculinity dan patriarki.

Saya rasa film ini juga cocok untuk anak-anak, karena tidak ada adegan yang vulgar didalamnya. Tapi, orang tua tetap wajib mendampingi anak saat menonton filmnya.

cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram