logo web

Sinopsis & Review Emancipation, Perjuangan Budak Raih Kebebasan

Ditulis oleh Dhany Wahyudi
Emancipation
2.6
/5
showpoiler-logo
PERHATIAN!
Artikel ini mengandung spoiler mengenai jalan cerita dari film/drama ini.

American Civil War adalah lembaran kelam dalam sejarah Amerika Serikat. Dua kubu, Union dan Confederacy, bertempur selama 4 tahun lamanya mengakibatkan 1 juta jiwa lebih tewas di dalamnya.

Abraham Lincoln mendengungkan penghapusan perbudakan di Amerika yang pada saat itu jumlahnya telah mencapai 4 juta jiwa, yang sebagian besar berada di pihak Confederacy.

Salah satu dari budak tersebut adalah Peter, sosok utama dengan sebuah foto yang berhasil memicu Abraham Lincoln untuk mengikrarkan Proklamasi Emansipasi pada 1 Januari 1863. Dan kisah Peter yang inspiratif ini menjadi pondasi dasar film Emancipation yang dibintangi oleh Will Smith.

Disutradarai oleh Antoine Fuqua, film action thriller ini dirilis di Apple TV+ pada 9 Desember 2022. Film ini menambah satu lagi kisah tentang perbudakan yang pernah terjadi di Amerika.

Apakah cerita dalam film ini akurat dengan fakta sejarah? Adakah hal baru yang disajikan film ini di atas premisnya yang klise? Simak review berikut untuk mengetahui ulasan film ini lebih dalam.

Sinopsis

Review Emancipation_sinopsis_

Peter dan keluarganya dipekerjakan di perkebunan kapas milik Kapten John Lyons yang berlokasi di Sungai Atchafalaya, Louisiana. Tentara Confederacy kemudian membawanya secara paksa ke Clinton untuk membangun rel kereta api.

Diliputi rasa rindu dan kekhawatiran yang besar terhadap keluarganya yang ditinggalkan, dia harus menghadapi kejamnya Jim Fassel dan anak buahnya di tempat kerja. Peter selalu membela pekerja lainnya setiap kali mereka disiksa dan hal ini mencuri perhatian Jim yang kemudian secara khusus memberikan perlakuan buruk kepadanya.

Merasa sudah tidak tahan, Peter berencana untuk melarikan diri ke Baton Rouge, tempat berkumpulnya pasukan Union yang tidak mengenal lagi adanya perbudakan.

Dalam sebuah kesempatan, saat mengantarkan jenazah pekerja untuk dikubur di sebuah lubang, Peter melakukan perlawanan dengan menggunakan sekop dan berhasil membuat kericuhan di tempat itu.

Para budak berhamburan berlari mencari kebebasan, sementara Jim dan anak buahnya melakukan perburuan atas mereka. Peter terkena tembakan di kakinya, namun hal ini tidak menyurutkan langkahnya untuk terus berlari menjauh dari tempat itu.

Berpisah dengan dua temannya, Peter berjalan menembus rawa. Dia mencuri secarik kain di belakang rumah warga kulit putih yang membuat Jim mengetahui keberadaannya. Dia menyelam ke dalam rawa agar tidak ketahuan oleh Jim yang merupakan pelacak jejak handal.

Jim dan anak buahnya pergi karena kehilangan jejak Peter. Tidak disangka, seekor buaya menerkam yang membuat Peter harus bertarung demi keselamatan nyawanya. Dan Peter berhasil membunuh buaya itu dengan pisaunya.

Dalam keadaan terluka parah, Peter terus berjalan setelah mengeluarkan beberapa patahan gigi buaya yang menancap di tubuhnya.

Terus masuk menembus hutan rawa, Peter menemukan sebuah rumah pohon. Dia beristirahat sejenak dan mengambil madu dari sarang lebah.

Mengayuh sampan ke tengah danau, dia mendengar tembakan meriam pasukan Union sudah dekat. Peter merapat kembali ke daratan dan menemukan sebuah rumah dalam kondisi terbakar.

Peter berusaha menyelamatkan seorang anak gadis kulit hitam yang masih hidup di dalam rumah. Namun, dua anak buah Jim sudah menunggunya di luar. Disuruh menyerahkan diri, Peter justru melawan dan berhasil membunuh mereka. Peter terus berlari masuk kembali ke rawa sesaat sebelum Jim sampai di tempat tersebut.

Pagi hari tiba, dan Peter melihat pasukan Union berada di seberang sungai. Saat hendak menyeberang, langkahnya terhenti oleh kedatangan Jim yang menyerangnya dengan penuh angkara murka. Jim tewas ditembak pasukan Union yang datang merapat dan kemudian membawa Peter ke kamp mereka.

Setelah diobati, Peter kemudian bergabung ke dalam pasukan setelah tubuhnya yang penuh bekas luka cambukan sempat difoto terlebih dahulu.

Harus turun ke medan tempur, akankah Peter masih bisa hidup demi bertemu kembali dengan keluarganya? Jawabannya akan kita temukan dengan menonton film yang penuh dengan kekejaman perang ini hingga akhir.

Memaparkan Kekejian Perbudakan di Amerika

Review Emancipation_Memaparkan Kekejian Perbudakan di Amerika_

Emancipation tidak menunggu lama untuk membuka penggambaran betapa kejamnya perbudakan di Amerika. Secara lugas, hal pertama yang ditampilkan langsung tertuju kepada kepedihan Peter.

Peter harus terpisah dari keluarganya untuk dipekerjakan di tempat lain. Kerinduan akan keluarganya inilah yang menyelimuti nuansa kisah Peter secara keseluruhan.

Berlanjut ke Clinton, lokasi pengerjaan rel kereta api, kekejaman kubu Confederacy dalam menyiksa kaum budak yang diwakili oleh Jim Fassel dan kaki tangannya ditampilkan dengan sangat sadis.

Mereka tidak segan-segan menembak mati setiap budak yang terlihat berhenti bekerja, meski hanya sekedar menghela napas sejenak. Dan mayatnya hanya dimasukkan ke dalam lubang, dibiarkan membusuk.

Perlakuan Jim kepada budak yang melarikan diri ternyata lebih sadis. Dia menembak mati salah satu budak yang sebelumnya digigit beberapa anjing pemburu di sungai untuk menjadi makanan buaya.

Lalu, dia juga menusuk mati satu budak lagi dan memenggal kepalanya untuk dibawa kembali ke kamp. Dari sini kita mulai paham adanya banyak kepala budak yang dipajang di ujung tombak di pintu masuk kamp.

Berbagai macam rupa kesadisan ini, meski mungkin disukai oleh pecinta film action bernuansa gore, ternyata menjadikan kadar drama tentang perbudakannya mengurang.

Jangan membandingkannya dengan film 12 Years a Slave (2013), yang memiliki pendalaman baik tentang derita para budak tanpa harus banyak mengumbar kesadisan.

Tapi memang hal ini bisa dimaklumi, mengingat Antoine Fuqua adalah sutradara spesialis film action sehingga yang dia tampilkan di film berdurasi 2 jam 12 menit ini lebih menitikberatkan sisi aksi pelarian Peter dari perbudakan.

Satu Foto Pemicu Kemerdekaan

Satu Foto Pemicu Kemerdekaan__

Perjuangan Peter dalam pelariannya dari buruan Jim memang sangat seru dan menegangkan. Hal ini menjadi salah satu faktor unggulan di film yang juga diproduseri oleh Will Smith sendiri. Perjalanan panjang penuh liku, halangan dan rintangan, menjadikan karakter Peter layaknya seorang ahli dalam bertahan hidup di alam bebas.

Namun, karena latar belakang yang kurang tentang Peter, membuat kita terus menduga bagaimana dia bisa memiliki semua pengetahuan ini. Perjuangannya bertahan hidup ini mengingatkan kita pada Hugh Glass di film The Revenant (2015), tapi yang dijalani Peter masih lebih ringan dibandingkan yang dialami oleh Hugh Glass.

Will Smith membawakan karakter Peter dengan sangat baik. Dia menampilkan sisi berbeda dari beragam karakter yang pernah diperaninya.

Di film ini dia tampil kurus dan dekil yang seharusnya peran ini bisa mengantarkannya masuk bursa Oscar. Namun, sayangnya dia sedang dalam masa hukuman karena insiden penamparan yang dilakukannya di ajang penghargaan bergengsi tersebut.

Hal yang seharusnya paling mengejutkan, yaitu sesi pemotretan yang memperlihatkan bekas luka siksaan Peter, hadir datar karena kurangnya latar belakang karakter utama ini.

Kita tidak tahu di mana Peter mendapatkan siksaan ini, karena di Clinton dia tidak begitu mendapatkan penyiksaan, jadi asumsi kita Peter mendapatkannya saat di perkebunan kapas.

Tapi, sekali lagi, karena kurangnya faktor background kisah saat di perkebunan kapas, membuat karakterisasi Peter menjadi bias. Adegan yang seharusnya menjadi kunci di film ini ternyata justru menjadi anti klimaks yang cukup mengecewakan.

Anti klimaks lain terjadi pada sosok Jim Fassel yang handal dalam melacak jejak dan kejam kepada para budak. Dia sudah membunuh secara sadis dua budak yang melarikan diri.

Kita mengharapkan seharusnya akan terjadi pertarungan yang sengit apabila Jim bertemu Peter. Tapi perkelahian mereka dibuat singkat dengan tewasnya Jim karena tembakan pasukan Union. Sangat mengecewakan!

Menampilkan Adegan Perang yang Dahsyat

Menampilkan Adegan Perang yang Dahsyat___

Ditampilkan dalam presentasi tanpa warna, membuat film ini memiliki kesan “jadul” yang sangat kental. Jika kita tidak mengenal Will Smith dan Ben Foster sebagai pemerannya, tentu kita akan menduga bahwa film ini diproduksi di zaman dahulu.

Elemen ini membuat film Emancipation tampil beda dibandingkan film serupa dan menjadi kelebihan di sisi sinematografi yang berhasil ditonjolkan oleh Robert Richardson sebagai sinematografernya.

Namun, bagi yang mengharapkan kerasnya adegan sadis, mungkin agak sedikit kecewa. Dengan tidak adanya warna, banyaknya adegan berdarah yang dihadirkan terasa halus terlihat.

Meski begitu, adegan pertempuran yang disajikan menjelang akhir film tampil apik dan detail dalam menggambarkan strategi perang di masa itu. Pertempuran yang terasa tidak seimbang, di mana pasukan Confederacy menggunakan meriam besar sementara pasukan Union hanya bermodalkan senapan, menambah keseruan pertikaian di medan perang ini.

Bisa dibilang, dari sekian banyak film tentang American Civil War, film ini paling unggul dalam menampilkan adegan perangnya, walau dalam durasi yang cukup singkat saja. Di sinilah keterampilan Antoine Fuqua dalam mengeksekusi adegan aksi diperlihatkan, lengkap dengan pergerakan, strategi dan keganasan perang yang cukup menyeramkan.

Emancipation memang cukup berhasil menjadi sebuah film action yang menegangkan, mulai dari perjuangan bertahan hidup hingga terjun ke medan perang. Tapi naskah karya William “Bill” Collage masih gagal untuk menampilkan kedalaman kisah tentang perbudakan yang menjadi catatan hitam dalam sejarah bangsa Amerika.

Apalagi kemudian kita mengetahui fakta bahwa sebenarnya sosok budak yang difoto ternyata bernama Gordon. Kisahnya seringkali tertukar dengan Peter, bahkan awalnya foto tersebut diberi judul “Whipped Peter”, padahal mereka adalah orang yang berbeda.

Sedikit banyak kesalahan fakta ini turut mengurangi keautentikan kisahnya yang menggambarkan kurang telitinya penulis naskah dalam menggali sejarah bangsanya sendiri.

Selain itu, faktor banyaknya pandangan negatif publik terhadap Will Smith atas insiden di ajang Oscar, membuat film ini semakin tidak diperhatikan oleh juri ajang festival dan penghargaan film manapun.

Di atas segala kekurangan kualitas dan pandangan miring terhadap aktor utamanya, Emancipation tetap menjadi salah satu film yang layak ditonton, terutama bagi fans sejati Will Smith dan penyuka film tentang sejarah. Hanya tayang di Apple TV+, jangan coba untuk melewatkan film yang satu ini, ya! Simak juga film Will Smith lainnya.

cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram