logo web

Sinopsis & Review Drama Thailand, Good Old Days (2022)

Ditulis oleh Suci Maharani R
Good Old Days
4
/5
showpoiler-logo
PERHATIAN!
Artikel ini mengandung spoiler mengenai jalan cerita dari film/drama ini.

Pernahkah kamu berpikir, bahwa setiap barang memiliki kisah yang berarti bagi seseorang? Ternyata tidak semua barang loak adalah barang usang yang tidak berharga.

Good Old Days (2022) menunjukkan, bahwa setiap barang di sebuah toko barang antik memiliki kisah yang bernilai. Bahkan nilainya bukan sekedar uang, tapi sesuatu yang berharga dan memiliki arti bagi hidup seseorang.

Good Old Days (2022) bisa dikatakan sebagai kuda hitam yang bisa melibas drama Thailand populer lainnya. Drama besutan Ploy Pattaraporn Werasakwong ini bukan sekedar tontonan yang menghibur, tapi memberikan makna mendalam kepada para penontonnya.

Enam kisah yang ada dalam drama ini, juga disampaikan oleh jajaran selebriti ternama di bawah naungan GMMTV.

Lalu kisah seperti apa dibalik sebuah barang usang yang ada di toko barang antik tersebut? Biar nggak penasaran lagi, kamu bisa mencari tahu sinopsis dan ulasan dramanya hanya di Showpoiler.

Sinopsis

Good Old Days (2022)

Good Old Days (2022) adalah drama antologi yang terdiri dari enam kisah hidup yang mengharukan untuk ditonton. Bagi yang penasaran dengan alur ceritanya, kamu bisa membaca sinopsis dan ulasan singkatnya di bawah ini.

Episode 1-2: Bond and Relationship

Episode 1-2: Bond and Relationship

Kisah ini dibuka dengan pertengkaran antara Mew (Pat Chayanit) dan Maew (Win Metawin). Inilah yang membawa Mew masuk ke sebuah toko barang antik di seberang jalan.

Mew terkesima melihat berbagai barang lama yang ada dalam toko tersebut. Tiba-tiba saja seorang pria masuk dan memberitahukannya soal harga sebuah bola yang dipegangnya.

Mew terkejut, saat mengetahui bahwa bola tersebut berharga 5000 baht. Sang pemilik toko antik mengatakan, bahwa ia tidak menghargai barang dari fungsi atau kondisinya.

Tapi setiap barang yang ada di toko ini, dihargai sesuai dengan kisah dan manfaatnya bagi seseorang. Ia juga menuturkan, bagi Mew bola usang ini mungkin tidak ada artinya, tapi bagi orang lain bola ini sangat berharga.  

Episode 1-2

Kembali ke tahun 1998 saat Thailand menjadi tuan rumah Asian Games. Seorang anak sedang asik menonton televisi, ia adalah Phu kecil yang baru pulang dari sekolah. Siang itu ibu Phu memberikan hadiah sebuah bola dan anjing untuk putranya. Bersama dengan Ryu, Phu memahami arti dari “ikatan” yang sesungguhnya. 

Lalu kisah beralih ke tahun 2019, ketika seorang pria sedang sibuk di sebuah ruang meeting. Inilah Phu dewasa (Lee Thanat), yang terlihat kurang bersemangat saat tahu hari ini adalah hari ulang tahunnya.

Malam itu, Phu menghabiskan malam di sebuah bar. Tapi hal tidak terduga terjadi, saat seorang gadis memintanya mengaku sebagai kekasih barunya.

Good Old Days 1

Gadis yang memiliki banyak sekali keluhan soal hidup, pekerjaan hingga hubungan asmara ini terus saja marancu. Anehnya, Phu merasa sangat nyaman saat mendengarkan celotehan Mint (Fah Yongwaree).

Mint memang sangat menarik dan to do point, bahkan gadis ini tidak segan untuk mengajak Phu melakukan hubungan satu malam.

Tak ingin memiliki hubungan yang terlalu jauh, Phu langsung memutuskan kontak dengan Mint. Sialnya, malam itu Mint datang bertepatan dengan ibunya yang sedang berkunjung rumahnya.

Terjepit situasi, Phu terpaksa menerima tawaran kencan yang diinginkan oleh Mint. Setidaknya malam ini ia tidak perlu berpura-pura memiliki kekasih di hadapan ibunya.

Good Old Days 2

Tapi setelah segala upaya dilakukan oleh Mint, akhirnya ia tahu apa yang membuat Phu tidak bisa membuka hatinya. Siapa sangka ikatan antara tuan dan anjing peliharaannya ini, bisa mempengaruhi Phu sampai sedemikian rupa.

Rasa bersalahnya karena sudah menyebabkan Ryu tewas, membuat Phu tidak ingin mencintai apapun karena tidak ingin tersakiti lagi.

Namun Phu tidak sadar, bahwa batasan yang ditunjukkannya kepada Mint dan sang ibu telah menyakiti mereka. Namun segalanya berubah perlahan-lahan, saat Phu mengetahui bahwa ibunya tengah mengidap kanker.

Phu berubah menjadi anak yang berbakti, tentu dengan dukungan dari Mint meski mereka berada di tempat yang berbeda.

Good Old Days 3

Tapi lagi dan lagi, saat Phu akan mengutarakan isi hatinya kepada Mint. Ternyata semua ini sudah sangat terlambat karena Mint telah kembali dengan mantan pacarnya. Mint benar, bahwa ia tidak seharusnya menanti seseorang yang tidak bisa memberikannya kejelasan.

Hidup Phu memang seperti bola, naik turun secara bergantian tapi ia tidak bisa lari dari kenyataan terus menerus. Tapi bisakah Phu bertahan dari rasa sakit hati yang terus saja mendatanginya? 

Episode 3-4: Memory of Happiness

Episode 3-4 Memory of Happiness_

Seorang gadis tiba-tiba datang ke toko barang antik milik Hey (Krist Perawat). Ia mencari sebuah barang yang akan dibelinya dengan harga berapapun.

Gadis itu bernama Piang (Aye Sarunchana) yang datang untuk membeli sekotak roll film usang. Memang, film-film ini bukan miliknya tapi barang ini adalah salah satu bagian terpenting dalam hidupnya.  

Kembali ke dua tahun lalu, Piang baru saja lulus dari universitas dan menganggur selama dua bulan. Saat itulah, Piang kembali ke kampung halaman untuk membantu toko foto milik ayahnya.

Namun dua bulan yang dilewatinya, terasa seperti ribuan tahun yang dipenuhi dengan siksaan. Mungkin kisah Piang akan terasa simpel jika kita menyebutnya sebagai game hidup Piang.

1

Seperti game pada umumnya, setiap harinya Piang harus berhadapan dengan musuh yang berbeda-beda levelnya. Seorang ibu yang mengeluh foto-foto yang dicuci oleh piang hasilnya buram, sehingga ia tidak mau membayarnya.

Belum lagi keluhan soal harga yang sangat mahal. Lalu Piang yang nekat memakai kamera digital, malah salah mengedit wajah dua pelanggan.

Tapi level tersulit adalah sang Raja, yaitu ayahnya sendiri yang sangat galak, ketus dan keras kepala. Bayangkan saja, sang ayah selalu memintanya membuatkan kopi lebih dari tiga gelas dalam sehari.

Tak hanya itu, sang ayah terus meremehkan skil mencuci film dan teknik fotonya. Semua ini benar-benar membuat hidup Piang terasa seperti di neraka.

2

Karena insiden salah edit tadi, Piang harus kembali ke SMA tempatnya bersekolah. Terlepas dari pertanyaan para guru soal pekerjaannya, ada satu hal yang mencuri perhatiannya.

Ada sebuah papan usang bertuliskan “Club Foto” yang masih tergantung di salah satu dahan Pohon. Saat itulah Piang kembali teringat masa lalunya bersama Jab (Tay Tawan)

Sayang, sejak lulus sekolah tidak ada yang mengetahui dimana keberadaan Jab. Pria itu tidak memiliki sosmed dan nomor telepon pribadinya juga tidak ada yang mengetahui.

Tapi dari beberapa teman SMA, Piang akhirnya tahu kemana harus mencari Jab. Ternyata pria itu menghabiskan waktunya untuk berjualan mie di kedai ibunya.

3

Kedai mie tersebut memang sangat ramai, sehingga Piang harus kembali lagi saat malam hari. Saat itulah keduanya mulai berbagi cerita mengenai kehidupan pasca lulus SMA.

Piang kagum saat mendengarkan perjuangan Jab membuat kuah sup dengan resepnya sendiri. Hal ini juga yang memotivasinya, untuk mencari cara agar ia bisa bekerja dengan baik di toko foto milik sang ayah.

Pertemuan ini membuat Piang bahagia, hingga tidak sadar ada perasaan aneh yang menghampiri dirinya. Namun Piang tersadar, ketika ia mendapatkan telpon dari “Oppa” Wut (Toy Pathompong) yang bekerja di Bangkok.

Singkat cerita, kini Jab dan Piang sudah semakin dekat, bahkan keduanya kembali menekuni hobi fotografi seperti saat masa-masa SMA.

4

Piang merasa lucu, pasalnya Jab masih saja bertahan dengan kamera film miliknya meski sudah memiliki banyak uang. Namun bagi Jab, kamera film ini adalah hal dan kenangan paling indah dalam hidupnya.

Namun kebahagiaan ini hilang, pasca Piang berkata ia akan kembali ke Bangkok. Wut telah memberikan posisi sebagai produser padanya dan Piang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan.

Hal ini membuat sikap Jab seketika menjadi dingin. Bahkan saat Piang berkata ia akan mencetak foto dari roll kamera Jab.

Pria itu malah marah padanya dan mengungkit soal roll kamera yang semasa SMA pernah diberikannya untuk Piang. Tapi hingga hari ini, sepertinya Piang tidak pernah menyentuh roll kamera tersebut.

5

Hal ini membuat Piang tersentak, gadis ini mencari roll kamera itu dan berniat untuk mencetaknya. Sayang, hari itu sang ayah mendatanginya dan menemukan bahwa Piang masih memakai kamera digital.

Pertengkaran ini membuat Piang muak dan memilih untuk meninggalkan sang ayah ke Bangkok. Di saat yang bersamaan, Jab memilih untuk menjual roll kamera di rumahnya ke toko barang milik Hey.

Satu tahun berlalu, kini Piang sudah menjadi salah satu produser terbaik di kantornya. Tapi kesuksesan yang didapatkannya, tidak pernah membuat wanita ini senang.

Justru Piang selalu merasa kesepian dan hampa untuk menjalani hidupnya di Bangkok. Hingga di hari ulang tahunnya, Piang dikejutkan dengan berita bahwa sang ayah terjatuh di kamar mandi.

6

Piang bergegas kembali ke kampung dan tidak bisa menahan tangisnya saat melihat kondisi ayahnya. Untungnya ada Jab yang saat itu datang ke rumah sakit dan memberikan sebuah pelukan untuk menenangkannya.

Piang memang kesal pada ayahnya, tapi tidak pernah sekalipun ia berharap sang ayah untuk meninggalkannya.

Pasca ayahnya sembuh, Piang mulai memikirkan untuk kembali bekerja di toko foto. Tujuan awalnya, ia hanya ingin mengurus ayahnya sendiri. Tapi dibalik itu, ada hal lain yang ia inginkan.

Piang yang penasaran dengan isi roll kamera milik Jab, malah tidak sengaja merusaknya. Gadis ini mendatangi Jab di toko mienya, tapi tidak membuahkan hasil hingga ia mengamuk tidak jelas.

Itulah kenapa sekarang Piang berada di toko barang antik milik Hey. Ia ingin membeli roll kamera milik Jab dan mencari tahu, sebenarnya apa yang ingin disampaikan pria itu padanya.

Pian tidak peduli soal harga dan soal apakah roll kamera ini masih berfungsi atau tidak. Ia hanya ingin melakukan usaha terakhirnya untuk mencari tahu isi hati dan keinginan terbesar dalam hidupnya.

Episode 5-6: Road to Regret

Hari itu, Hey kehilangan sebuah mobil tua yang ia parkirkan di depan tokonya. Sebuah surat terlampir di sana, bahwa mobil itu dibawa oleh pemilik lamanya. Mereka tidak memiliki uang untuk menebus mobilnya, makanya memilih untuk mencurinya.

Mereka adalah Got (Kay Lertsittichai), Kai (Namtan Tipnaree) dan Bomb (Joss Way-ar Sangngern) yang akan melakukan sebuah perjalanan dengan mobil tersebut. Tujuan mereka hanya satu, yaitu mengantarkan surat milik mendiang ibunya kepada kerabat yang tinggal di Provinsi Buengkan.

Namun jauh sebelum hari ini tiba, ada kisah yang kurang mengenakkan yang terjadi diantara ibu dan dua anaknya ini. Berbeda dengan keluarga lainnya, Kai dan Got memang tidak pernah merasa nyaman saat tinggal bersama sang ibu.

Episode 4-5: Road to Regret

Ibu mereka adalah tipe wanita yang konservatif, ia meminta Kai menjadi sosok perempuan yang sempurna dan tidak malas-malasan. Ia selalu meremehkan semua hal yang dilakukan oleh Kai, tapi selalu memanjakan dan memuji adik laki-lakinya Got.

Sementara bagi Got, ia juga tidak pernah nyaman dengan semua perhatian sang ibu yang baginya seperti sebuah doktrin. Got selalu dianggap sebagai anak kebanggaan karena memang prestasinya sangat baik. Namun, sang ibu selalu memaksanya memakan-makanan yang tidak disukainya.

Bahkan, ibunya tidak pernah bisa menerima kalau Got adalah seorang gay. Hal inilah yang membuat Kai dan Got dewasa memutuskan untuk meninggalkan ibu mereka dan hidup masing-masing.

a

Kai sendiri keluar dari rumah dengan cara yang tidak baik, karena ia menikah dengan Bomb tanpa persetujuan sang ibu. Hubungan keduanya memang jadi lebih menegangkan dari sebelumnya. Namun pada akhirnya Kai mengakui, kalau perkataan ibunya ini memang benar.

Pasalnya, ia hanya menghancurkan masa depan dan dirinya sendiri saat hidup bersama Bomb. Sementara bagi Got, pria ini hanya ingin menikmati hidupnya dengan bebas tanpa menyembunyikan orientasi seksualnya.

Tapi, hari itu baik Kai, Bomb dan Got tersentak saat mengetahui kalau ibu mereka meninggal dunia pasca operasi jantung. Ketiganya berkumpul, sayangnya pertemuan ini malah berakhir dengan pertengkaran yang membuat Got memutuskan menjual mobil tua milik ibunya.

b

Sementara Kai memilih untuk membenahi barang-barang ibunya dan teringat bagaimana ia bertengkar hebat dengan wanita yang sudah melahirkannya itu. Di saat yang bersamaan, Kai menemukan beberapa lembar surat yang disimpan oleh ibunya di laci.

Surat itu ditujukan untuk kerabat mereka di Provinsi Buengkan dan Kai ingin mengirimkan surat ini langsung pada mereka. Awalnya, Got menolak ide ini namun karena ia ingin bertemu dengan pria yang disukainya, Got memutuskan ikut.

Mereka juga terpaksa mencuri mobil yang sudah di jual, karena keduanya sama-sama tidak memiliki uang. Tak hanya itu, Bomb juga ikut dalam perjalanan ini sebagai sopir yang disewa Got dan hal ini membuat Kai sangat kesal.  

c

Amarah Kai semakin tidak terkendali, saat Bomb memilih pergi melewati jalan pintas yang membuat ban mobil mereka bocor. Tak sampai di situ, malam itu mereka dirampok dan hal ini membuat Kai benar-benar lelah dengan kebodohan Bomb.

Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Kai memilih untuk meninggalkan Bomb dan pergi bersama sang adik. Hal ini membuat Bomb teringat dengan perkataan ibu mertuanya, bahwa ia telah mencuri dan menghancurkan masa depan Kai.

Pada awalnya Bomb berpikir, bahwa cinta mereka bisa membawa kebahagiaan. Tapi, perkataan mertunya memang benar kalau dirinyalah yang merusak Kai. Dalam pikiran Kai, jika ia meninggalkan Bomb artinya ia bukanlah wanita gagal seperti ibunya.

d

Namun perkataan Got berhasil menamparnya, bahwa selama ini memang dirinya yang selalu menyalahkan orang lain atas kegagalan yang diterimanya.

Malam itu Kai dan Bomb akhirnya berbaikan dan saling mengutarakan permintaan maaf satu sama lain. Di tempat lain, Got juga melepaskan semua kebingungannya bersama pria yang disukainya.

Keesokan harinya, mereka sampai ke rumah kerabat yang tidak pernah ditemui keduanya. Sebenarnya, semua orang menyambut mereka dengan baik.

Tapi, keluarga ini juga membuat ketiganya merasa kaget. Apalagi surat yang dikira permintaan maaf ibu mereka untuk sang paman, ternyata berisikan amarah dan curahan hati ibu mereka pada keluarganya.

e

Dalam surat itu ibu mereka berkata, bahwa ia merasa dikekang oleh saudara laki-lakinya yang egois dan diktator. Ia juga mengatakan, bahwa bukan dirinya yang keluar dari rumah, tapi keluargalah yang sudah mengusirnya dari rumah.

f

Dalam surat tersebut, ada juga pesan yang disampaikan untuk Got dan Kai. Ibu mereka meminta maaf, atas semua sikap dan perbuatannya kepada anak-ananknya. Ia terlalu mencintai kedua anaknya, sehingga pemikirannya menjadi sempit.

Ia berharap kedua anaknya bisa memaafkannya dan menjalani kehidupan dengan baik dan menerima setiap keputusan hidup anak-anaknya.

Episode 7-8: Our Soundtrack

Episode 7-8: Our Soundtrack

Berbeda dari yang lainnya, kali ini seorang pria tiba-tiba mendatangi toko barang antik milik Hey. Bukan untuk membeli barang, pria ini justru ingin menjual gitar miliknya pada Hey. Pria itu bertanya, berapa banyak uang yang akan didapatkan untuk gitar tersebut. Hey tidak mengatakan nominalnya, pria ini malah bertanya kisah apa yang ada di balik gitar tersebut.

a

“Dalam hidup, pernahkah kau mencintai dan membenci seseorang sepenuh hati? – Tong

Kembali ke tahun 2009, saat itu Tong (Bright Vachirawit) kecil baru saka pindah ke lingkungan baru. Hari itu, pandangannya tertuju pada seorang gadis yang tinggal bersebelahan dengan rumahnya.

Gadis bernama Gyb (Thanaerng Kanyawee) itu, membuatnya mengenal musik dan mengajarinya bermain gitar. Sejak hari itu, Tong dan Gyb berjalan bersama untuk mengejar impian jadi musisi.

Tak terasa, kini Gyb dan Tong sudah memasuki masa-masa remaja dan perasaan cinta pun tumbuh di hati Tong. Ia tidak menyangka, bagaimana dirinya bisa jatuh cinta kepada Gyb yang terkadang nakal dan sangat ceroboh.

Lucunya lagi, tiket lotre yang didapatkan Gyb dengan menjual tugasnya ternyata menghasilkan banyak uang dan mewujudkan impian Tong untuk membeli gitarnya sendiri.

b

Dengan uang tersebut, Gyb membelikan sebuah gitar untuk Tong yang mereka beri nama “500 Days”. Inilah kisah seorang penyanyi terkenal yang lagu-lagunya selalu berada di puncak tanggal lagu.

Pria ini dikenal dengan nama Tong – 250 Days. Tapi, kenapa kisah yang diceritakannya pada Hey justru mengenai Tong – 500 Days?

Tong menambahkan, bahwa gitar ini adalah gitar utamanya yang telah mengubah hidupnya. Alasannya menjual gitar ini, karena Tong ingin mengubah hidupnya satu kali lagi.

Tepatnya di tahun 2019, Tong tidak sengaja bertemu dengan sosok yang ia kenal sejak lama di sebuah bar. Namun, suasana pertemuan ini terlihat sangat canggung dan dipenuhi dengan emosi yang sulit dijelaskan.

c

Hari itu, Tong menyanyikan sebuah lagu yang sudah lama tidak dinyanyikan. Lagu ini ditulis oleh orang terpenting dalam hidupnya. Hal inilah yang membawanya masuk pada masa lalu, saat Gyb menulis lirik lagunya dan Tong yang membuat musik untuk mengiringinya.

Bahkan, mereka nekat mengamen di kelas untuk mendapatkan uang pendaftaran kontes musik. Namun hal ini menimbulkan masalah, ketika Tong menghajar salah satu teman sekelasnya yang menghina impian Gyb.

Sejak saat itu, mereka berjanji akan berjuang bersama dan membentuk band ini. Tapi, tanggal ujian dengan kontes ternyata berada di hari yang sama. Tak hanya itu, Gyb juga tidak sengaja mendengar perbincangan orang tuanya kalau ibunya mengidap kanker.

d

Perkataan sang ayah soal menjadi musisi malah membuatnya tidak bisa membantu sang istri, sangat mempengaruhi Gyb. Kemarahannya karena tidak tahu soal penyakit kanker sang ibu, ternyata melampiaskannya pada Tong.

Gyb mengatakan, bahwa musik hanya membawa kesengsaraan untuk keluarganya dan disaat yang bersamaan Tong berhasil menenangkannya.

Meski mereka berhasil lolos dalam kompetisi musik, ternyata nilai ujian keduanya justru jeblok. Bahkan dalam live session yang dilakukan oleh bandnya, Tong berpikir ia hanya akan tampil sendirian.

Sempat merasa kecewa, Gyb datang dan bernyanyi bersamanya untuk terakhir kalinya. Gadis itu menghentikan karir musiknya dan membuat Tong merasa sangat patah hati.

e

Bahkan, hari itu adalah hari terakhirnya untuk tinggal berseberangan dengan Tong. Pasalnya, mereka harus menjual rumah untuk biaya pengobatan ibu Gyb. Memilih menyendiri di kamarnya, Tong merasa sedih dan inilah yang membuatnya membuang 500 Days menjadi 250 Days.

Usai lulus sekolahnya, Tong memilih untuk merantau ke Bangkok dan memulai karirnya sebagai seorang musisi. Ia berusaha keras membuat lirik lagu, mengirimkan demonya ke banyak perusahaan hingga mengamen di pinggir jalan. Satu hal yang selalu ia dapatkan, semua lagunya dinilai bagus tapi terasa kosong dan tidak ada perasaaan.

f

Bahkan banyak orang yang meremehkan taste musiknya dan menyuruh Tong menjadi anggota boyband karena ia memang tampan. Dalam kesedihannya, Tong memilih untuk bernostalgia dengan menonton video performnya bersama Gyb di Youtube.

Ia juga mengirimkan lagi ini ke beberapa label musik di Facebook dan ia mendapatkan beberapa tanggapan. Sejak saat itu, karir Tong 250 Days mulai mendapatkan perhatian dari banyak orang. Bahkan, teman-teman satu kantor Gyb juga menjadi salah satu penggemarnya.

Lagu-lagu buatan Tong memang terkesan dalam. Bahkan ada orang yang bertanya, kenapa Tong selalu menyisihkan bagian kosong dalam lagu populernya.

g

Ia berkata, bahwa bagian itu sengaja ia kosongkan karena ia ingin seseorang menyanyikannya. Sayang orang tersebut tidak pernah ada. Meski mendapatkan kepopuleran, tetap saja Tong tidak bisa meninggalkan hati kosongnya pasca kepergian Gyb dalam hidupnya.

Apalagi pertemuan mereka di Bar, membuat Tong sadar bahwa Gyb sudah memiliki hidup baru. Kesulitan kembali datang pada Tong, saat pria ini dituduh melakukan plagiarisme oleh salah satu pengguna Facebook.

Tong hancur, apalagi ia harus vakum dari industri musik atas hal yang tidak pernah ia lakukan. Ditambah lagi, hatinya sangat terluka saat tahu Gyb sudah menikah dengan pria lain.  

h

Dalam keterpurukannya, Tong memilih untuk pulang ke rumah lamanya. Tanpa diduga-duga, Tong bertemu lagi dengan Gyb dan mereka kembali berbincang untuk pertama kalinya.

Melakukan kebiasaan-kebiasaan lama mereka, menuliskan pesan di struk. Hari itu juga Tong mengetahui, ternyata Gyb sudah bercerai dengan suaminya.

Bahkan untuk pertama kalinya Gyb mengutarakan isi hatinya, bahwa ia tidak pernah ingin berhenti bernyanyi. Hal ini membuat Tong merasa sangat bersalah, kenapa dulu ia tidak bisa memahami Gyb. Malam itu, Gyb dan Tong menghabiskan malam dan bernyanyi bersama seperti masa-masa muda mereka.

Sempat berpikir momen ini adalah awal baginya untuk bisa bersama lagi dengan Gyb, ternyata Tong lagi-lagi salah. Momen ini menjadi perpisahan mereka untuk kedua kalinya, karena Gyb susah memutuskan untuk pindah ke Amerika. Inikah garis finish dari kisah Tong?

Episode 9-10: Love Wins

Episode 9-10: Love Wins

Berbeda dari sebelumnya, kali ini Mew (Pat Chayanit) datang ke toko milih Hey bukan untuk mencari teman ngobrol atau mendengarkan cerita.

Wanita ini datang untuk menjual sebuah barang yang paling berarti untuk dirinya, yaitu cincin yang diberikan oleh Maew (Win Metawin). Cincin berbentuk cabang zaitun yang dibuat khusus oleh Maew, malah jadi salah satu barang yang paling menyakitinya.

a

“Faktor apa yang membuat dua orang saling mencintai? Untukku itu sangat simpel, karena cinta. Tapi seiring waktu aku sadar, ternyata cinta tidaklah cukup – Mew

Hari ini, Mew mengajak kekasihnya yang bernama Maew untuk bertemu dengan orang tuanya. Disana Maew merasa bingung dengan keadaan keluarga sang kekasih yang sangat heboh.

Hari itu adalah ulang tahun ayah Mew dan semua orang saling menunjukkan nilai dari hadiah yang diberikan masing-masing. Saat giliran Maew datang, ia mengeluarkan sebuah hadiah berupa pena yang harganya 1.800 bath.

Hal ini lantas membuat Maew menjadi sosok yang memenangkan ajang pemberian kado ini. Pasca melihat hal ini, Maew merasa bahwa ada banyak sekali perbedaan antara keluarganya dengan keluarga Mew. Hal ini membuat Maew berpikir, apakah keluarga mereka bisa bersatu dalam pernikahan seperti yang diinginkan oleh Mew?

b

Pikiran Mew juga mulai terganggu, saat mendengar ucapan sang kakak mengenai hubungan ini bukan hanya soal dirinya dan Maew. Gadis ini berpikir, apakah perkataan soal keluarga yang diutarakan oleh Maew benar-benar mempengaruhi hubungan mereka?

Di sisi lain, hubungannya dengan Maew memang jadi canggung dan dingin, semenjak pertemuan terakhir pasca ulang tahun ayah Mew. Mew mengakui, bahwa pertengkarannya dengan Maew kali ini terasa lebih serius dari pertengkaran yang biasa terjadi diantara mereka.

Setelah mendengar arti cinta dari sahabatnya, Maew akhirnya memantapkan dirinya untuk melamar Mew di hari kelulusan mereka. Hal ini membuat Mew sangat terharu, pasalnya pikiran gadis ini hanya berisikan akhir dari hubungan asmara mereka.

c

Hari itu Maew melingkarkan sebuah cincin yang ia desain dan buat sendiri khusus untuk Mew. Cincin ini mungkin murah, tapi inilah bukti cinta dan ketulusan Maew untuk wanita yang paling dicintainya itu.

Berpikir ini mereka sudah melewati masa-masa kritis, akhirnya Mew memahami apa yang dimaksudkan oleh kakaknya pasca pertemuan kedua keluarga.

Salah satu yang mencolok dalam pertemuan ini adalah bagaimana mereka meributkan soal biaya. Keluarga Mew yang kaya, memang tidak ada masalah dengan biaya pernikahan.

Sementara untuk ibu Maew yang seorang ibu tunggal, biaya menjadi konsern terbesarnya. Selain itu, ibu Maew mengutarakan bahwa ia tidak setuju jika putranya menikah setelah lulus.

d

Bahkan ia meminta agar Maew mengejar karir terlebih dahulu. Setelah perbincangan panjang, akhirnya kedua keluarga setuju untuk menahan pernikahan 7 tahun lagi.

Hal ini membuat Mew dan Maew merasa kecewa kepada keluarga masing-masing. Ibu Maew mengatakan, ia hanya khawatir apakah Mew adalah pilihan terakhir dan wanita satu-satunya untuk putranya.

Keduanya sadar, keputusan ini menjadi hal yang cukup beresiko dalam hubungan ini. Namun Maew meyakinkan, bahwa ia akan memenangkan pertarungan ini sesuai dengan janjinya pada Mew.

Karena cincin berbentuk cabang zaitun yang dikenakan Mew, memiliki arti kemenangan di Yunani. Tapi hal inilah yang terasa sulit bagi Mew, karena semenjak itu perbedaan diantara mereka semakin terlihat. 

e

Pertama, Mew merasa sang kekasih lebih memilih untuk menghabiskan waktunya dengan pekerjaan. Kedua, Mew mulai dihinggapi dengan rasa cemburu melihat kedekatan Maew dengan teman sekantornya.

Hal ini membuat hubungan keduanya terus saja berada dalam tensi tinggi. Kecemburuan tidak beralasan Mew membuat Maew lelah. Pasalnya, sang kekasih semakin lama semakin childish dan membuatnya tidak nyaman.

Setelah beberapa lama tidak saling berbicara, Mew akhirnya mau berbicara dengan Maew di hari terakhirnya bekerja di tempat yang sama dengan sang mantan kekasih. Hari itu, Mew memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Maew. 

f

Wanita ini merasa, bahwa dirinya bukanlah bagian terpenting dalam hidup Maew. Padahal bagi Maew, ia hanya ingin menunjukkan keseriusan dan penanggung jawab di kantor.

Lagi pula, semua usaha kerasnya ini semata-mata untuk membuatnya siap saat pernikahan datang. Namun bagi Mew, ia tidak pernah meminta Maew untuk menghidupinya. 

Ia hanya meminta waktu dan kepedulian Maew untuknya. Untuk pertama kalinya Maew mengatakan keluhannya pada Mew, ia mengatakan memang benar bahwa Mew adalah alasannya melakukan banyak hal. Ia lelah, karena Mew selalu memberikan berbagai tes dan membuat perkelahian hanya untuk membuktikan cintanya.

Ia merasa hubungan yang sudah berjalan delapan tahun ini, terasa sia-sia. Karena, setiap hari, setiap minggu hingga bulan, Mew selalu mempertanyakan cintanya. Mew akhirnya menyadari, ternyata hubungan ini terasa sangat melelahkan bagi Maew.

Sejak saat itu, cinta yang awalnya begitu berarti baginya, tiba-tiba menjadi hal yang sangat tidak berarti dalam waktu sekejap. Saling menjalani hidup masing-masing, ternyata Mew dan Maew tetap tidak bisa melupakan satu sama lain.

Di sisi lain, ternyata ibu Maew dan keluarga Mew sudah sangat dekat dibelakang anak-anak mereka. Hal ini membuat keduanya bingung, apalagi tidak ada yang tahu kalau hubungan mereka sudah benar-benar berakhir.

g

Perpisahan ini membuat keduanya kesulitan, pasalnya mereka sama-sama belum bisa move on. Setelah berpikir sangat panjang, untuk pertama kalinya Mew menghubungi Maew dan mengucapkan selamat ulang tahun untuk pria itu.

Bahkan mereka bertemu di kafe langganan mereka sejak lama. Pertemuan ini memang canggung, apalagi setelah Mew menolak untuk kembali bersama Maew.

Saat menghadiri teman kuliah mereka, pikiran Mew juga terbuka saat mendengarkan arti cinta dari kedua sahabatnya. Malam itu, Mew langsung bergegas ke toko barang antik milik Hey dan berniat membeli cincin cabang Zaitun miliknya.

Sayangnya, Mew sudah terlambat karena Hey telah menjual cincin itu pada seseorang. Apakah hal ini menjadi kekalahan bagi Mew dan Maew?

Tak Hanya Soal Arti dari Ikatan dan Hubungan

Tak Hanya Soal Arti dari Ikatan dan Hubungan

Bond and Relationship, menjadi pembuka yang sangat emosional dari drama Good Old Days (2022). Kisah yang dibintangi oleh Lee Thanat, Fah Yongwaree dan Tai Penpak ini memang sangat menyentuh.

Bukan soal perasaan takut sakit hati atau memahami arti dari ikatan dan hubungan. Tapi yang saya garis bawahi, drama menunjukkan apa yang terjadi ketika kamu kabur dari kenyataan?

Pada awalnya, saya berpikir Phu adalah pria yang rebel karena ia tidak percaya bahwa hubungan akan membuatnya bahagia. Tapi seiring berjalannya waktu, saya tahu bahwa masalah utama dalam hidup Phu bukanlah soal ia takut menjalin hubungan dan ikatan.

Tetapi pria ini sudah terbiasa lari dari kenyataan, sehingga ia memproteksi dirinya dengan cara menolak ikatan dan hubungan.

Melihat bagaimana Phu mengatasi masalah dalam hidupnya, ia terbiasa mengambil jalan singkat untuk menghindari masalah. Atau lebih tepatnya, ia memotong segala kemungkinan sebelum semuanya berubah menjadi ikatan atau hubungan.

Saya pikir episode “Bond and Relationship” ini sangat cocok untuk kamu yang takut merasa sakit hati.

Pasalnya, episode ini menunjukkan semakin kamu menghindar, maka perasaan itu akan semakin kuat mempengaruhimu. Tak hanya itu, apapun yang kamu lakukan untuk menghindari sebuah masalah yang tidak diinginkan.

Pada akhirnya bukan kamu yang mengendalikan segalanya, tapi kamu yang harus bisa menjalani dan mengatasi hal-hal yang tidak diinginkan tadi.

Baca juga: 8 Drama Terbaik yang Dibintangi Lee Thanat Lowkhunsombat

Pemilihan Cast yang Tepat dan Menggugah Perasaan

Pemilihan Cast yang Tepat dan Menggugah Perasaan

Selain mengenai jalan ceritanya, saya harus mengakui bahwa GMMTV telah memilih cast yang tepat untuk episode “Bond and Relationship” ini.

Ini bukan pertama kalinya saya melihat Lee Thanat berakting, tapi saya tetap jatuh cinta dengan penjiwaan karakternya. Lee Thanat berhasil menunjukkan keresahan dan bimbang dalam hati Phu dengan sangat baik.

Emosinya mengalir dengan sangat baik, hal ini terlihat jelas dari sorot mata hingga cara bicaranya. Ekspresi wajahnya yang terlihat canggung dan kaku, hal ini sangat sesuai dengan kepribadian Phu.

Tak hanya itu, ia juga berhasil membangun kemistri yang baik dengan Fah Yongwaree, Tai Penpak hingga Jane Ramida. Ketiga aktris wanita ini mengimbangi kebrilianan akting Lee Thanat dan menyuguhkan emosi yang luar biasa.

Sebagai aktris senior, tentu saja saya tidak akan mengomentari kehebatan akting dan penjiwaan karakter Tai Penpak. Ia benar-benar cocok memerankan karakter ibu tungga yang pekerja keras, tapi sangat lembut kepada putranya.

Tak hanya itu, adegan ketika Tai Penpak membuat video perpisahan untuk putranya benar-benar sangat mengharukan dan emosional.

Sementara untuk Fah Yongwaree, saya menyukai gaya wanita kota yang easy going dan to do point. Karakter ini awalnya terlihat canggung, tapi lama kelamaan saya mulai menikmati aktingnya.

Apalagi setiap kali Fah Yongwaree muncul di layar, ia selalu bisa mengikuti kebrilianan akting Lee Thanat. Bahkan kemistri keduanya terbangun dengan baik dan sangat enjoyable untuk ditonton.

Good Old Days (2022) memang menjadi judul yang sempurna untuk mewakili enam kisah yang diberikan oleh sutradara Ploy Pattaraporn Werasakwong. Tidak ada kisah yang tidak berarti, semuanya memiliki makna dan akan menyentuh hati para penontonnya.

Drama ini mungkin terlihat biasa saja, tapi berbagai nilai hidup diperlihatkan dengan sangat baik dan menusuk ke hati para penontonnya.

Premis dan Alur Ceritanya Terasa Kurang Menyentuh

Premis dan Alur Ceritanya Terasa Kurang Menyentuh

Memasuki episode ke tiga dan empat, kali ini para penonton disuguhkan dengan kisah dari Aye Sarunchana dan Tay Tawan.

Menjadikan roll kamera sebagai ide utamanya, bagi saya penulis Methus Sirinawin dan Kannika Tovaranonte kurang bisa mengeksekusinya dengan baik. Rasanya seperti ada yang kurang dari kisah yang terasa sangat panjang ini.

Berjudul “Memory of Happiness”, saya sendiri tidak menemukan memori indah yang benar-benar menyentuh dalam kisah ini.

Saya pikir para penulis ceritanya kurang memberikan background story yang pas ke setiap karakternya. Contohnya seperti hubungan antara Piang dan Jab. Bagi saya, “good memory” dalam hidup keduanya terasa kurang di eksplore.

Dibanding mengisahkan dua tahun yang lalu, alangkah baiknya membawa kisah ini ke masa-masa SMA Piang dan Jab. Saya pikir hal ini akan lebih menguatkan karakter Jab, seperti apa sih yang membuat pria ini menyukai Piang?

Lalu kapan sih Jab mulai menyukai Piang? Dan seberapa penting roll kamera tersebut bagi Jab? Pertanyaan-pertanyaan tadi tidak terjawab dalam alur yang ada.

Selain itu, saya merasa cerita yang disuguhkan dalam episode ini justru lebih condong ke hubungan ayah dan anak. Dimana hubungan mereka tidak ada sangkut pautnya dengan roll kamera milik Jab.

Sangat disayangkan, kisah yang disampaikan oleh Aye Sarunchana dan Tay Tawan terasa kurang sempurna. Padahal akting dari keduanya cukup memuaskan dan menjanjikan.

Tidak Ada Bonding Emosi yang Klop

Tidak Ada Bonding Emosi yang Klop

Seperti yang saya katakan sebelumnya, episode kali ini sepertinya memiliki alur yang kurang tepat sasaran. Hal ini berpengaruh pada kemistri dari para pemerannya yang bagi saya terasa kurang klop dan menyentuh.

Pertemuan Piang dengan Jab, seharusnya meninggalkan kisah cinta yang malu-malu, tapi hal ini tidak diperlihatkan. Alhasil, saya kurang bisa merasakan bonding perasaan dari keduanya. Alih-alih disebut cinta, bagi saya mereka hanya terlihat seperti sahabat atau kawan lama saja.

Bahkan agak aneh ketika Jab ternyata jatuh cinta pada Piang sejak lama, tapi tidak tahu apa yang membuatnya jatuh cinta. Inilah yang membuat akting keduanya terasa sia-sia, karena kemistri yang saya harapkan tidak ada.

Bisa dikatakan development karakter dari setiap karakter memang kurang kuat. Bahkan yang paling disayangkan, Toy Pathompong terasa seperti pemanis saja dalam episode ini.

Padahal kehadirannya bisa menjadi pancingan untuk mengembangkan karakter Jab. Cinta segitiga akan membuat kemistri dan romantisme dalam episode ini terasa lebih kuat.

Berdamai dengan Masa Lalu Itu Tidak Mudah

Berdamai dengan Masa Lalu Itu Tidak Mudah

Dari episode “Road to Regret” saya mendapatkan pesan, memang sulit untuk berdamai dengan masa lalu. Pesan inilah yang bisa kamu dapatkan saat melihat perjalanan hidup Kai, Got hingga Bomb.

Ketiganya belajar, bahwa satu-satunya masalah yang mereka hadapi adalah kesulitan mereka untuk berdamai. Mereka kesulitan untuk berdamai dengan diri sendiri, masa lalu dan masa sekarang.

Contoh terburuk dari orang yang tidak bisa berdamai dengan masa lalu adalah ibu dari Kai dan Got. Rasa bersalahnya karena tidak bisa berdamai dengan keluarganya, membuat wanita ini bertekad untuk membuat anak-anaknya tidak mengikuti jalannya.

Namun, cara yang digunakan malah tidak berbeda dengan apa yang dilakukan oleh kakaknya yang dianggapnya diktator dan berpikiran sempit. Terlebih lagi, ibu Kai dan Got tidak pernah bisa mengucapkan perasaan dan amarahnya langsung pada kakaknya.

Hanya sebuah surat yang mewakili perasaan yang selama ini dipendamnya. Surat itu juga yang menjadi satu-satunya kesempatan baginya, untuk meminta maaf kepada kedua anaknya. Episode ini memang dipenuhi dengan emosi dan begitu dekat dengan kenyataan banyak keluarga,

Episode ini mengajarkan, bahwa kamu tidak akan pernah lepas dari masa lalu jika terus berlari. Satu-satunya cara untuk bisa lepas dari masa lalu yang menyedihkan, adalah memaafkan dan menerimanya.

Memang tidak mudah untuk dilakukan, tapi akan lebih sulit jika kamu terus berlari dari masa lalu. Pasalnya, hal ini tidak hanya mempengaruhi hidupmu saja, tapi mempengaruhi orang disekitarmu juga.

Trio Road to Regret yang Menyentuh Hati Penonton

Trio Road to Regret yang Menyentuh Hati Penonton

Memiliki premis cerita yang mendalam, tidak hanya alur ceritanya saja yang berhasil membuat penonton tersentuh. Penampilan akting dari tiga pemeran utama dalam episode lima dan enam ini, berhasil membuat emosi penonton campur aduk. Sebut saja Namtan Tipnaree dan Joss Way-ar Sangngern yang berhasil membuat penonton greget dan emosi.

Pasangan ini selalu saja terlibat dalam pertengkaran yang tidak ada habisnya. Sudah terlihat jelas, bahwa keduanya adalah tipe yang egois dan mau menang sendiri.

Tapi untuk karakter Kai yang diperankan Namta, karakternya memang lebih emosional dibandingkan yang lainnya. Bisa dikatakan, masalah ini tidak akan melebar jika Kai mau berdamai dengan dirinya sendiri dan kenyataan.

Akting yang diberikan oleh Namta, memang berhasil bikin penonton emosi hingga merasa simpati. Kemistrinya bersama Joss Way-ar Sangngern juga bikin penonton percaya, kalau sebenarnya pasangan ini terlalu mencintai satu sama lain.

Di sisi lain Got atau Kay Lertsittichai adalah adik yang sebenarnya dilanda kebingungan dengan apa yang ingin dilakukannya.

Sepertinya Got tidak ingin mengambil keputusan yang salah dan berakhir sama seperti ibu dan kakaknya. Karakter ini, diperankan dengan sangat baik oleh Kay Lertsittichai.

Melihat raut wajahnya saja, penonton bisa merasakan ada banyak pikiran dan perasaan terpendam dalam diri Got. Meski karakternya tidak dieksplor seperti Kai, tapi dari sisi akting Kay memang tidak bisa dianggap remeh. 

Mengejar Impian Itu Memang Tidak Mudah

Mengejar Impian Itu Memang Tidak Mudah

Kisah dalam episode berjudul Our Soundtrack memang picisan yang cocok banget untuk para remaja. Salah satu pesan yang saya dapatkan saat menontonnya adalah soal mengejar impian itu ternyata tidak muda.

Memang benar, hanya orang-orang beruntung yang bisa mengejar impian mereka. Karena di luar sana, ada sebagian anak yang kesulitan untuk mengejar impian mereka.

Bukan karena malas, tapi ada juga yang harus merelakan impian karena tuntutan orang tua atau keadaan. Melihat usaha Tong yang terus berusaha mengejar impiannya menjadi musisi, memang bukan perkara yang mudah.

Bahkan saat mendapatkan kesuksesan pun, impian Tong bisa sirna karena ulah seseorang yang tidak bertanggung jawab. Namun saya lebih kasihan pada Gyb, pasalnya gadis ini harus mengerjakan apa yang tidak ia sukai.

Melepaskan impiannya menjadi penyanyi demi membantu biaya pengobatan ibunya adalah tindakan mulia. Namun hal ini juga membuat Gyb tidak bisa merasakan kebahagiaan yang diinginkannya. Bahkan, Gyb terlihat seperti pasrah dengan takdir hidupnya dan hanya mengikuti hidupnya saja.

Episode ini menunjukkan apa sih yang harus kamu lakukan saat dewasa. Di waktu ini, kamu harus bisa mengambil keputusan untuk setiap hal yang ingin kamu lakukan.

Di sisi lain, kamu juga harus bertanggung jawab dengan menjalani konsekuensi dari keputusan ini.  Meski menyebalkan, kamu harus bisa melewatinya jika ingin mendapatkan hasil terbaiknya. 

Akting Bright Vachirawit yang Semakin Menjanjikan

Akting Bright Vachirawit yang Semakin Menjanjikan

Setelah menonton episode tujuh dan delapan Good Old Days (2022) saya ingin memuji penampilan akting dari Bright Vachirawit. Membandingkan dengan penampilannya di F4 Thailand: Boys Before Flowers (2021), aktingnya di sini jauh lebih memuaskan.

Saya bisa merasakan, bahwa Bright berusaha keras untuk menunjukkan penjiwaan karakter terbaiknya di sini. Bermain dalam melodrama, Bright terlihat lebih bisa mengendalikan emosinya. Ia bisa mengendalikan dan menjiwai karakternya dengan sangat baik.

Makanya, penonton bisa merasakan bahwa sosok Tong ini adalah pria yang berusaha bangkit dari kesepian. Ia berusaha mengejar impiannya hanya untuk membuktikan kepada Gyb, bahwa impiannya itu bukan sebuah kesalahan.

Akting yang diberikan oleh Bright Vachirawit juga terlihat sangat-sangat enjoyable. Saya jarang sekali melihat Bright off character, ekspresi wajahnya yang terkesan murung membuat sosok Tong semakin menyentuh hati.

Kali ini, saya sangat terkesan dengan penampilan Bright Vachirawit sebagai Tong, karena terasa cukup perfect dan worth to watch.

Siapkah Kamu untuk Menikah?

Siapkah Kamu Untuk Menikah

Banyak berpikir kalau menikah itu hanya soal cinta dan pasangan saja. Tapi dari episode berjudul “Love Wins” kita bisa melihat, ternyata ada jalan panjang untuk menikah.

Salah satunya adalah soal kepercayaan yang sudah dianggap biasa oleh banyak pasangan. Ternyata, kepercayaan bisa jadi penyebab terjadinya penyatuan dan perpisahan dua insan.

Dalam Good Old Days (2022) episode sembilan dan sepuluh ini, penonton diperlihatkan bagaimana kompleksnya kisah cinta itu.

Ada kok pasangan yang siap secara finansial tapi tetap saja gagal untuk menuju pernikahan, hanya gara-gara kurangnya kepercayaan. Semua ini berawal dari perselisihan orang tua, hingga ketidak terbukaan dari masing-masing pasangan.

Episode ini mungkin bisa jadi gambaran bagi kamu yang berpikir kalau menikah hanya soal cinta saja. Seperti yang ditanyakan ibu Maew, apakah kamu yakin pasangan yang sekarang ini adalah pasangan terakhir mu?

Untuk menjawab hal ini, cinta saja tidaklah cukup. Pasalnya, selain cinta pondasi dari sebuah hubungan adalah kepercayaan dan komunikasi yang baik.

Akting Ciamik dari Pasangan Win dan Pat Chayanit

Akting Ciamik dari Pasangan Win dan Pat Chayanit

Tidak bisa dipungkiri, kalau kemistri antara Win Metawin dan Pat Chayanit terlihat sangat luar biasa. Pada awalnya, keduanya diperlihatkan seperti pasangan remaja yang sangat labil Tapi di episode Sembilan dan sepuluh, kedewasaan mereka diperlihatkan dengan sangat baik.

Perbedaan dari masing-masing karakter, membuat penonton semakin jatuh hati dengan pasangan ini. Untuk Win Metawin, karakter seperti Maew sepertinya bukanlah hal yang aneh lagi baginya. Karena kalau di pikir-pikir, karakter ini sangat mirip dengan karakternya di Devil Sister (2022).

Hanya saja, dalam drama ini Maew terlihat lebih pendiam dan sosok pria yang sangat tenang. Ia tidak pernah terburu-buru mengambil keputusan dan terkesan pasrah dengan keadaan.

Sementara untuk Pat Chayanit, saya menyukai pembawaan karakternya sebagai Mew. Sosok satu ini yang paling terlihat jelas perubahan karakternya.

Mew yang terlahir dari keluarga kaya, sebenarnya gadis yang sangat tulus. Tapi sikap childish dan emosionalnya memang terasa melelahkan. Penjiwaan karakter yang diberikan oleh Pat Chayanit memang bikin penonton gemas pada Mew.

cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram